SUKABUMIUPDATE.com - Sebagian anak tampak tidak bisa diam, gemar berlari, memanjat, dan selalu ingin bergerak. Kondisi ini sering disalah artikan sebagai perilaku nakal atau hiperaktif.
Padahal, bisa jadi anak tersebut memiliki kecerdasan kinestetik yang dominan. Kecerdasan ini merupakan bagian dari kecerdasan majemuk yang berkaitan erat dengan kemampuan tubuh dalam mengekspresikan ide, emosi, dan pemahaman.
Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan anak dalam memproses informasi melalui gerakan tubuh, koordinasi otot, serta aktivitas fisik. Anak dengan kecerdasan ini cenderung belajar lebih efektif melalui praktik langsung dibandingkan dengan duduk diam membaca atau mendengarkan penjelasan panjang.
Mereka merasa nyaman saat bergerak aktif dan terlibat secara fisik dalam berbagai kegiatan.
Baca Juga: Orang Tua Harus Waspada: Ini 4 Ciri-ciri Pelaku Child Grooming Pada Anak
Ciri-Ciri Anak dengan Kecerdasan Kinestetik
Anak dengan kecerdasan kinestetik biasanya mudah dikenali dari perilakunya sehari-hari, yakni:
1. Senang Bergerak
Anak terlihat antusias saat berlari, menari, memanjat, atau melakukan permainan yang melibatkan banyak aktivitas fisik.
Ketika berada di lingkungan baru, ia akan aktif menjelajah, menyentuh benda-benda di sekitarnya, dan mencoba hal-hal baru.
2. Koordinasi Tubuh yang Baik
Anak kinestetik umumnya mampu meniru gerakan dengan cepat, seperti mengikuti tarian, senam, atau gerakan olahraga. Kemampuan ini membuat mereka berpotensi unggul dalam bidang olahraga, seni tari, atau aktivitas fisik lainnya yang membutuhkan kelincahan dan keseimbangan.
3. Tidak Senang Duduk Diam Lama
Anak kinestetik kurang menyukai kegiatan yang mengharuskannya duduk diam dalam waktu lama. Namun, bukan berarti ia tidak bisa fokus. Anak tetap mampu berkonsentrasi saat melakukan aktivitas yang melibatkan tangan, seperti menyusun balok, puzzle, atau permainan konstruktif lainnya.
Aktivitas yang monoton dan pasif justru lebih cepat membuatnya bosan.
Cara Mengembangkan Kecerdasan Kinestetik Anak
Anak dengan kecerdasan kinestetik memerlukan pendekatan pengasuhan yang tepat agar energinya tersalurkan secara positif. Salah satu cara terbaik adalah mengajaknya berolahraga secara rutin.
Baca Juga: 8 Trik Psikologi yang Diam-diam Mempengaruhi Cara Orang Berpikir
Aktivitas seperti bersepeda, berenang, menari, atau sekadar bermain di luar rumah dapat membantu mengasah kemampuan motorik kasar sekaligus menjaga kesehatan fisiknya.
Selain olahraga, bermain peran juga sangat bermanfaat.
Anak kinestetik senang terlibat langsung dalam aktivitas imajinatif, seperti bermain masak-masakan, drama sederhana, atau membantu orang tua membuat kue. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan gerakan, tetapi juga melatih kreativitas dan kemampuan sosial anak.
Proses belajar pun bisa dikemas dengan melibatkan gerakan. Orangtua dapat mengenalkan angka dan huruf melalui permainan tepuk tangan, lompatan, atau gerakan tubuh sederhana.
Metode ini membuat anak lebih mudah memahami konsep sekaligus menikmati proses belajar tanpa tekanan.
Pemilihan lingkungan belajar juga perlu diperhatikan. Sekolah atau tempat belajar yang menyediakan kegiatan interaktif, ruang eksplorasi, dan pembelajaran berbasis praktik akan sangat mendukung perkembangan anak kinestetik. Lingkungan yang memberi kebebasan bergerak membantu anak mengekspresikan potensinya secara optimal.
Hal yang Perlu Diperhatikan Orangtua
Anak yang aktif tidak selalu memiliki gangguan perilaku seperti ADHD. Anak kinestetik umumnya masih mampu fokus pada aktivitas tertentu, terutama yang melibatkan gerakan atau manipulasi benda. Meski demikian, orangtua tetap perlu mengamati pola perilaku anak secara menyeluruh dan berkonsultasi dengan tenaga profesional bila muncul kekhawatiran tertentu.
Baca Juga: Sepanjang 2025, 10 ASN di Kabupaten Sukabumi Dijatuhi Sanksi hingga Pemecatan
Yang terpenting, orang tua sebaiknya tidak melabeli anak sebagai “nakal” atau “tidak bisa diam”. Dengan dukungan, variasi aktivitas, dan pendekatan yang sesuai, kecerdasan kinestetik dapat menjadi kekuatan besar yang membantu anak tumbuh percaya diri, sehat, dan berprestasi di bidang yang ia minati.
Sumber: hellosehat




