Jawaban Kenapa Lulusan Perguruan Tinggi Lebih Banyak Menganggur Dibandingkan Jebolan SD

Sukabumiupdate.com
Sabtu 07 Feb 2026, 11:24 WIB
Jawaban Kenapa Lulusan Perguruan Tinggi Lebih Banyak Menganggur Dibandingkan Jebolan SD

Ilustrasi AI: Di Indonesia lulusan perguruan tinggi lebih banyak menganggur (Sumber: copilot)

SUKABUMIUPDATE.com - Sebuah fakta ketimpangan struktur ketenagakerjaan nasional terpotret dalam data dan angka yang dirilis BPS (Badan Pusat Statistik). Dimana serapa tenaga kerja di Indonesia untuk lulusan perguruan tinggi lebih rendah dari jebolan sekolah dasar atau SD.

BPS mencatat kondisi ketenagakerjaan Indonesia di tahun 2025, dimana mayoritas pekerja di tanah air ternyata masih didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah. Pada November 2025, sebagian besar penduduk bekerja berpendidikan SD ke bawah sebesar 34,63 persen, sementara itu, pekerja berpendidikan Diploma IV hingga S3 hanya 10,81 persen.

Laporan terbaru suara.com, menunjukkan tren penurunan serapan pada hampir semua jenjang pendidikan tinggi jika dibandingkan dengan Agustus 2025. Penurunan serapan kerja terjadi pada lulusan SMA (0,19% poin), SD ke bawah (0,12% poin), hingga lulusan sarjana dan diploma (0,03% dan 0,02% poin). Sebaliknya kenaikan terlihat pada lulusan SMP (0,19% poin) dan SMK (0,17% poin).

Baca Juga: Diperiksa 8 Jam, Pandji Pragiwaksono Bantah Tuduhan Penistaan Agama di Mens Rea

Komposisi pasar kerja yang masih didominasi sektor informal. Dari total penduduk bekerja, 85,35 juta orang (57,70%) berada di sektor informal. Sementara di sektor formal 62,57 juta orang (42,30%).

Makin rumit karena dominasi sektor informal menandakan mayoritas warga Indonesia bekerja tanpa jaminan sosial, pendapatan yang tidak tetap, dan perlindungan hukum yang minim. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025: Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi kantong penyerap tenaga kerja terbesar (27,99%), disusul Perdagangan (18,67%) dan Industri Pengolahan (13,86%).

Kondisi ini menjawab kenapa lulusan SD lebih mudah terserap. Sektor-sektor tersebut umumnya tidak memerlukan kualifikasi akademik tinggi, melainkan mengandalkan tenaga fisik atau keterampilan praktis sederhana. Sebaliknya, sektor industri bernilai tambah tinggi yang seharusnya diisi para sarjana justru tumbuh melambat.

Baca Juga: Sempat Dikaitkan dengan Persib, Cyrus Margono Resmi Berlabuh ke Persija

Laporan World Economic Forum (WEF) yang memperingatkan pengangguran atau ketiadaan peluang ekonomi sebagai resiko terbesar bagi perekonomian Indonesia pada 2026-2028. Berdasarkan Executive Opinion Survey 2025, para pemimpin bisnis menilai kurangnya peluang ekonomi atau pengangguran (lack of economic opportunity or unemployment) menjadi ancaman utama ekonomi nasional pada periode 2026-2028.

Dalam laporan itu, Indonesia tercatat sebagai satu dari 27 negara yang menempatkan risiko ini di posisi teratas. WEF menilai melemahnya prospek kerja tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga berpotensi memicu masalah sosial dan politik.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sepanjang 2025 hanya mampu menyerap tenaga kerja 2,71 juta dari investasi sebesar Rp1.931 triliun. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan target tersebut masih dalam proses bertahap, serta menunjukkan tren positif dari berbagai inisiatif ekonomi yang telah dijalankan.

Baca Juga: UPTD PU Beberkan Rencana Pembangunan Infrastruktur di Parungkuda hingga Kabandungan

BPS sendiri mencatat angka pengangguran di Indonesia kini sebanyak 7,35 juta orang per November 2025. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan data BPS pada Agustus 2025 lalu. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, penurunan ini seiring bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja.

Selama periode Agustus 2025 sampai dengan November 2025, terdapat 7,35 juta orang menganggur, di mana angka ini setara dengan Tingkat Pengangguran Terbuka yang turun menjadi sebesar 4,74 persen.

la menambahkan, penurunan TPT terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan. Tren penurunan juga terjadi di wilayah perkotaan dan perdesaan.

Baca Juga: 27 Tatarucingan Sunda Lucu: Dicekek Beuheungna, Dileketek Beuteungna, Naon?

Dibalik itu BPS mencatat jumlah angkatan kerja Indonesia mengalami peningkatan. Hingga November 2025, jumlah angkatan kerja tercatat mencapai 155,27 juta orang. Dari jumlah tersebut, penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 147,91 juta orang. Jumlah ini bertambah signifikan dibandingkan Agustus 2025.

Peningkatan jumlah penduduk bekerja turut mendorong naiknya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Data BPS: TPAK pada November 2025 mencapai 70,95 persen. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja laki-laki mencapai 84,83 persen, sementara Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan mencapai 56,91 persen.

 

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini