SUKABUMIUPDATE.com – Warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, mengeluhkan kondisi infrastruktur di wilayahnya yang dinilai belum mendapat perhatian serius. Selain jalan desa yang banyak mengalami kerusakan, juga belum diperbaikinya jembatan Leuwi Dinding yang menjadi akses vital penghubung antarwilayah.
Sementara di sisi lain, di wilayah tersebut, beroperasi perusahaan pertambangan kars Gunung Guha untuk bahan baku semen, dan telah berlangsung selama bertahun-tahun. Hal tersebut menjadi ironi tersendiri bagi potret desa dan kehidupan warga.
Jembatan Leuwi Dinding akses vital warga
Jembatan gantung sepanjang 48 meter dengan lebar 1,2 meter itu putus akibat cuaca ekstrem pada Minggu, 28 Desember 2025 sekitar pukul 22.20 WIB. Meluapnya Sungai Cimandiri saat hujan deras menyebabkan jembatan tersebut tidak dapat digunakan hingga kini.
Jembatan itu merupakan jalur penghubung penting antara Dusun Leuwi Dinding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, dengan Desa Parakan Lima, Kecamatan Cikembar, serta Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh.
Baca Juga: Sudah Tiga Kali Kejadian: Pencurian di Sundawenang Masuk Lewat Atap
Salah seorang warga, Hamiman Juanda (37), mengatakan hingga saat ini belum ada tanda-tanda pembangunan kembali jembatan tersebut. “Sudah lama putus, tapi sampai sekarang belum ada proses pembangunan. Untuk menyeberang, warga masih mengandalkan perahu karet milik BPBD,” ujar Hamiman kepada sukabumiupdate.com, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, putusnya jembatan membuat aktivitas warga menjadi jauh lebih sulit. Warga Dusun Leuwi Dinding yang hendak bekerja, sekolah, maupun beraktivitas ekonomi lainnya harus memutar melalui Kampung Cijambe dan kawasan pabrik SCG dengan jarak tempuh sekitar 6 kilometer.
“Bagi kami, Leuwi Dinding dan Gunung Guha itu sumber kehidupan. Tapi sekarang kondisinya terancam dengan adanya pertambangan. Sebagai bentuk sosial dari perusahaan, kami menilai masih sangat minim,” katanya.
Hamiman menambahkan, kontribusi sosial perusahaan yang dirasakan warga sejauh ini hanya sebatas pembangunan sumur bor dari program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. “Kalau CSR dari SCG ada berupa sumur bor, tapi untuk kebutuhan besar seperti akses jembatan belum ada,” tambahnya.
Sementara itu, warga lainnya menyebut aktivitas pertambangan PT Tambang Semen Sukabumi (TSS), perusahaan tambang yang bermitra dengan PT SCG di Gunung Guha, sudah berlangsung sekitar 15 tahun.
Ia mengatakan proses penambangan dilakukan menggunakan metode peledakan atau blasting yang dinilai turut berdampak terhadap kondisi lingkungan sekitar.
“Sudah sekitar 15 tahun aktivitas pertambangan di Gunung Guha berjalan, dan menggunakan sistem peledakan atau blasting,” ungkapnya.
Baca Juga: Sering Hisap Bensin di Parkiran Swalayan, Anak 11 Tahun di Sukabumi Segera Direhabilitasi
Warga berharap keberadaan industri pertambangan di wilayah mereka tidak hanya mengeksploitasi alam, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Mereka menilai akses vital seperti Jembatan Leuwi Dinding harus menjadi prioritas utama, selain perbaikan jalan desa yang hingga kini masih banyak mengalami kerusakan. “Jangan sampai warga harus udunan membeli semen sendiri hanya untuk tambal sulam jalan yang bolong,” pungkasnya.






