SUKABUMIUPDATE.com – Fenomena El Nino menjadi salah satu ancaman serius bagi sektor pertanian. Curah hujan yang menurun dan musim kemarau yang lebih panjang kerap menyebabkan lahan pertanian kekurangan air sehingga mengganggu produksi pangan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, UPTD Balai Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BP Mektan) Distanhorti Jawa Barat mengembangkan JINGGA SURYA atau Jaringan Irigasi Tenaga Surya.
Kepala UPTD BP Mektan Distanhorti Jawa Barat, Anggi Jingga, menjelaskan inovasi tersebut dirancang untuk membantu petani memperoleh akses air secara lebih mandiri saat musim kemarau.
Menurutnya, salah satu masalah yang sering dihadapi petani adalah keterbatasan sumber air ketika hujan tidak turun dalam waktu lama. Kondisi tersebut diperparah oleh biaya operasional pompa berbahan bakar minyak yang cukup tinggi.
“Melalui JINGGA SURYA, petani dapat memanfaatkan energi matahari untuk menggerakkan pompa air tanpa harus bergantung pada BBM,” ujarnya.
Baca Juga: Pompa 25.000 Liter per Jam, Ini Spesifikasi JINGGA SURYA yang Dikembangkan BP Mektan Jabar
Teknologi ini memanfaatkan tiga panel surya berkapasitas total 1.650 Wp untuk menghasilkan listrik yang digunakan mengoperasikan pompa irigasi. Dengan kapasitas aliran hingga 25.000 liter per jam, alat ini mampu membantu memenuhi kebutuhan air pada berbagai jenis lahan pertanian.
Dalam laporan KIJB 2026 disebutkan bahwa penerapan JINGGA SURYA memberikan kemudahan bagi petani dalam memperoleh sumber pengairan, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan jaringan irigasi maupun daerah yang terdampak kekeringan saat musim kemarau dan fenomena El Nino.
Ketersediaan air yang lebih baik memungkinkan petani mempertahankan aktivitas budidaya meski menghadapi cuaca ekstrem. Hal ini menjadi penting mengingat perubahan iklim diperkirakan akan semakin memengaruhi sektor pertanian di masa mendatang.
Selain mengurangi risiko gagal panen, keberadaan sumber air yang lebih terjamin juga membuka peluang peningkatan indeks pertanaman. Petani yang sebelumnya hanya dapat menanam satu kali dalam setahun berpotensi meningkatkan frekuensi tanam menjadi dua hingga empat kali sesuai kondisi lahan dan ketersediaan sumber air.
Anggi menilai adaptasi teknologi menjadi salah satu kunci menghadapi perubahan iklim. Karena itu, inovasi seperti JINGGA SURYA perlu terus diperkenalkan kepada kelompok tani agar manfaatnya semakin luas.
“Perubahan iklim tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan dengan teknologi yang tepat,” katanya. (adv)





