Oleh: Prof. Dede Rahmat Hidayat, M.Psi., Ph.D
Guru Besar Universitas Negeri Jakarta
Di tengah hiruk pikuk pembangunan Jawa Barat, Sukabumi kerap dipandang sebagai wilayah penyangga yang bersandar pada keindahan alam dan potensi sumber dayanya. Namun, dibalik panorama penggunungan dan hamparan sawah yang hijau, tersimpan ironi yang tak kunjung usai. Wilayah yang luas mencapai 4.164,15 km², merupakan terbesara di Jawa barat ini, masih bergulat dengan persoalan fundamental, yaitu akses pendidikan tinggi yang terbatas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2024, Tingkat pengangguran terbuka (TPT) kabupaten Sukabumi berada di angka 7,11persen, sementara persentase penduduk miskin pada tahun 2025 tercatat 6,26 persen. Angka ini bukan sekedar statistik, melainkan cerminan dari tantangan struktural yang berakar pada kesenjangan investasi sumber daya manusia. Ketika Bandung dan Bogor telah lama menjadi magnet Pendidikan dengan universitas negeri ternama (di Bandung : ITB, UNPAD, UPI, UIN SGD; di bogor IPB), Sukabumi dengan populasi sekitar 3,2 juta (Kabupaten : 2.889.139 dan Kota Sukabumi 373.189) jiwa masih menjadi “penonton” yang setiap tahunnya mengirim putra-putri terbaiknya merantau ke luar daerah.
Geliat penddikan tinggi di Sukabumi sejatinya tidak mati, Universitas Nusa Putra, Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), serta Universitas Linggabuana PGRI yang baru diresmikan pada tahun 2023, demikian juga berbagai institut agama Islam, antara lain IMC, Institut agama Islam Al Masthuriyah, Institut KH Ahmad Sanusi menunjukkan bahwa sektor swasta telah bergerak menjawab kebutuhan Masyarakat. Namun kehadiran perguruan tinggi swasta (PTS) tidak serta merta menghapus kebutuhan mendesak akan hadirnya Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Mengapa demikian? Karena PTN memiliki mandat konstitusional yang berbeda, menyediakan pendidikan berkualitas dengan biaya terjangkau, menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan menjadi lokomotif pengembangan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada kepentingan publik.
Tulisan ini berusaha menguraikan alasan mengapa pendirian PTN di Sukabumi (Kota dan kabupaten) bukan hanya berhenti di wacana, tetapi sebuah urgensi yang didasari oleh analisis geografis, demografis, sosial dan ekonomi. Lebih dari itu tulisan ini akan memaparkan benefit strategis yang akan lahir dari keberadaan universitas negeri; baik bagi Masyarakat Sukabumi maupun bagi pencapaian target Pembangunan nasional.
Analisis geografis: luas wilayah dan ketimpangan akses
Kabupaten Sukabumi memiliki luas wilayah 4.164,15 km² atau setara dengan 11, 24 persen dari total luas provinsi Jawa Barat. Angka ini menjadikan Kabupaten Sukabumi terluas di provinsi Jawa Barat, bajlan lebih dari beberapa provinsi di Indonesia Timur. Secara administratif wilayah ini terbagi menjadi 47 kecamatan, 381 desa dan hanya 5 kelurahan. Kondisi geografisnya bervariasi; dataran tinggi di Kawasan Utara yang berbatasan dengan Bogor dan CIanjur dan Kawasan Selatan yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia.
Luasnya wilayah ini seharusnya menjadi berkah, tetapi tanpa infrastruktur pendidikan yang memadai, justru menjadi beban aksesibilitas. Bayangkan seorang lulusan SMA dari kecamatan Tegal Buleud atau kecamatan Cikakak harus menemuk perjalanan berjam-jam jika ingin mengunjungi kampus di Kota Sukabumi atau Cibadak apalagi jika ingin melanjutkan pendidikan ke PTN yang ada di Bandung atau di Bogor.
