Mengenal Parentifikasi: Saat Anak Dipaksa Dewasa Sebelum Waktunya

Sukabumiupdate.com
Kamis 08 Jan 2026, 17:12 WIB
Mengenal Parentifikasi: Saat Anak Dipaksa Dewasa Sebelum Waktunya

Ilustrasi Mengenal Parentifikasi: Saat Anak Dipaksa Dewasa Sebelum Waktunya (Sumber: Freepik/@freepik)

SUKABUMIUPDATE.com - Pernah merasa harus selalu kuat demi orang tua sejak kecil? Atau merasa bertanggung jawab atas emosi dan masalah keluarga? Kondisi ini dikenal sebagai parentifikasi, yaitu ketika peran anak dan orang tua tertukar secara tidak sehat.

Apa Itu Parentifikasi?

Parentifikasi adalah situasi ketika anak mengambil alih tanggung jawab emosional atau fisik yang seharusnya menjadi tugas orang tua. 

Dalam hubungan keluarga yang sehat, orang tua berperan memberi dukungan, sementara anak berada pada posisi menerima, belajar, dan berkembang. Namun pada parentifikasi, anak justru menjadi pengasuh baik secara emosional maupun praktis.

Anak yang mengalami parentifikasi sering dipaksa dewasa terlalu cepat. Mereka belajar menekan perasaan, mengutamakan kebutuhan orang lain, dan mengabaikan kebutuhan diri sendiri demi menjaga keharmonisan keluarga.

Baca Juga: Tiket Sold Out, Wagub Jabar Minta Kepala Daerah Gelar Nobar Persib Vs Persija

Penyebab Parentifikasi

Ada beberapa faktor yang dapat memicu parentifikasi. Salah satunya adalah ketidakdewasaan emosional orang tua, di mana orang tua kesulitan mengelola emosi dan bergantung pada anak. 

Selain itu, kondisi seperti perceraian, kehilangan pasangan, tekanan ekonomi, atau kurangnya sistem dukungan juga dapat membuat orang tua melibatkan anak secara berlebihan.

Masalah kesehatan fisik atau mental, termasuk gangguan penggunaan zat, juga sering memicu anak mengambil peran sebagai pengasuh. 

Dalam beberapa kasus, orang tua yang memiliki riwayat trauma masa kecil cenderung tanpa sadar mengulang pola yang sama pada anak mereka.

Jenis-Jenis Parentifikasi

Parentifikasi terbagi menjadi dua bentuk utama:

  • Parentifikasi emosional terjadi ketika anak menjadi tempat curhat orang tua, penenang emosi, atau penengah konflik keluarga. Anak berperan seperti “terapis kecil” yang harus selalu memahami dan menenangkan.
  • Parentifikasi instrumental melibatkan tanggung jawab fisik, seperti mengurus rumah, memasak, mengelola keuangan, atau merawat saudara kandung. Perbedaannya terletak pada apakah tugas tersebut sesuai usia dan mendukung perkembangan anak, atau justru membebani demi kepentingan orang tua.

Baca Juga: Tugas Perdana Jadi Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Ardian Langsung Panen Jagung

Tanda-Tanda Anak Mengalami Parentifikasi

Anak yang mengalami parentifikasi sering menunjukkan rasa bersalah berlebihan, kecemasan, kesulitan mengekspresikan kebutuhan, keinginan kuat untuk menyenangkan orang lain, serta kehilangan masa kanak-kanak. 

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental dan kemampuan bersosialisasi.

Dampak Jangka Panjang Parentifikasi

Dampak parentifikasi sering terbawa hingga dewasa. Banyak individu tumbuh dengan kebiasaan menekan kebutuhan diri sendiri karena takut dianggap egois atau ditinggalkan. Dalam hubungan, mereka cenderung terjebak dalam dinamika tidak seimbang dan sulit menetapkan batasan.

Baca Juga: Laga Persib Vs Persija, Polda Jabar Kerahkan 2.749 Personel Gabungan dan Pantau Medsos

Risiko gangguan kecemasan, depresi, dan kelelahan emosional juga lebih tinggi akibat tekanan yang dipendam sejak kecil.

Sumber: verywellmind

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini