*KDMP: Bagaimana Prabowo Merusak Koperasi*
Negara bisa diharapkan punya peran penting dalam membangun ekosistem koperasi. Tapi, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) adalah contoh bagaimana negara justru merusak koperasi.
Pilar koperasi sejati itu sangat mulia dan patut diperjuangkan:
1. Sukarela dan inklusif.
2. Kontrol demokratis anggota.
3. Mementingkan partisipasi ekonomi anggota, bukan modal dari luar.
4. Berwatak otonom/mandiri/self-help (kerjasama untuk membantu diri sendiri).
5. Menjadi learning organization tempat para anggota meningkatkan modal sosial (ketrampilan berorganisasi dan berserikat, ketrampilan teknis).
6. Mampu menjahit kerjasama antar koperasi.
7. Memperkuat komunitas di akar rumput: solidaritas sosial, kesadaran politik, kepedulian lingkungan.
Tapi, tidak ada satupun nikai dan prinsip tadi yang ada dalam KDMP, baik dalam tujuan/motif maupun dalam teknis operasionalnya.
KDMP berlawanan dengan itu semua; meruntuhkan koperasi dari fondasinya.
KDMP mengorbankan koperasi demi memenuhi obsesi presiden untuk memamerkan pertumbuhan ekonomi. Ini kapitalisme negara yang, alih-alih mendorong pemerataan ekonomi dan memperkuat kewirausahaan, justru memicu ketimpangan, ketidak-adilan dan ketergantungan.
Baca Juga: Cara Leluhur Sunda Dulu Mengolah dan Menyimpan Daging Sebelum Ada Kulkas
Presiden Prabowo menggenjot belanja/pengeluaran negara lewat Progam KDMP dan MBG: membangun dapur makan dan gerai retail sebanyak dan secepat mungkin demi mengejar mimpi pertumbuhan ekonomi 8%.
Presiden tahu, belanja pemerintah adalah salah satu komponen terbesar pertumbuhan ekonomi. Dan satu-satunya yang bisa dia kontrol sebagai presiden.
Jadi motif utamanya bukan membangun sistem demokrasi ekonomi lewat koperasi atau membangun sistem gizi berkelanjutan, tapi membelanjakan uang sebanyak-banyaknya dan secepat mungkin lewat program-program kolosal, yang kesannya populis, tapi sebenarnya elitis.
Presiden bahkan tidak peduli jika untuk belanja kolosal itu dananya diambil dari utang yang sama kolosalnya serta cenderung menciptakan ketergantungan seluruh negara dalam jangka panjang.
Ketergesa-gesaan membelanjakan uang juga telah mengabaikan prinsip-prinsip deliberasi, partisipasi dan bahkan perencanaan yang seksama. Bukan cuma top down, tapi bahkan militeristik yang memiskinkan kreativitas dan imajinasi.
Alih-alih mengajak publik untuk bersimpati mendukung koperasi dan membangun sendiri koperasi sejati, KDMP justru bikin orang sinis terhadap koperasi. Dalam jangka panjang, kita justru makin sulit memperjuangkan gerakan koperasi dan demokrasi ekonomi yang genuine.