Pola pertumbuhan yang timpang
Studi tentang identifikasi pertumbuhan di wilayah calon Kabupaten Sukabumi Utara mengungkapkan baha hierarki fasilitas tertinggi hanya terkonsentrasi di empat kecamatan, yaitu Cicurug, Sukaraja, Cisaat dan Cibadak. Keempat wilayah ini menjadi pusat layanan karena kelengkapan infastruktur dan aksesibilitasnya. Sementara 43 kecamatan lainnya, terutama di wilayah Selatan dan Tengah berada dalam posisi hinterland yang bergantung pada pusat-pusat tersebut.
Dalam konteks pendidikan tinggi, konsentrasi ini menciptkan ketimpangan spasial yang kronis. Kecamatan-kecamatan seperti CIkakak, Gegerbitung atau wilayah-wilayah pesisir Selatan praktis tidak memiliki akses terhadap Pendidikan tinggi. Penduduk di wilayah tersebut harus melakukan mobilitas ke pusat kecamatan atau ke Kota Sukabumi yang bisa memakan waktu 4-5 jam perjalanan darat.
Pendirian PTN di lokasi strategis, misalnya di wilayah Tengah atau Selatan Sukabumi akan menciptakan pusat pertumbuhan baru yang mendekatkan layanan Pendidikan kepada masyarakat. Ini sejalan dengan teori Growth Pole yang dikemukakan oleh Francois Perroux, bahwa Pembangunan dapat dimulai dari pusat-pusat pertumbuhan yang kemudian menyebar ke wilayah sekitarnya (spread effect). Universitas negeri tidak hanya akan menjadi institusi Pendidikan, tetapi juga menjadi simpul aktivitas ekonomi dan sosial yang menggerakkan wilayah sekitarnya.
Analisis Demografis : Bonus demografi yang terancam terlewat
Dengan populasi yang mencapai 3,2 juta jiwa, Sukabumi (kota dan Kabupaten) merupakan salah satu wilayah terpadat di Jawa Barat. Komposisi penduduknya didominasi oleh usia muda, sebuah bonus demografi yang juga dikelola dengan baik akan menjadi lokomotif Pembangunan. Namun data menunjukkan adanya masalah serius pada daya tampung pendidikan tinggi.
Angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi di Kota Sukabumi tercatat 31, 25 lebih rendah dibandingkan Kabupaten Bogor. Meskipun data spesifik untuk Kabupaten Sukabumi tidak tersedia dalam publikasi terbaru, indikator seperti persentase penduduk miskin (6,25 %) dan Tingkat pengangguran (7,11 %) mengindikasikan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi masih menjadi tantangan besar.
Ketua PB PGRI, Unifah Rosyidi pernah menyatakan bahwa daya serap mahasiswa di perguruan tinggi Sukabumi berkisar antara 25 – 30 persen. Artinya dari setiap 100 lulusan SMA/sederajat, hanya ada 25-30 orang yang dapat melanjutkan Pendidikan ke perguruan tinggi. Sisanya? Mereka harus memilih antara bekerja dengan bekal pendidikan menengah, atau tidak bekerja sama sekali, ini sebuah kondisi yang kontributif terhadap angka pengangguran.
Fenomena “Migrasi Pendidikan”
Ketiadaan PTN di Sukabumi memicu fenomena migrasi pendidikan besar-besaran. Setiap tahun ribuan lulusan SMA terbaik dari Sukabumi berbondong-bondong meninggalkan daerahnya untuk kuliah di Bandung, Bogor, Jakarta atau Yogyakarta. Fenomena ini di satu sisi menunjukkan tingginya motivasi masyarakat untuk melanjutkan pendidikan, namun di sisi lain menimbulkan biaya sosial ekonomi yang tidak sedikit.
Bagi keluarga menengah ke bawah, ongkos migrasi ini sangat memberatkan. Biaya hidup di kota perantauan, sewa kos, transportasi dan uang kuliah menjadi beban yang memiskinkan. Tidak jarang, potensi anak-anak terpaksa tidak berkembang karena keterbatasan biaya untuk merantau. Jika di Sukabumi terdapat PTN, biaya Pendidikan akan jauh sangat murah karena mahasiswa dapat tinggal bersama orang tua atau setidaknya tidak perlu mengeluarkan biaya hidup sebesar di kota besar.
Analisis sosial : Pendidikan sebagai mobilitas vertikal
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Sukabumi berdasarkan data dari BPS berada di angkat 67,05 pada tahun 2022, menempatkannya di peringkat 24 dari 27 Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Ini adalah peringkat yang memprihatinkan untuk yang wilayah yang secara geografis dengan dengan Jakarta. Rendahnya IPM ini tidak terlepas dari komponen Pendidikan yang menjadi salah satu indikator penyusunannya.
Pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam mobilitas vertikal Masyarakat. Seseorang yang menyelesaikan Pendidikan tinggi memiliki peluang lebih untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah yang layak, keluar dari garis kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup keluarganya. Ketika akses Pendidikan tinggi terbatas, maka siklus kemiskinan antargenerasi sulit terputus.
Peran perguruan tinggi dalam pembentukan karakter bangsa
Di luar aspek ekonomi, perguruan tinggi juga berfungsi sebagai agent of social change. Mahasiswa dididik untuk berpikir kritis, memiliki kepedulian sosial, dan berkontribusi pada pemecahan masalah dalam Masyarakat. Kehadiran PTN di Sukabumi akan menciptakan ekosistem intelektual yang saat ini masih sangat terbatas.
Universitas-universitas swasta yang ada, seperti Nusa Putra, UMMI dan LInggabuana telah berupaya menjalankan fungsi ini dengan baik. Namun, mereka memiliki keterbatasan dalam pendanaan riset, pengembangan program studi langka dan akses terhadap kebijakan pemerintah pusat. PTN hadir dengan mandat publik yang lebih kuat : ini tidak hanya melayani mereka yang mampu membayar, tetapi juga untuk mereka yang tidak mampu, dapat melalui jalur afirmasi seperti KIP kuliah dan bidik misi.
Lebih jauh lagi, PTN dapat menjadi ruang dialog dan perumusan solusi atas problematika sosial yang dihadapi Masyarakat Sukabumi, mulai dari kemiskinan, stunting, degredasi lingkungan, hingga konflik sosial. Dengan tradisi akademik yang mapan, PTN dapat menjembatani antara pengetahuan teoritis dengan kebutuhan riil Masyarakat.
Analisis ekonomi : Biaya, manfaat dan multiplier Effect
Kontribusi ekonomi yang masih minim
Dalam perspektif ekonomi makro, kontribusi Kabupaten Sukabumi terhadap produk domestic Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat hanya sekitar 3,16 persen. Angka ini kecil jika dibandingkan luas wilayah dan jumlah penduduknya. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sukabumi pada triwulan III 2025 tercatat 3,98 persen, sementara data tahunan 2023 menunjukkan angkat 5,48 persen.
Struktur ekonomi Sukabumi masih didominasi oleh sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan diikuti oleh sektor industri pengolahan dan perdagangan. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Sukabumi belum bertransformasi menuju sektor-sektor dengan nilai tambah tinggi yang membutuhkan tenaga kerja terdidik.
Kesenjangan antara kebutuhan dunia usaha dan kualitas SDM
Dunia usaha dan industri di Sukabumi yang terus berkembang terutama di Kawasan utara, seperti Cibadak dan Cicurug, membutuhkan tenaga keja denga kualifikasi tertentu. Namun, karena terbatasnya akses Pendidikan tinggi, banyak perusahaan yang terpaksa mendatangkan tanaga kerja dari luar daerah atau merekrut lulusan SMA yang kemudian harus dilatih ulang dengan biaya besar.
Pendirian PTN akan menjembatani kesenjangan ini. Dengan program studi yang dirancang sesuai dengan potensi dan kebutuhan lokal, misalnya Teknik industri untuk manufaktur, Agribisnis untuk sektor pertanian atau pariwisata bahari untuk wilayah Selatan. PTN dapat menghasilkan lulusan yang siap kerja sesuai dengan permintaan pasar. Ini akan meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi daerah.
Multiplier effect keberadaan kampus
Keberadaan universitas negeri tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian lokal. Sebuah studi tentang rencana penegerian Universitas Samawa (Unsa) di Sumbawa menunjukkan bahwa kehadiran PTN akan mendorong tumbuhnya ekonomi lokal, mulai dari sektor properti (perumahan dan kost) transportasi, rumah makan, percetakan hingga industri kreatif lainnya. Tentu juga kita bisa lihat bagaimana Depok berkembang sangat pesat setelah UI pindah domisili dari Jakarta ke Depok, serta jatinangor sebuah kecamatan kecil di Sumedang berkembang setelah UNPAD, ITB, IPDN hadir di sana.
Gambaran sederhananya, ribuan mahasiswa yang datang dari berbagai kecamatan akan membutuhkan tempat tinggal, makanan, transportasi dan kebutuhan kuliah lainnya. Ini merupakan pasar potensial yang akan menggerakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di sekitar kampus. Belum lagi belanja operasional kampus, gaji dosen dan tenaga kependidikan serta kegiatan penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat yang melibatkan warga sekitar.
Benefit strategis pendirian PTN di Sukabumi
Setelah menganalisis kondisi geografis, demografis, sosial dan ekonomi, dapat disimpulkan bahwa pendirian PTN di Sukabumi akan memberikan setidaknya lima benefit (keuntungan) strategis, yaitu
1. Perluasan akses dan keadilan pendidikan
Benefit paling mendasar adalah perluasan akses bagi Masyarakat sukabumi untuk menikmati pendidikan tinggi berkualitas dengan biaya terjangkau. PTN memiliki mekanisme subsidi silang melalui Uang Kuliah Tunggal (UKT) berlapis, di mana mahasiswa dari keluarga mampu membayar lebih mahal untuk mensubsidi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Ditambah dengan kuota khusus melalui jalur afirmasi (KIP Kuliah, afirmasi daerah tertinggal, afirmasi penyandang disabilitas), PTN menjadi instrument paling efektif untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pendidikan.
2. Mendorong pertumbuhan ekonomi Kawasan
Sebagaimana diilustrasikan dalam analisis ekonomi, keberadaan kampus akan menciptakan aktivitas ekonomi baru. Studi tentang rencana penegerian Unsa di Sumbawa menegaskan bahwa dampak PTN akan berlapis : dari tumbuhnya ekonomi lokal, meningkatnya riset berbasis potensi daerah hingga tersedianya lapangan kerja baru bagi akademisi, tenaga Pendidikan. Kondisi serupa akan dapat dirasakan oleh Sukabumi.
Kawasan sekitar kampus akan berkembang menjadi pertumbuhan ekonomi baru. Harga tanah akan meningkat, investasi properti akan menggeliat dan sektor jasa akan tumbuh pesat. Ini akan menciptakan lapangan kerja tidak hanya bagi lulusan universitas tetapi juga bagi masyarakat umum.
3. Pengembangan Riset unggulan berbasis potensi lokal
Sukabumi memiliki sumber daya alam yang sangat luar bisa : sektor pertanian yang kuat, perikanan tangkap dan budidaya di Selatan, potensi geothermal, kehutanan serta pariwisata alam dan bahari. Selama ini, potensi tersebut belum dikembangkan secara optimal kerena minimnya riset dan inovasi.
PTN dapat menjadi pusat riset dan inovasi yang mengembangkan komoditas unggulan daerah. Seperti halnya Unsa yang memiliki keunggulan riset di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan di Sumbawa, PTN di Sukabumi bisa menjadi center of excellent bagi pengembangan komoditas seperti padi, palawija, perikanan tangkap, atau pariwisata berkelanjutan. Riset-riset tidak hanya akan dipublikasikan, tetapi juga diimplementasikan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat.
