SUKABUMIUPDATE.com - Sebuah video memperlihatkan perjuangan bertaruh nyawa para pelajar yang mencoba menyeberangi sisa-sisa Jembatan Nangerang Kabupaten Sukabumi yang rusak berat beredar di media sosial Facebook. Dalam visual tersebut, para siswa berseragam olahraga biru tampak harus ekstra hati-hati meniti jembatan kayu yang posisinya sudah miring tajam dan nyaris menyentuh dasar sungai.
Jembatan yang melintasi Sungai Citalahab di Kampung Karikil, Kecamatan Nyalindung ini putus total setelah diterjang banjir bandang pada 28 Desember 2025 lalu. Hingga Rabu (7/1/2026), kondisi jembatan masih dibiarkan rusak berat tanpa penanganan permanen, sehingga memaksa warga dan pelajar menggunakan akses darurat yang sangat berisiko.
Salah seorang warga, Cece Wahyudin, mengonfirmasi bahwa aktivitas warga saat ini benar-benar lumpuh. Jembatan ini merupakan urat nadi penghubung Kampung Nangerang, Desa Bojongkalong, dengan Kampung Karikil, Desa Bojongsari.
“Jembatan Nangerang ini akses utama warga, terutama anak-anak sekolah. Setelah putus, warga sangat kesulitan untuk beraktivitas, baik ke sekolah maupun bekerja. Kami berharap pemerintah segera membantu perbaikannya,” ujar Cece kepada sukabumiupdate.com, Rabu (7/1/2026).
Baca Juga: Potret Infrastruktur di Pedesaan Sukabumi: Orang Sakit Ditandu Hingga Protes Warga
Untuk sementara, warga hanya mengandalkan jembatan kecil darurat yang dibuat secara swadaya. Jembatan tersebut hanya bisa dilalui pejalan kaki. Setelah menyeberang, warga harus berjalan menyusuri bantaran sungai yang saat tidak hujan hanya berupa bebatuan, lalu menaiki sengkedan (jalan setapak bertingkat) darurat menuju permukiman.
Bagi siswa dari Kampung Karikil yang bersekolah di SD Bojongkalong, MTs, hingga MA Nurohman, mereka tidak punya pilihan lain selain menyeberangi jembatan miring tersebut atau turun ke sungai dan menempuh perjalanan kaki tambahan sekitar 15–20 menit menyusuri tepian sungai yang terjal.
Menanggapi kondisi tersebut, Kasipem Kecamatan Nyalindung sekaligus Sekretaris Tim Satgas Penanganan Bencana Kecamatan, Pupung Budiawan, menjelaskan bahwa jembatan sepanjang 30 meter tersebut berstatus jalan lingkungan yang berada di bawah kewenangan pembangunan desa.
“Penanganan sementara saat ini dibuatkan jembatan kecil yang hanya bisa dilewati pejalan kaki. Untuk penanganan ke depan, diperlukan rehabilitasi kerusakan sekitar 50 persen, di antaranya setengah kayu pijakan terbawa arus dan besi pangkal penahan gantungan roboh,” jelas Pupung.
Baca Juga: Gotong Royong Bangun Jembatan Darurat Pasca Bencana di Bojongsari Nyalindung Sukabumi
Pupung menambahkan, bantuan logistik telah disalurkan dari berbagai pihak, antara lain BPBD, Dinas Sosial, DLH, PMI Kabupaten, PGRI Kecamatan, Kwarran Pramuka Kecamatan, warga Desa Mekarsari, anggota dewan, relawan SEHATI, OKP, donatur, serta masyarakat umum.
Namun demikian, bantuan tersebut dinilai masih belum mencukupi, mengingat selain warga terdampak, terdapat pula warga yang terancam dan sementara mengungsi, sehingga aktivitas ekonomi dan pekerjaan warga belum dapat berjalan normal.
Untuk jembatan kabupaten yang terdampak banjir bandang, Pupung menyebutkan beberapa perkembangan penanganan, di antaranya:
- Jembatan Citalahab Desa Bojongsari, penghubung Desa Bojongkalong dan Desa Bojongsari, kini sudah kembali bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat berkat upaya bersama BPBD, PU Kabupaten, kecamatan, Polsek, Koramil, pemerintah desa, OKP, relawan, dan masyarakat.
- Jembatan Cicadas Desa Sukamaju, penghubung Desa Bojongsari dan Desa Sukamaju, saat ini masih dalam penanganan dengan dibuatkan jembatan kayu sementara agar bisa kembali dilalui kendaraan roda empat.
- Jembatan Cidage, penghubung Desa Sukamaju dan Desa Wangureja, juga masih dalam proses perbaikan dengan penyambungan kembali bahu jembatan yang putus menggunakan bronjong. Ditargetkan jembatan sementara ini dapat selesai dalam 3–4 hari ke depan.
Bantuan material untuk penanganan jembatan-jembatan tersebut telah tersedia dari Dinas PU, BPBD, dan pihak terkait lainnya.
Warga berharap pemerintah dapat segera merealisasikan perbaikan permanen, khususnya untuk jembatan Nangerang, agar aktivitas masyarakat dan pendidikan anak-anak dapat kembali berjalan normal.





