Gerakan Ibu Ngajar Ngaji, Strategi Menghidupkan Literasi Al-Quran di Keluarga

Sukabumiupdate.com
Selasa 03 Feb 2026, 20:13 WIB
Gerakan Ibu Ngajar Ngaji, Strategi Menghidupkan Literasi Al-Quran di Keluarga

Inisiator Program Gerakan Ibu Ngajar Ngaji (GINN) | Foto : Dok. GINN

Oleh : Tetty Sufianty Zafar (Dosen UMMI/Pengurus Aisyiyah/Ketua Tim Program PKM RISETMU)

Literasi Al-Quran adalah landasan utama untuk mengembangkan generasi Muslim yang beriman, bermoral, dan berkarakter. Kemampuan membaca, memahami, dan mencintai Al-Quran seharusnya menjadi keterampilan dasar yang dimiliki setiap anak sejak usia dini. Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa literasi Al-Quran di kalangan anak-anak semakin menghadapi tantangan serius.

Di berbagai daerah, banyak anak usia sekolah masih belum mampu membaca Al-Quran dengan baik. Bahkan ada yang tidak mengetahui huruf hijaiyah dengan benar. Situasi ini tentu saja mengkhawatirkan, mengingat Al-Quran adalah pedoman utama kehidupan bagi umat Islam. Jika generasi muda semakin menjauh dari Al-Quran, ada kekhawatiran bahwa nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka juga akan memudar.

Tantangan Literasi Al-Quran di Era Modern

Perubahan zaman telah membawa perubahan signifikan pada gaya hidup keluarga. Orang tua yang sibuk, tuntutan pekerjaan, dan dominasi gawai dalam kehidupan anak-anak telah menyebabkan penurunan bertahap tradisi belajar Al-Quran di rumah. Banyak keluarga akhirnya mempercayakan pendidikan Al-Quran sepenuhnya kepada sekolah, pusat penitipan anak (TPA), atau guru Al-Quran.

Di sisi lain, banyak ibu kurang percaya diri untuk mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak mereka sendiri. Sebagian merasa belum fasih membaca, tidak memahami tajwid, atau bingung dalam memilih metode yang tepat. Akibatnya, peran strategis ibu sebagai pendidik pertama dalam keluarga tidak terwujud secara optimal.

Namun, dari perspektif Islam, ibu memegang posisi penting dalam pendidikan anak. Ungkapan terkenal "al-ummu madrasatul ula" menekankan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dari pangkuan ibulah seorang anak pertama kali mempelajari nilai-nilai kehidupan, termasuk kecintaan terhadap Al-Quran.

Baca Juga: Target April 2026, Proyek Tol Bocimi Seksi 3 Masih Hadapi Sejumlah Kendala

Lahirnya Gerakan Ibu Mengajar Al-Quran (GINN)

Berawal dari keprihatinan ini, beberapa dosen yang mendapatkan hibah RISETMU 2025 di Universitas Muhamadiyah Sukabumi bekerjasama dengan Aisyiyah Kabupaten Sukabumi, memulai program inovatif yang disebut Gerakan Ibu Mengajar Al-Quran (GINN). Program ini dirancang sebagai strategi sederhana namun efektif untuk menghidupkan kembali literasi Al-Quran dalam lingkungan keluarga.

GINN bukan sekadar program pembelajaran Al-Quran biasa, tetapi sebuah gerakan untuk memberdayakan para ibu agar menjadi guru Al-Quran bagi anak-anak mereka sendiri di rumah. Program ini didasarkan pada keyakinan bahwa kebangkitan literasi Al-Quran harus dimulai dari keluarga, dan kunci utamanya terletak pada peran para ibu.

 Tujuan Utama GINN

 Gerakan Ibu Mengajar Al-Quran memiliki beberapa tujuan strategis, yaitu:

  1. Meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran anak-anak sejak usia dini.
  2. Memperkuat kapasitas ibu sebagai pendidik utama dalam keluarga.
  3. Menghidupkan kembali tradisi membaca Al-Quran bersama di rumah.
  4. Membangun budaya Al-Quran yang dinamis dalam kehidupan sehari-hari keluarga.
  5. Membentuk generasi yang dekat dengan Al-Quran dan dipenuhi dengan akhlak mulia.

