SUKABUMIUPDATE.com - Suhu permukaan laut tembus angka tertinggi sepanjang sejarah pada pertengahan Agustus 2026. Lonjakan panas yang tidak biasa ini dipicu akumulasi emisi bahan bakar fosil dan diperparah fenomena El Nino.
Data ini diungkap lembaga pemantau iklim Uni Eropa Copernicus. Mereka mencatat suhu air laut dunia menyentuh 21,1 derajat Celsius. Angka ini melampaui rekor tertinggi sebelumnya sebesar 21,09 derajat Celsius yang tercatat pada Maret 2024.
Penetapan rekor pada bulan Agustus menjadi fenomena anomali yang sangat mengkhawatirkan para ilmuwan. Puncak suhu lautan biasanya terjadi pada Maret atau April saat akhir musim panas di Belahan Bumi Selatan.
Baca Juga: Karhutla Gunung Geulis Pabuaran Sukabumi: Api Makin Meluas Menuju Pemukiman
Kombinasi antara El Nino dan lonjakan suhu historis ini menempatkan ekosistem perairan dalam kondisi darurat. Fenomena ini sekaligus membuktikan bahwa kapasitas penyerapan panas bumi semakin mendekati titik jenuh.
Para ahli memprediksi tren kenaikan suhu ini belum akan mereda dalam beberapa bulan ke depan. Suhu lautan diperkirakan terus meningkat hingga puncak El Nino terjadi pada kurun November hingga Januari.
"Rekor ini merupakan sinyal jelas lainnya dari samudra yang mengalami tekanan yang kian meningkat," kata Samantha Burgess, pimpinan strategis iklim di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF).
Baca Juga: Karhutla Kabupaten Sukabumi Terluas di Jabar, Dampak Kekeringan di Kota Sukabumi Capai 31 Ribu Jiwa
"El Nino menambahkan panas ke dalam sistem, tetapi hal itu terjadi di atas pemanasan global akibat aktivitas manusia selama berdekade-dekade," dilansir suara.com.
Organisasi Meteorologi Dunia menampik kemungkinan bahwa pemanasan ini hanyalah fluktuasi cuaca biasa. Sistem proyeksi Copernicus menunjukkan bahwa kekuatan El Nino kali ini berpotensi mencapai level terkuat dalam beberapa dekade terakhir.
Tekanan emisi bahan bakar fosil secara independen telah menaikkan suhu samudra sebesar 0,8 derajat Celcius sebelum El Nino tiba. Ketika fenomena alam ini aktif, efek pemanasan ganda langsung menghantam wilayah perairan dunia secara brutal.
Baca Juga: Ini Skuad Lengkap Persib Bandung 2026/2027, Minus Ramon Tanque!
Dampak dari fenomena ini tidak hanya terbatas pada perubahan suhu air semata. Pemuaian termal air laut mempercepat kenaikan permukaan air laut serta mempertinggi frekuensi gelombang panas samudera.
Kerusakan ekosistem terumbu karang dan padang lamun kini berada pada ambang batas bahaya. Kerusakan pada habitat kritis ini berpotensi menghancurkan rantai makanan laut serta mengancam industri perikanan global.
Apa Bahayanya?
Lautan yang makin panas juga kehilangan kemampuannya dalam menyerap gas karbon dioksida secara optimal. Kondisi tersebut merusak salah satu benteng pertahanan alami utama bumi dalam meredam laju perubahan iklim.
Baca Juga: Aktor Revaldo Kembali Diringkus Polisi, Berkali-kali Terjerat Narkotika
Kehadiran suhu tinggi di permukaan samudra menyalurkan uap air dan energi panas berlebih ke atmosfer. Pasokan energi ini meningkatkan potensi terjadinya bencana cuaca ekstrem yang jauh lebih menghancurkan di berbagai belahan dunia.
Samudra yang sepanas ini mengganggu stabilitas pola cuaca dan mengancam ketahanan pangan, kesejahteraan ekonomi, serta kehidupan laut," kata Lubchenco kepada AP.
"Samudra yang lebih hangat bukanlah sahabat kita."
Baca Juga: Dump Truck Terguling di Cikembar Sukabumi, Batu Karang Berhamburan Timpa Rumah Warga
Suhu permukaan laut global mengalami kenaikan secara konsisten akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil sejak era industri. Lautan berperan menyerap mayoritas kelebihan panas di sistem iklim bumi.
Kondisi tersebut diperburuk oleh kemunculan El Nino, yaitu fenomena pemanasan suhu permukaan air laut berkala di Samudra Pasifik tengah dan timur. Interaksi antara pemanasan global jangka panjang dan El Nino ini menciptakan rekor panas baru yang mengancam kehidupan pesisir dan stabilitas iklim dunia.















