SUKABUMIUPDATE.com - Di tengah upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, pasar kerja Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah. Harapan akan tersedianya lapangan pekerjaan yang layak bagi lulusan perguruan tinggi kerap berbenturan dengan realitas di lapangan.
Kondisi inilah yang kemudian tercermin dalam sebuah studi terbaru yang ditulis oleh Muhammad Hanri, Ph.D. dan Nia Kurnia Sholihah, M.E., mengulas fenomena pekerja putus asa di Indonesia. Dimana sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam Labor Market Brief Volume 6, Edisi 11 (November 2025) oleh LPEM FEB UI, menunjukkan bahwa sekitar 45.000 lulusan sarjana dan lebih dari 6.000 orang dengan gelar master dan doktor telah menjadi pekerja yang putus asa.
Fenomena penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari pekerjaan karena putus asa kembali muncul. Dimana isu ini sangat penting dalam membaca kesehatan pasar kerja di Indonesia.
Baca Juga: Cuaca Jabar 9 Januari 2026, Sukabumi Waspada Hujan Sedang hingga Lebat
Berbagai alasan dikemukakan, mulai dari anggapan bahwa kesempatan kerja sudah tidak tersedia, pengalaman kerja yang dinilai kurang memadai, keterampilan yang tidak selaras dengan kebutuhan pasar, hingga pandangan bahwa faktor usia menjadi hambatan tidak menguntungkan di mata pemberi kerja.
Dalam kajian internasional, organisasi seperti ILO dan Bank Dunia memandang kelompok pekerja putus asa sebagai indikator awal melemahnya keseimbangan antara permintaan dan penawaran tenaga kerja.
Oleh karena itu, fenomena penduduk yang putus asa dalam mencari pekerjaan patut dipandang sebagai sinyal penting bagi perumusan kebijakan.
Ilustrasi Banyak Sarjana Menganggur di Indonesia. | Pixabay.com.
Dimana studi ini menyoroti beberapa poin penting terkait fenomena pekerja putus asa di Indonesia:
Peningkatan Jumlah Pekerja Putus Asa: Jumlah penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa meningkat sekitar 11 persen, dari 1,68 juta orang pada Februari 2024 menjadi 1,87 juta orang pada Februari 2025.
Meskipun proporsinya kecil terhadap total penduduk usia kerja, kelompok ini merupakan bagian dari labour underutilization dan mengindikasikan adanya hambatan struktural di pasar kerja.
Distribusi Berdasarkan Tingkat Pendidikan:
- Data Februari 2025, Lebih dari separuh kelompok putus asa berasal dari penduduk dengan pendidikan SD atau tidak tamat SD.
- Lulusan SMP dan SMA masing-masing menyumbang sekitar 20% dan 17%.
- Lulusan SMK menyumbang 8%, menunjukkan kesenjangan antara kurikulum vokasional dan kebutuhan tenaga kerja siap masuk industri.
- Meskipun lulusan pendidikan tinggi menyumbang porsi kecil, keberadaan 45.000 lulusan S1 dan lebih dari 6.000 lulusan pascasarjana yang putus asa menunjukkan bahwa janji mobilitas naik dari pendidikan tinggi tidak selalu terwujud.
Kelompok lulusan pendidikan tinggi biasanya menghadapi hambatan yang berbeda, misalnya harapan upah yang tidak terpenuhi, mismatch antara bidang studi dan peluang kerja, serta persepsi diskriminasi usia bagi lulusan yang baru memasuki pasar kerja di usia yang lebih matang.