4. Pemeratan Pembangunan dan penguranagan ketimpangan wilayah
Dalam perspektif tata ruang, pendirian PTN di lokasi yang tepat, misalnya wilayah Tengah atau Selatan Sukabumi akan menjadi katalis pemerataan pembangunan. Selama ini pembangunan terkonsentrasi di utara (Cibadak dan Cicurug) dan sekitar kota Sukabumi. Wilayah Selatan yang memiliki potensi besar justru tertinggal.
Dengan adanya PTN, pemerintah dapat mengarahkan investasi infrastruktur pendukung ke wilayah tersebut. Jalan diperbaiki, jaringan Listrik dan internet ditingkatkan dan fasilitas publik dibangun. Ini akan mengurangi ketimpangan antar wilayah yang selama ini menjadi masalah struktural.
5. Menekan laju urbanisasi ke kota-kota besar
Fenomena migrasi pendidikan yang disebutkan sebelumnya berkontribusi pada laju urbanisasi yang tidak terkendali. Bandung dan Jakarta terus dibanjiri pendatang dari berbagai daerah, termasuk Sukabumi, yang menyebabkan berbagai masalah perkotaan seperti kemacetan, kepadatan pemukiman kumuh dan persaingan kerja yang semakin ketat.
Dengan adanya PTN di Sukabumi, sebagian besar lulusan SMA dapat melanjutkan studi di daerahnya sendiri. Ini akan menekan laju urbanisasi dan memungkinkan mereka untuk tetap berkontribusi pada pembangunan daerah asalnya. Setelah lulus, mereka lebih mungkin untuk bekerja dan membangun karier di Sukabumi, sehingga talenta lokal terbaik tidak terus menerus terkuras ke luar daerah.
Penutup : Momentum yang tepat untuk bertindak
Pendirian perguruan tinggi (universitas) negeri di Sukabumi sepatutnya bukan sekedar wacana populis, tetapi kebutuhan mendesak yang didasari oleh data dan analisis komprehensif. Secara geografis, luas wilayah dan ketimpangan akses menuntut hadirnya simpul-simpul layanan Pendidikan baru. Secara demografis, bonus demografi 3,2 juta jiwa harus dikelola melalui investasi Pendidikan yang memadai. Secara sosial, PTN menjadi instrumen mobilitas vertikal dan pembentukan masyarakat kritis. Secara ekonomi, ini akan menciptakan multiplier effect dan menjawab kebutuhan dunia usaha.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten/kota Sukabumi perlu bergerak cepat. Pengalaman di daerah lain, seperti perjuangan penegerian Unsa di Sumbawa yang telah berlangsung 15 tahun, menunjukkan bahwa proses ini membutuhkan waktu, konsistensi, dan sinergi antarpemangku kepentingan. Pemerintah daerah harus mulai mempersiapkan berbagai prasyarat : Lahan, sumber daya dosen, dan dukungan regulasi.
Dukungan Masyarakat dan dunia usia juga sangat diperlukan. Kesadaran bahwa Pendidikan tinggi adalah investasi jangka panjang, bukan beban anggaran, harus terus disosialisasikan. Apabila semua elemen bergerak bersama, bukan tidak mungkin dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan, Sukabumi akan memiliki universitas kebanggaan masyarakat Bumi Marhamah.
Pada akhirnya, mendirikan PTN di Sukabumi berarti membangun peradaban, seperti halnya universitas-universitas negeri di berbagai daerah yang telah melahirkan pemimpin, innovator dan penggerak perubahan. Sukabumi pun berhak atas mimpi yang sama, Kini saatnya mewujudkan mimpi tersebut menjadi kenyataan.
Prof. Dede Rahmat Hidayat, M.Psi., Ph.D.





