SUKABUMIUPDATE.com - Trauma pada anak adalah pengalaman menakutkan atau menyakitkan yang meninggalkan dampak emosional, mental, maupun fisik.
Peristiwa ini bisa terjadi sekali, seperti kecelakaan atau kehilangan orang tercinta, tetapi juga bisa berlangsung lama, misalnya akibat kekerasan, penelantaran, perundungan, atau hidup di lingkungan yang tidak aman.
Trauma yang tidak ditangani dengan baik dapat terbawa hingga dewasa dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, perilaku berisiko, hingga kesulitan menjalin hubungan. Karena itu, mengenali tanda-tandanya sejak dini sangat penting agar anak mendapatkan dukungan yang tepat.
Baca Juga: Mengenal Parentifikasi: Saat Anak Dipaksa Dewasa Sebelum Waktunya
Tanda-Tanda Emosional Trauma
Anak yang mengalami trauma sering kesulitan memahami dan mengekspresikan perasaan. Mereka bisa terlihat mudah marah, sangat sedih, atau justru tampak mati rasa secara emosional.
Respons emosi mereka terhadap stres sering kali berlebihan dan sulit dikendalikan.
Beberapa anak menjadi sangat cemas dan mudah takut, sementara yang lain menunjukkan rasa bersalah atau malu tanpa alasan jelas. Selain itu, anak juga bisa menjadi sangat sensitif terhadap perpisahan dengan orang tua atau figur yang membuatnya merasa aman.
Tangisan berlebihan, ledakan amarah, serta perubahan suasana hati yang drastis juga patut diwaspadai.
Tanda-Tanda Perilaku Trauma
Trauma dapat mempengaruhi perkembangan otak anak, terutama bagian yang berperan dalam pengendalian emosi, fokus, dan pengambilan keputusan. Akibatnya, anak mungkin mengalami kesulitan berkonsentrasi di sekolah, mudah frustrasi, atau cepat menyerah saat menghadapi tantangan kecil.
Baca Juga: Cek Fakta: Viral Foto Kebakaran Rumah di Pertigaan Waluran Sukabumi Ternyata Hoax
Beberapa anak menunjukkan perilaku regresif, seperti kembali mengompol atau mengisap jempol, meski sebelumnya sudah melewati fase tersebut. Ada pula yang menarik diri, tampak “tidak hadir”, atau menolak pergi ke sekolah. Gangguan tidur, perubahan pola makan, serta perilaku impulsif dan berisiko juga dapat menjadi sinyal adanya trauma.
Pada kasus yang lebih berat, anak bisa memperagakan kembali peristiwa traumatis melalui permainan atau cerita, bahkan menunjukkan tanda melukai diri sendiri. Kondisi ini memerlukan perhatian dan bantuan profesional segera.
Tanda-Tanda Fisik Trauma
Trauma tidak hanya mempengaruhi emosi dan perilaku, tetapi juga kondisi fisik anak. Paparan stres berkepanjangan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga anak lebih sering sakit.
Keluhan seperti sakit kepala, sakit perut, kelelahan, atau nyeri tanpa penyebab medis yang jelas juga kerap muncul.
Sebagian anak mengalami disregulasi sensorik, yaitu tubuh bereaksi berlebihan atau justru kurang responsif terhadap rangsangan seperti suara, cahaya, sentuhan, atau bau. Ada anak yang sangat sensitif, sementara yang lain tidak menyadari rasa sakit hingga berisiko melukai diri sendiri tanpa sengaja.
Baca Juga: PLN Indonesia Power UBP JPR Perkuat Pengawalan Batu Bara untuk Keandalan Listrik
Orang tua dan pengasuh berperan besar dalam proses pemulihan. Menciptakan lingkungan yang aman, mendengarkan anak tanpa menghakimi, serta mencari bantuan profesional bila diperlukan dapat membantu anak pulih secara perlahan. Semakin cepat trauma dikenali dan ditangani, semakin besar peluang anak untuk tumbuh dengan sehat secara emosional dan mental.
Sumber: verywellmind




