Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Panjang, BMKG: 62% Peluang El Nino Jadi Kuat

Sukabumiupdate.com
Kamis 18 Jun 2026, 18:47 WIB
Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Panjang, BMKG: 62% Peluang El Nino Jadi Kuat

Ilustrasi Musim Kemarau 2026. | Freepik.com/@sergeycauselove (Sumber : Freepik.com/@sergeycauselove)

SUKABUMIUPDATE.com - Musim kemarau tahun 2026 diprediksi berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada periode Juli hingga September 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia.

Pada saat yang sama, fenomena El Nino diperkirakan mencapai kategori moderat hingga kuat sehingga berpotensi memengaruhi kondisi cuaca dan iklim selama musim kemarau.

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini, terutama terkait ketersediaan air bersih, potensi kekeringan, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan pihaknya terus melakukan komunikasi, koordinasi, dan pendampingan kepada berbagai pihak di daerah untuk menghadapi potensi dampak musim kemarau dan El Nino.

Baca Juga: Mengapa Pertamax Masih Belum Turun? Padahal Harga Minyak Dunia Sudah Merosot

“BMKG secara aktif berkomunikasi, berkoordinasi, serta melakukan pendampingan kepada pemangku kepentingan di tingkat daerah, seperti pemerintah daerah (pemda), Forkopimda, BPBD, dan semua pihak yang membutuhkan informasi yang lebih detail dan bagaimana cara memitigasi serta beradaptasi terkait dengan kondisi iklim yang terjadi saat ini,” ujarnya dalam keterangan resmi, yang dikutip Kamis (18/06/2026).

Puncak Musim Kemarau Diprediksi Terjadi Juli hingga September

BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia berlangsung pada Juli hingga September 2026. Seluruh masyarakat diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan untuk meminimalkan risiko kerugian akibat dampak El Nino.

Pada Juli 2026, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi di 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah Indonesia, meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, serta Papua bagian timur.

Memasuki Agustus 2026, puncak kemarau diprediksi meluas ke 369 ZOM atau sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia. Wilayah yang terdampak meliputi Sumatra bagian tengah, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua.

Baca Juga: Tok MK: Suami Cari Nafkah-Istri Urus Rumah dalam UU Perkawinan Bukan Bentuk Diskriminasi

Sementara pada September 2026, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi di 169 ZOM atau sekitar 25,41 persen wilayah Indonesia, mencakup Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.

El Nino Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027

Berdasarkan hasil perhitungan BMKG pada awal Juni 2026, fenomena El Nino diperkirakan masih bertahan hingga awal tahun 2027.

BMKG mencatat terdapat peluang sebesar 98 persen bahwa intensitas El Nino akan mencapai kategori moderat, serta peluang sebesar 62 persen untuk mencapai kategori kuat.

Meski demikian, BMKG menjelaskan bahwa dampak langsung fenomena tersebut terhadap Indonesia diperkirakan hanya berlangsung selama musim kemarau hingga Oktober 2026.

Baca Juga: Sebuah Kecaman untuk Pengrusakan Fasilitas Publik dalam Aksi Demonstrasi

BMKG Berikan Rekomendasi Antisipasi di Berbagai Sektor

Untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi kepada berbagai sektor.

Di sektor pangan, pemerintah dan petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang hemat air dan tahan terhadap kekeringan.

Pada sektor sumber daya air, revitalisasi waduk serta perbaikan jaringan distribusi air bersih perlu dilakukan guna menjaga ketersediaan air bagi masyarakat.

Di sektor energi, kapasitas air di bendungan perlu dipastikan tetap memadai untuk mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Baca Juga: Warga Benteng Sukabumi Sampaikan Aspirasi, Reses Anggota DPRD Jabar Dessy Susilawaty

Sementara di sektor kesehatan, pemerintah daerah diminta menyiapkan langkah respons cepat dalam mengantisipasi penurunan kualitas udara yang berpotensi memicu meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

BMKG berharap seluruh pihak dapat memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi sejak dini agar dampak musim kemarau panjang dan fenomena El Nino pada 2026 dapat diminimalkan.

Sumber: BMKG

 

Berita Terkait
Berita Terkini