Biarawati Jajakan Takjil, Potret Toleransi Beragama Hangatkan Ramadan di Kota Sukabumi

Sukabumiupdate.com
Senin 23 Feb 2026, 20:12 WIB
Biarawati Jajakan Takjil, Potret Toleransi Beragama Hangatkan Ramadan di Kota Sukabumi

Dua biarawati melayani warga yang membeli takjil di depan Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi, Jalan Rumah Sakit, Kota Sukabumi, Senin (23/2/2026). (Sumber Foto: SU/Turangga Anom)

SUKABUMIUPDATE.com - Pemandangan tak biasa terlihat di Jalan Rumah Sakit, Kota Sukabumi, tepatnya di depan Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS), Senin (23/2/2026). Dua orang biarawati tampak berjualan aneka takjil seperti es buah dan kolak untuk melayani warga yang bersiap berbuka puasa.

Kehadiran para biarawati ini bukan sekadar berjualan. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi gambaran nyata toleransi beragama yang hidup dan tumbuh di ruang publik Kota Sukabumi, khususnya di bulan suci Ramadan.

Salah satu biarawati, Suster Maria Anastasia, menjelaskan bahwa kegiatan berjualan takjil ini telah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Kegiatan tersebut merupakan bentuk partisipasi mereka dalam menyambut dan menghormati Ramadan bersama masyarakat Muslim.

"Ide ini muncul karena kami bekerja sama dengan karyawan (SFS) kami yang Muslim. Kami ingin mengambil bagian dan berpartisipasi dalam momen Ramadan ini," ujar Suster Maria kepada sukabumiupdate.com.

Baca Juga: Saat Ulama dan Pendeta Duduk Bareng, Cicurug Sukabumi Tunjukan Hangatnya Toleransi

Menu yang dijajakan pun merupakan hasil diskusi hangat. Mereka bertanya kepada rekan kerja Muslim SFS mengenai hidangan apa yang paling lazim disantap saat berbuka.

"Jadi karyawan kami memberikan ide, es buah, kolak, bubur sumsum, dan makanan ringan lainnya, karyawan ikut mendukung kami juga,” jelasnya.

Meski antusiasme pembeli tinggi, mereka membatasi produksi hanya sekitar 15 porsi per hari dengan harga terjangkau, yakni Rp5.000 per porsi.

Respons masyarakat terhadap kehadiran para biarawati ini dinilai sangat positif. Menurut Suster Maria, pembeli bersikap ramah dan tidak mempermasalahkan latar belakang agama mereka.

"Masyarakat antusias membeli tanpa melihat latar belakang kami sebagai suster. Mereka tetap peduli, ramah saat menyapa, dan kami senang karena ada komunikasi yang terjalin," ungkapnya.

Baca Juga: Sejarah Masjid Agung dan Gereja Sidang Kristus yang Berdiri Berdampingan di Sukabumi

Melalui lapak takjil sederhana ini, Suster Maria menitipkan pesan persaudaraan untuk umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa.

“Kita sama sama berpuasa, kita saling mendukung dalam masa puasa kita. Meskipun proses puasa kita berbeda, tapi kita saling mendukung semangat untuk berpuasa, salah satu bentuk toleransi beragama,” tuturnya.

Kehangatan ini dirasakan langsung oleh Obet (47), warga Kecamatan Baros. Ia mengaku tergerak saat melihat para biarawati berjualan takjil. Baginya, perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk saling berbagi kebaikan.

"Saya lewat dan melihat mereka berjualan, rasanya positif sekali. Meskipun berbeda agama, toleransinya terasa kuat, apalagi di bulan Ramadan. Kita tidak perlu berprasangka buruk (suudzon)," kata Obet.

Selain karena nilai toleransinya, harga yang dipatok pun sangat terjangkau, yakni hanya Rp5.000 per porsi. "Murah harganya, saya beli dua untuk berbuka bersama keluarga," tutupnya.

Di tengah hiruk-pikuk penjual musiman, kehadiran dua biarawati di samping RSUD R. Syamsudin SH (RSUD Bunut) ini membuktikan bahwa perbedaan bukanlah jarak, melainkan jembatan. Di Kota Sukabumi, toleransi tidak sekadar dibicarakan—ia dijajakan, dibeli, dan dirasakan manisnya menjelang berbuka.

Berita Terkait
Berita Terkini