SUKABUMIUPDATE.com - Ancaman Godzilla El Nino pada 2026 berpotensi memicu kekeringan yang menurunkan luas tanam dan produksi pangan. Karena itu, Anggota Komisi IV DPR RI, drh Slamet, meminta pemerintah menyusun APBN 2027 dengan mengutamakan program yang paling efektif dan efisien.
Berdasarkan alokasi anggaran Tahun 2026, program Cetak Sawah memperoleh Rp 8,75 triliun untuk target 250.000 hektare, atau sekitar Rp 35 juta per hektare. Sementara Optimalisasi Lahan (Oplah) dialokasikan Rp 1,65 triliun untuk 300.000 hektare, atau hanya Rp 5,5 juta per hektare. Dengan demikian, biaya Cetak Sawah sekitar 6,4 kali lebih besar dibandingkan Oplah.
“Di tengah ancaman El Nino, setiap rupiah anggaran harus menghasilkan tambahan produksi pangan yang maksimal. Optimalisasi lahan jauh lebih efisien karena memanfaatkan lahan pertanian yang sudah ada,” ujar Slamet yang berasal dari daerah pemilihan Sukabumi, dikutip pada Kamis (2/7/2026).
Baca Juga: BPBD Sukabumi Salurkan Air Bersih untuk Ratusan KK Terdampak Kekeringan di Cibadak
Untuk Tahun 2027, pemerintah menargetkan Oplah 200.000 hektare dan Cetak Sawah 100.000 hektare dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp 4,6 triliun, terdiri atas Rp 1,1 triliun untuk Oplah dan Rp 3,5 triliun untuk Cetak Sawah. Menurut Slamet, besarnya anggaran Cetak Sawah perlu dievaluasi. Dengan dana Rp 3,5 triliun, pemerintah berpotensi mengoptimalkan sekitar 636.000 hektare lahan apabila dialihkan ke program Oplah.
Ia mengusulkan agar sebagian anggaran Cetak Sawah dialihkan untuk memperkuat infrastruktur pertanian, seperti rehabilitasi irigasi, embung, pompanisasi, perpipaan, jalan usaha tani, dan alat mesin pertanian. Investasi tersebut dinilai lebih berdampak dalam menjaga produktivitas lahan, meningkatkan indeks pertanaman, dan memperkuat ketahanan pangan saat kekeringan.
“Cetak Sawah tetap penting sebagai strategi jangka panjang, tetapi harus dilakukan secara selektif pada wilayah yang benar-benar siap. Dalam situasi Godzilla El Nino, prioritas utama adalah memastikan lahan yang sudah ada tetap produktif melalui Optimalisasi Lahan dan penguatan infrastruktur pertanian,” ujar Slamet. (ADV)





