SUKABUMIUPDATE.com - Ketergantungan panjang pada pupuk dan pestisida kimia perlahan meninggalkan jejak masalah di sektor pertanian. Kesuburan tanah menurun, serangan hama kian sulit dikendalikan, sementara iklim yang tak menentu membuat petani berada di posisi rentan. Namun di Kampung Cipari, Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, sekelompok petani justru memilih melawan arus.
Melalui praktik pertanian organik, Kelompok Tani Indonesia Wahana Agrikultur Natural (IWAN) membuktikan bahwa hasil panen tetap bisa melimpah tanpa harus mengandalkan bahan kimia. Pada musim tanam terbaru, mereka sukses memanen padi jenis Kebuli yang ditanam sepenuhnya menggunakan pupuk organik, dengan capaian produksi yang meningkat drastis.
Dari lahan seluas 1.000 meter persegi, hasil panen yang sebelumnya hanya berkisar 250 hingga 300 kilogram kini melonjak hingga 600 sampai 700 kilogram. Kenaikan tersebut nyaris dua kali lipat dibandingkan pola tanam konvensional yang selama ini mereka terapkan.
Baca Juga: Viral Video Harimau Jawa di Cipendeuy Sukabumi, Ini Kata BBKSDA Jabar
Perubahan metode tanam ini digerakkan oleh Gery Dwi Samudra (24 tahun), petani muda yang konsisten mengampanyekan pertanian ramah lingkungan. Ia menuturkan, penggunaan pupuk organik memberikan dampak langsung pada daya tahan tanaman padi. “Secara kualitas dan kuantitas jauh lebih baik. Yang paling terasa, tanaman jadi lebih kuat dan tidak mudah terserang hama dibandingkan saat masih pakai pupuk kimia,” ujarnya kepada Sukabumiupdate.com, Rabu (7/1/2025).
Tak hanya produktivitas yang meningkat, masa tanam pun menjadi lebih efisien. Gery menyebut, usia panen yang biasanya mencapai empat bulan kini bisa dipercepat menjadi sekitar 3 bulan 10 hari. “Meski kondisi cuaca hujan terus seperti sekarang, tanaman tetap tumbuh optimal dan kualitasnya terjaga,” tambahnya.
Pembina Kelompok Tani IWAN, Iwan Heryawan (63 tahun), menjelaskan bahwa pertanian organik bukan semata soal mengejar hasil panen. Menurutnya, pendekatan ini merupakan langkah strategis untuk memulihkan kondisi tanah yang telah lama terpapar bahan kimia sintetis. “Gunakan pupuk organik yang sudah tersertifikasi. Tanah kita harus dinaikkan kualitasnya, dari pH 5-6 ke level ideal 7-9. Ini bukan hanya soal panen hari ini, tapi soal masa depan pertanian,” tegasnya.
Baca Juga: Rusak Diterjang Banjir, Pelajar Terpaksa Meniti Jembatan Miring di Nyalindung Sukabumi
Ia juga mengungkapkan, pemulihan kesuburan tanah berdampak pada kembalinya keseimbangan ekosistem sawah. Sejumlah organisme seperti belut dan mikroorganisme tanah yang sempat menghilang kini mulai ditemukan kembali di lahan pertanian organik tersebut.
Selain dinilai lebih ramah lingkungan, padi Kebuli organik juga dianggap lebih aman untuk dikonsumsi karena terbebas dari residu kimia. Iwan pun mengapresiasi keterlibatan generasi muda yang mau terjun langsung ke sektor pertanian dan menjadi motor perubahan. “Intinya, pangan yang dihasilkan harus sehat. Ketahanan pangan adalah kekuatan negara. Kalau tanahnya sehat dan petaninya cerdas, pangan kita akan kuat,” pungkasnya.





