SUKABUMIUPDATE.com - Bencana alam maupun kondisi darurat dapat membawa perubahan besar dalam kehidupan anak, terutama bayi dan balita.
Lingkungan yang tidak lagi familiar, rutinitas yang terputus, serta suasana penuh ketidakpastian seringkali memicu stres pada anak. Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah gangguan tidur, seperti sulit terlelap, sering terbangun di malam hari, hingga mimpi buruk.
Padahal, tidur memiliki peran yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Tidur membantu pemulihan fisik, menjaga kestabilan emosi, serta memperkuat daya tahan tubuh. Oleh karena itu, menjaga kualitas tidur anak selama masa bencana menjadi salah satu kebutuhan mendasar yang tidak boleh diabaikan.
Penyebab Gangguan Tidur Anak Saat dan Setelah Bencana
Gangguan tidur pada anak dalam situasi darurat umumnya terjadi karena beberapa faktor yang saling berkaitan. Dari sisi emosional, anak dapat merasakan ketakutan, kebingungan, atau rasa kehilangan akibat perubahan yang terjadi secara tiba-tiba.
Baca Juga: Mengenal Pedofilia: Gangguan Ketertarikan Seksual pada Anak dan Cara Penanganannya
Ingatan traumatis dan kecemasan berpisah dengan orang tua membuat anak lebih waspada dan sulit merasa tenang saat waktu tidur tiba.
Faktor lingkungan juga berpengaruh besar. Tempat pengungsian atau hunian sementara sering kali bising, padat, serta memiliki pencahayaan dan suhu yang tidak ideal. Kondisi ini membuat anak kesulitan mendapatkan rasa nyaman yang biasanya ia rasakan di rumah.
Selain itu, faktor fisik seperti kelelahan, asupan makan yang tidak optimal, rasa tidak enak badan, atau gangguan dari serangga turut mempengaruhi kualitas tidur anak.
Anak juga sangat peka terhadap kondisi emosional orang dewasa di sekitarnya. Ketika orang tua terlihat cemas, stres, atau sering membicarakan situasi yang menegangkan, anak dapat menyerap emosi tersebut dan menjadi lebih sulit menenangkan diri.
Baca Juga: Mengenal Kecerdasan Kinestetik pada Anak dan Cara Mengembangkannya
Cara Menjaga Kualitas Tidur Anak di Situasi Darurat
1. Membangun Rasa Aman
Kehadiran orang tua atau pengasuh yang responsif membantu anak merasa terlindungi. Mendengarkan cerita anak, memeluknya, atau menemani hingga tertidur dapat menurunkan tingkat stres dan membuat tubuh anak lebih rileks.
2. Ciptakan Zona Tidur Sederhana yang Konsisten
Meski dalam keterbatasan, usahakan anak tidur di tempat yang sama setiap malam. Gunakan alas tidur, selimut, atau barang yang familiar bagi anak agar ia merasa lebih nyaman.
Jika memungkinkan, buat batas sederhana di area tidur untuk mengurangi gangguan cahaya dan lalu-lalang.
3. Jaga Rutinitas Sebelum Tidur
Kegiatan sederhana seperti membersihkan tubuh, mengganti pakaian, berdoa, atau mendongeng singkat memberi sinyal bahwa waktu tidur telah tiba.
Konsistensi rutinitas membantu tubuh anak menyesuaikan diri meskipun situasi belum ideal.
Perhatikan pula kondisi fisik anak. Pastikan pakaian yang dikenakan sesuai dengan suhu lingkungan, tubuh terasa bersih, dan perut tidak terlalu penuh sebelum tidur.
Di siang hari, ajak anak melakukan aktivitas fisik ringan dan berikan ruang untuk mengekspresikan emosi melalui bermain atau bercerita.
4. Kelola Stres Diri Sendiri
Sikap tenang, suara lembut, dan respons yang konsisten akan membantu anak merasa aman. Batasi pula paparan anak terhadap berita atau percakapan bernuansa traumatis.
Menjaga kualitas tidur anak di tengah bencana memang tidak mudah, namun sangat mungkin dilakukan. Fokus utama adalah menghadirkan rasa aman, menjaga rutinitas sederhana, dan menciptakan lingkungan yang stabil.
Dengan pendampingan penuh dari orang dewasa, tidur anak tetap dapat terjaga demi kesehatan dan kesejahteraannya.
Sumber: ayosehat.kemkes.go.id





