81 Tahun Merdeka: Merawat Persatuan, Menghormati Pejuang, Membangun Sukabumi

Sukabumiupdate.com
Kamis 13 Agu 2026, 07:04 WIB
81 Tahun Merdeka: Merawat Persatuan, Menghormati Pejuang, Membangun Sukabumi

Budi Azhar Mutawali, S.IP | Foto : Istimewa

Oleh: Budi Azhar Mutawali, Calon Ketua DPD Golkar Kabupaten Sukabumi

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar penanda bertambahnya usia sebuah negara. Di balik angka 81 tahun, ada perjalanan panjang yang dibangun dengan pengorbanan, keberanian, persatuan, dan perjuangan dari generasi ke generasi.

Karena itu, setiap 17 Agustus seharusnya tidak berhenti pada upacara, pengibaran bendera, perlombaan, atau kemeriahan perayaan. Kemerdekaan harus menjadi ruang untuk bertanya kepada diri sendiri: setelah 81 tahun Indonesia merdeka, apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga hasil perjuangan para pendahulu?

Pertanyaan itu penting karena kemerdekaan bukan hadiah yang datang dengan sendirinya. Ada darah, air mata, tenaga, pikiran, bahkan nyawa yang dikorbankan oleh para pejuang untuk menghadirkan Indonesia yang merdeka.

Sukabumi dan jejak perjuangan

Ketika berbicara tentang perjuangan kemerdekaan, perhatian kita sering kali tertuju kepada nama-nama besar atau peristiwa kolosal yang tercatat dalam buku sejarah nasional. 

Padahal, kemerdekaan Indonesia juga dibangun oleh ribuan bahkan jutaan orang yang berjuang di daerahnya masing-masing, termasuk Sukabumi.

Sukabumi memiliki sejarah panjang dalam perjalanan perjuangan tersebut dan tidak hanya dilakukan oleh tentara atau tokoh yang dikenal luas, tetapi juga melibatkan ulama, pemuda, tokoh masyarakat, laskar rakyat, dan masyarakat biasa.

Nama seperti KH Ahmad Sanusi, Rd. Didi Sukardi Widjaya dan Letkol Eddie Sukardi mungkin sudah sangat dikenal menjadi bagian penting dari sejarah dan perjuangan bangsa.

Sementara itu, nama-nama lainnya yang turut berjuang di wilayah Sukabumi masih banyak yang belum dikenal luas, seperti Enoh Surahman dengan Laskar Fisabilillah-nya, Lay Tin Yung atau yang lebih dikenal sebagai Si Godeg sang pengibar bendera Merah Putih pertama di Sukabumi, dan lain sebagainya.

Kita juga mengingat perjuangan melawan penjajah di Palagan Bojongkokosan. Peristiwa yang terjadi pada masa revolusi fisik itu menjadi salah satu jejak penting perjuangan rakyat Sukabumi dalam mempertahankan kemerdekaan. Pertempuran Bojongkokosan berlangsung dalam dua periode, yakni 9–12 Desember 1945 dan 10–14 Maret 1946, sebuah perjuangan berdarah menghadapi pasukan sekutu (Inggris dan NICA).

Hari ini, jejak perjuangan itu masih dapat kita temui melalui Museum Palagan Perjuangan 1945 Bojongkokosan. Keberadaan museum tersebut menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya untuk dikenang dalam memori kolektif, tetapi juga perlu diwariskan sebagai sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya.

Selain Palagan Bojongkokosan, perjuangan melawan penjajah juga terjadi di sejumlah tempat di Sukabumi, seperti aksi perjuangan di Cicurug, Cibadak, Gunung Kekenceng, dan Nyalindung yang sempat menjadi pusat pemerintahan darurat Republik Indonesia di Sukabumi.

Jangan biarkan sejarah Sukabumi hilang ditelan zaman

Pertanyaan yang lebih penting saat ini adalah: seberapa dekat generasi muda Sukabumi dengan sejarah perjuangan? 

Jika generasi muda Sukabumi ditanya siapa pahlawan nasional, mungkin banyak yang mampu menyebutkan nama-nama besar. Tetapi jika mereka ditanya siapa pejuang yang pernah berjuang di tanah kelahirannya sendiri, apakah mereka mampu menjawab?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu seharusnya menjadi bahan refleksi kita bersama.

Menghargai jasa pejuang tidak cukup dengan upacara ziarah setahun sekali atau memasang nama mereka sebagai nama jalan. Yang jauh lebih penting adalah membuat perjuangan mereka tetap hidup dalam ingatan generasi muda.

Generasi muda hari ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka memperoleh informasi melalui telepon pintar, media sosial, video pendek, podcast, dan berbagai platform digital. Karena itu, cara kita menghidupkan sejarah tidak boleh berhenti pada metode lama dimana sejarah hanya tercatat di buku dan taman makam pahlawan.

Tentunya tidak berlebihan, jika saat ini kita mulai memikirkan bagaimana kisah para pejuang Sukabumi dikemas menjadi konten yang menarik, mudah dipahami, dan dapat diakses oleh generasi muda. Bahkan, sejarah Sukabumi didorong menjadi bagian dari gerakan kebudayaan yang lebih luas.

Kita bisa membayangkan suatu waktu anak-anak sekolah tidak hanya membaca tentang perjuangan di dalam kelas, tetapi juga mengunjungi situs sejarah, mewawancarai keluarga pejuang, membuat dokumenter, menulis kisah tokoh lokal, atau memproduksi konten digital mengenai sejarah daerahnya.

Persatuan adalah modal membangun Sukabumi

Perjuangan para pendahulu juga mengajarkan satu hal yang sangat penting: persatuan.

