SUKABUMIUPDATE.com - Terik matahari tak menyurutkan langkah Umi Ayen (55), penyintas bencana banjir bandang Cidadap untuk menjalani hari. Di tengah keterbatasan, lansia asal Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, itu memilih tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di tepian Sungai Cidadap, Umi Ayen dengan telaten mengolah umbi gadung menjadi keripik. Pekerjaan sederhana tersebut menjadi salah satu cara yang terpaksa ia lakukan untuk mendapatkan penghasilan, meski hasilnya tidak selalu pasti.
Dengan tangan terampil, gadung yang diperoleh dari kebun kemudian diolah melalui proses panjang sebelum akhirnya berubah menjadi keripik yang siap disantap. "Keripik gadung," kata Umi Ayen saat ditemui sukabumiupdate.com di lokasi, pada Selasa (25/8/2026).
Keripik tersebut kemudian dijual dengan harga relatif murah. Satu kantong keripik gadung dibanderol Rp5.000. Namun sayangnya Umi Ayen tidak memiliki tempat khusus untuk menjajakan dagangannya. Ia biasanya menunggu pembeli datang langsung ke lokasi atau ada orang yang mengambil keripik buatannya.
Baca Juga: SPBU Cikidang-Bagbagan Sukabumi Tutup, Solar Langka Lumpuhkan Ekonomi Nelayan hingga Petani
"Nanti suka ada yang datang ke sini, kadang kadang itu juga," ujarnya.
Penghasilannya pun tidak menentu. Dalam sehari, ia terkadang hanya mendapatkan Rp30 ribu. Jika sedang ada pembeli, pendapatannya bisa mencapai sekitar Rp50 ribu. "Kadang Rp50 ribu atau Rp30 ribu, enggak tentu pendapatannya. Sehari kalau ada yang beli itu juga," tuturnya.
Di balik harga Rp5.000 per kantong, terdapat proses panjang yang harus dilalui Umi Ayen untuk menghasilkan keripik gadung. Bahan bakunya diperoleh dari kebun. Suaminya atau yang ia sebut "Abah" biasanya mencari dan mengambil gadung untuk kemudian diolah.
Gadung tidak bisa langsung dipotong dan digoreng. Umbi tersebut harus melalui sejumlah tahapan terlebih dahulu.
Umi menjelaskan, gadung terlebih dahulu direndam di sungai Cidadap pada sore hari. Keesokan paginya, gadung kembali diolah, kemudian direbus atau dikukus dan dijemur hingga benar-benar kering.
"Ini prosesnya tiga minggu," katanya.
Baca Juga: Bertaruh Nyawa Warga Tegalbuleud Perbaiki Jembatan Bambu di Dermaga Pasir Besi, Lokasi Tragedi Maut!
Tiga minggu menjadi waktu yang harus dilalui sebelum gadung benar-benar siap diolah menjadi keripik yang dapat dimakan. "Direndam sore, dibikinnya pagi. Habis itu dikukus, dijemur. Kalau sudah kering baru dijual dan bisa digoreng," jelas Umi.
Karena prosesnya panjang, jumlah produksi setiap hari pun tidak menentu. Semuanya bergantung pada ketersediaan gadung dan ada atau tidaknya pembeli yang datang mengambil keripik.
Bagi Umi, penghasilan dari keripik gadung memang tidak besar. Namun, pekerjaan itu tetap dijalani sebagai cara untuk bertahan hidup.
Sekedar informasi, Umi Ayen merupakan salah satu warga yang terdampak banjir bandang Sungai Cidadap yang menerjang kawasan Kampung Babakan Cisarua pada Desember 2025 lalu.
Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung keluarganya rusak parah, bahkan hancur diterjang derasnya aliran sungai. Saat bencana itu terjadi, Umi bersama warga lainnya sempat mengungsi ke posko yang berada di SDN Kawungluwuk.
Baca Juga: KRL Bakal Diperpanjang ke Cigombong? Ini 10 Destinasi Wisata yang Bisa Dikunjungi
"Kalau kejadian banjir itu bulan Desember 2025. Hancur rumah, sempat ngungsi juga dulu di posko di SD," ungkapnya. Setelah kondisi berangsur membaik, Umi kembali ke kawasan tersebut. Namun, bukan ke rumah seperti sebelumnya.
Ia kini tinggal di tempat seadanya, di tengah sisa-sisa kehidupan yang masih bisa dipertahankan. "Sekarang balik lagi nempatin seadanya aja, bingung mau ke mana juga," katanya.
Ia tidak banyak meminta. Harapannya sederhana, bisa kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan layak. Umi Ayen berharap pemerintah dapat membantu dirinya dan warga terdampak lainnya melalui program relokasi rumah.
"Harapannya ada bantuan dari pemerintah a, ada bantuan relokasi rumah," harapnya.















