SUKABUMIUPDATE.com - Tanaman enau atau aren (Arenga pinnata) masih menjadi salah satu sumber penghidupan bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi atau Pajampangan, tanaman yang dikenal sebagai kawung ini menjadi sumber penghasilan tambahan.
Selain air niranya yang diolah menjadi gula aren, hampir seluruh bagian pohon kawung memiliki nilai ekonomi. Batangnya dapat diolah menjadi aci, buahnya menjadi kolang-kaling atau caruluk, sementara ijuknya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan atap rumah adat, gazebo, sapu, tali, media tanam, hingga filter air karena sifatnya yang kuat, tahan lama, dan tidak mudah lapuk.
Bani (47 tahun), warga Kampung Ciguyang, Desa Mekarsari, Kecamatan Sagaranten, mengungkapkan bahwa dirinya sudah hampir enam tahun menekuni usaha pengumpulan dan penjualan ijuk aren, selain bertani.
Baca Juga: Head to Head dan Jadwal Timnas Futsal Indonesia vs Iran di Piala Asia Futsal 2026
“Lokasi pohon aren itu cukup jauh, kebanyakan berada di hutan Desa Mekarsari dan juga hutan yang masuk wilayah Desa Bangbayang, Kecamatan Tegalbuleud. Kami membelinya dengan sistem borongan,” kata Bani saat ditemui Sukabumiupdate.com, Sabtu (7/2/2026).
Menurutnya, ijuk aren yang dikumpulkan langsung dijual ke pengepul untuk bahan baku sapu ijuk dengan harga Rp3.000 per kilogram. Dalam sehari, ia mampu mengumpulkan sekitar 40 kilogram ijuk kotor, yang setelah dibersihkan menyusut menjadi sekitar 35 kilogram.
“Kalau dihitung-hitung, hasilnya memang tidak besar, tapi cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Baca Juga: Terminal Sagaranten Sukabumi, Tetap Eksis di Tengah Maraknya Travel Gelap
Bani mengaku sebenarnya ingin mengolah ijuk aren agar memiliki nilai jual lebih tinggi. Namun keterbatasan modal menjadi kendala utama.
“Kami bukan tidak mau mengolahnya, tapi terkendala permodalan. Kalau dijual langsung, hasilnya bisa langsung dipakai untuk kebutuhan harian,” tambahnya.
Ia berharap ke depan ada perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, terutama dalam hal permodalan dan pelatihan, agar potensi besar tanaman aren atau kawung bisa memberikan manfaat ekonomi yang lebih optimal bagi masyarakat desa.




