SUKABUMIUPDATE.com - Tuberkulosis (TBC) selama ini dikenal sebagai penyakit yang menyerang paru-paru. Namun, pada kondisi tertentu, bakteri penyebab TBC dapat menyebar ke organ lain melalui aliran darah. Salah satu organ yang berisiko terdampak adalah ginjal.
Kondisi ini dikenal sebagai tuberkulosis ginjal dan termasuk dalam kelompok TB ekstra paru yang sering luput dari perhatian.
Apa Itu Tuberkulosis Ginjal?
Tuberkulosis ginjal merupakan infeksi ginjal yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini biasanya berkembang sebagai komplikasi dari TBC paru yang tidak terdeteksi atau tidak tertangani dengan optimal.
Selain ginjal, bakteri TBC juga dapat menyerang organ lain dalam sistem saluran kemih, seperti ureter, kandung kemih, hingga organ reproduksi. Infeksi umumnya bermula di bagian luar ginjal (korteks), lalu perlahan menyebar ke bagian dalam (medula). Proses ini dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa gejala yang jelas. Jika tidak ditangani, tuberkulosis ginjal berisiko menyebabkan peradangan kronis, kerusakan jaringan ginjal, hingga gagal ginjal stadium akhir.
Baca Juga: Hati-Hati, 4 Gaya Hidup Gen Z Ini Diam-Diam Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung di Usia Muda
Tanda dan Gejala Tuberkulosis Ginjal
Pada tahap awal, tuberkulosis ginjal sering kali tidak menimbulkan keluhan. Gejala biasanya muncul ketika infeksi sudah cukup luas. Beberapa tanda yang dapat dirasakan antara lain nyeri atau rasa panas saat buang air kecil, sering ingin berkemih terutama di malam hari, serta urine bercampur darah.
Selain itu, pasien juga bisa mengalami sakit pinggang atau perut bagian bawah, serta ditemukannya nanah atau protein dalam urine. Gejala umum TBC seperti demam ringan berkepanjangan, penurunan berat badan, keringat malam, badan mudah lelah, dan batuk juga dapat menyertai kondisi ini. Karena mirip dengan infeksi saluran kemih, tuberkulosis ginjal sering salah diagnosis.
Penyebab Tuberkulosis Ginjal
Tuberkulosis ginjal disebabkan oleh penyebaran bakteri Mycobacterium tuberculosis dari paru-paru ke ginjal melalui aliran darah. Proses penyebaran ini bisa terjadi dalam rentang waktu yang sangat lama, bahkan hingga puluhan tahun setelah infeksi awal.
Baca Juga: Beda Generasi: 5 Kebiasaan Gen Z yang Kerap Disalahpahami Boomer
Risiko tuberkulosis ginjal meningkat pada individu dengan daya tahan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV, diabetes, atau pasien yang mengonsumsi obat imunosupresan setelah transplantasi organ. Pada kasus tertentu, infeksi juga dapat terjadi akibat penggunaan bakteri BCG dalam terapi kanker kandung kemih, meskipun kejadiannya tergolong jarang.
Komplikasi Tuberkulosis Ginjal
Jika tidak segera ditangani, tuberkulosis ginjal dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius. Infeksi kronis dapat menyebabkan pembengkakan ginjal, penyempitan saluran kemih, tekanan darah tinggi akibat gangguan ginjal, hingga penumpukan kalsium di jaringan ginjal.
Dalam kondisi lanjut, kerusakan ginjal bisa bersifat permanen dan berujung pada gagal ginjal kronis. Selain itu, penyebaran infeksi ke kandung kemih dapat menyebabkan kapasitas kandung kemih mengecil sehingga mengganggu fungsi berkemih secara signifikan.
Cara Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis tuberkulosis ginjal memerlukan kombinasi beberapa pemeriksaan, seperti tes darah, tes urine, tes tuberkulin, serta pemeriksaan pencitraan seperti USG, CT scan, atau rontgen. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah kerusakan ginjal yang lebih parah.
Pengobatan dilakukan dengan terapi obat antituberkulosis dalam jangka waktu panjang, biasanya minimal enam bulan. Pada kasus dengan komplikasi berat, tindakan operasi mungkin diperlukan untuk memperbaiki atau mengangkat bagian ginjal yang rusak.
Baca Juga: 4 Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadan agar Ibadah Lebih Siap dan Bermakna
Tuberkulosis ginjal merupakan kondisi serius yang sering terlambat terdeteksi karena gejalanya menyerupai gangguan saluran kemih biasa. Kesadaran akan tanda-tandanya serta kepatuhan menjalani pengobatan TBC sangat penting untuk mencegah penyebaran infeksi dan menjaga fungsi ginjal tetap optimal.
Sumber: hellosehat