Para pejuang dahulu memiliki latar belakang yang berbeda. Ada perbedaan agama, kelompok, organisasi, profesi, latar sosial, dan pandangan politik. Tetapi ketika menghadapi kepentingan yang jauh lebih besar, perbedaan tersebut tidak menjadi alasan untuk saling menjauh.

Saat itu, tujuan mereka jelas: Indonesia harus merdeka dan mempertahankan kemerdekaan.

Semangat persatuan tersebut masih sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Kita boleh berbeda pilihan politik. Kita boleh berbeda pandangan. Kita boleh memiliki kepentingan yang berbeda. Tetapi jangan sampai perbedaan tersebut membuat kita kehilangan tujuan bersama.

"Kita boleh berbeda latar belakang, tetapi jangan berbeda dalam mencintai Sukabumi dan Indonesia. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi tujuan kita harus tetap sama: bagaimana masyarakat semakin sejahtera dan daerah semakin maju."

Bagi Sukabumi, persatuan bahkan menjadi kebutuhan pembangunan.

Kabupaten Sukabumi memiliki wilayah seluas 4.164 km persegi dengan karakter geografis dan sosial yang beragam. Ada kawasan perkotaan dan pedesaan, wilayah utara dan selatan, kawasan pegunungan hingga pesisir. Keragaman tersebut merupakan kekuatan, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk menyatukan kepentingan.

Karena itu, persatuan harus dimaknai secara lebih konkret: tidak boleh ada wilayah, kelompok masyarakat, maupun generasi yang merasa ditinggalkan.

Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, pemuda, akademisi, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat harus memiliki ruang untuk duduk bersama.

Perbedaan kepentingan jangan menjadi sumber perpecahan. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi bahan untuk menemukan solusi yang lebih baik.

Mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata

Setelah 81 tahun merdeka, bentuk perjuangan kita memang telah berubah.

Kita tidak lagi mengangkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Tetapi kita menghadapi tantangan yang juga membutuhkan keberanian, kerja keras, dan persatuan.

Kemiskinan, pengangguran, kesenjangan, kualitas pendidikan, pelayanan publik, daya saing ekonomi, dan pemerataan pembangunan adalah bagian dari perjuangan generasi kita.

Karena itu, kemerdekaan harus diterjemahkan ke dalam kerja nyata. 

Anak muda harus memiliki kesempatan mendapatkan pekerjaan dan membangun masa depan di daerahnya sendiri.

Petani dan nelayan harus mendapatkan ruang untuk meningkatkan nilai tambah hasil produksinya.

UMKM harus mendapatkan ekosistem yang membuat mereka mampu tumbuh.

Masyarakat desa harus memiliki akses terhadap infrastruktur, teknologi, pendidikan, dan pelayanan publik yang layak.

Pembangunan tidak boleh hanya terlihat di pusat pemerintahan. Pembangunan harus terasa sampai ke desa, dari kawasan utara hingga selatan, dari pegunungan hingga pesisir.

Inilah bentuk perjuangan kita hari ini.

Jika para pejuang dahulu mengorbankan tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka tugas kita adalah memastikan kemerdekaan memberikan kehidupan yang semakin baik bagi masyarakat.

Mengingat, Menyatukan dan Membangun

Pada akhirnya, 81 tahun kemerdekaan dapat menjadi momentum untuk melakukan tiga hal sederhana tetapi sangat penting.

Pertama, mengingat.

Mengingat bahwa kemerdekaan lahir dari perjuangan dan pengorbanan. Mengingat para tokoh nasional, tetapi juga tidak melupakan para pejuang lokal yang berjuang di tanah kelahiran kita sendiri.

Kedua, menyatukan.

Menjadikan perbedaan dan latar belakang sebagai kekuatan, bukan alasan untuk saling bermusuhan. Perbedaan politik, sosial, ekonomi, maupun pandangan harus ditempatkan dalam semangat kebangsaan dan kepentingan bersama.

Ketiga, membangun.

Menerjemahkan kemerdekaan menjadi kerja nyata di daerah. Menghadirkan pendidikan yang lebih baik, membuka lapangan pekerjaan, memperkuat ekonomi masyarakat, meningkatkan pelayanan publik, dan memastikan pembangunan dirasakan secara lebih merata.

Itulah cara kita meneruskan perjuangan. Sebab, kemerdekaan bukan hanya tentang apa yang telah diberikan para pahlawan kepada kita. Kemerdekaan juga tentang apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita.

Jangan sampai anak-anak kita hanya mengenal tanggal 17 Agustus sebagai hari libur dan perayaan. Mereka harus memahami bahwa di balik bendera Merah Putih yang berkibar terdapat sejarah panjang pengorbanan manusia yang mempertaruhkan hidupnya demi sebuah bangsa.

Dari Sukabumi, kita dapat memulai langkah itu.

Kita mengenang para pejuang. Kita menjaga persatuan. Kita memperkuat gotong royong. Kita membangun daerah. Dan kita memastikan kemerdekaan benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Dari Sukabumi, mari kita rawat persatuan, kita hormati para pejuang, dan kita teruskan perjuangan untuk Indonesia yang lebih baik, Sukabumi yang lebih baik.

Karena itu, tema peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” tidak boleh berhenti sebagai slogan. Di Sukabumi, tema itu harus diterjemahkan menjadi kemandirian ekonomi, pemerataan pembangunan, kesempatan kerja, pendidikan yang berkualitas, dan pelayanan publik yang dirasakan seluruh masyarakat.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka!

Berita Terkait
Berita Terkini