Dengan tujuan-tujuan ini, GINN bertujuan untuk menjadi gerakan berbasis keluarga yang mudah diimplementasikan, terjangkau, dan berkelanjutan dengan strategi sederhana yang mudah diimplementasikan

Keunikan GINN terletak pada konsepnya yang sangat praktis dan mudah diterapkan. Program ini tidak mengharuskan para ibu untuk menjadi ustazah profesional, melainkan untuk menjadi teman belajar yang sabar dan konsisten.

Beberapa strategi utama GINN meliputi:

  1. Membaca Al-Quran Bersama Ibu di Rumah

Inti dari gerakan ini adalah untuk menghidupkan kembali kebiasaan membaca Al-Quran dalam lingkungan keluarga. Ibu berperan langsung dalam membantu anak-anak mereka mempelajari Al-Quran setiap hari.

  1. Waktu Belajar yang Singkat namun Konsisten

Belajar membaca Al-Quran tidak perlu lama. Hanya 15–25 menit sehari, dilakukan secara teratur. Konsistensi lebih disukai daripada periode panjang yang dapat dengan cepat membuat anak-anak bosan.

  1. Metode Bertahap dan Menyenangkan

GINN menggunakan metode Iqra', talaqqi, dan pendekatan yang menyenangkan untuk memastikan anak-anak menikmati pembelajaran. Tidak ada paksaan, apalagi teriakan. Seluruh proses dilakukan dengan penuh kasih sayang.

  1. Pembelajaran yang Disesuaikan dengan Kemampuan Anak

Setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda. Di GINN, para ibu diajarkan untuk memahami karakteristik anak-anak mereka dan menghindari perbandingan.

  1. Evaluasi Sederhana dan Humanistik

Perkembangan anak dicatat secara berkala melalui lembar kerja sederhana. Fokusnya bukan pada nilai, tetapi pada kemajuan bertahap anak.

Baca Juga: PAUD Sehati Cisarua Nagrak Alihkan KBM, Disdik Dorong Penanganan Segera Terealisasi

GINN sebagai Gerakan Sosial-Keagamaan

Lebih dari sekadar program pendidikan, GINN juga merupakan gerakan sosial-keagamaan yang memperkuat peran Aisyiya dalam pemberdayaan perempuan. Melalui GINN, para ibu tidak hanya didorong untuk mengajarkan Al-Quran, tetapi juga dididik untuk memahami bahwa mereka memainkan peran strategis dalam membentuk peradaban. Diharapkan gerakan ini dapat direplikasi di daerah lain, sehingga lebih banyak keluarga Muslim dapat menghidupkan kembali tradisi membaca Al-Quran di rumah mereka.

Menghidupkan Kembali Cahaya Al-Quran dari Rumah

Memang, kebangkitan komunitas Muslim tidak selalu harus dimulai dengan program-program besar dan mahal. Terkadang, itu dimulai dengan kegiatan sederhana: seorang ibu dengan sabar duduk bersama anaknya membaca Al-Quran setiap hari.

GINN bertujuan untuk menekankan bahwa pemahaman Al-Quran yang kuat bukanlah semata-mata tanggung jawab sekolah atau lembaga, tetapi terutama tanggung jawab keluarga. Ketika setiap rumah kembali dipenuhi dengan lantunan ayat-ayat suci, masa depan generasi Al-Quran mulai dibangun.

Inisiator Program Gerakan Ibu Ngajar Ngaji (GINN) :

Dr. Tetty Sufianty Zafar, S.Ag., M.M

Hj.E.Dike Mariske SPd., M.P.Kim

Dr. R. Drs. Iqbal Noor, M.M.

Abielya Athaya, S.AB. (Team)

Husnul Khatimah Aulia (Team)

Sukabumi, Januari 2026

Berita Terkait
Berita Terkini