SUKABUMIUPDATE.com - Hujan saat ini mungkin tak lagi turun setiap hari. Namun, bagi Onimah (26), suara rintik hujan yang berjatuhan tetap menyisakan kecemasan. Perempuan asal Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, itu terpaksa bertahan di tengah reruntuhan bangunan yang terdampak banjir bandang Sungai Cidadap pada 2025 silam.
Bukan karena tak ingin pindah. Onimah mengaku tak memiliki cukup uang untuk menyewa rumah. Penghasilan suaminya yang hanya sebagai kuli bangunan harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah dua anaknya.
"Karena enggak punya uang, A. Ngontrak teh meureun kudu uang, kudu punya. Buat makan kudu cukup. Punya anak sekolah, mau gimana, mau dipakai ngontrak," kata Onimah, saat ditemui Sukabumiupdate.com, Senin (24/8/2026).
Rumah Onimah hancur akibat banjir bandang pada 2025. Kini, ia terpaksa menumpang tinggal di rumah tetangganya yang masih layak dihuni bersama kedua anaknya. Anak pertamanya berusia 10 tahun dan duduk di kelas 4 SD, sedangkan anak keduanya masih berusia 3 tahun. Sementara itu, suaminya sedang tidak berada di rumah karena bekerja.
Baca Juga: 40 Ucapan Maulid Nabi Sarat Hikmah dan Inspiratif, Cocok Jadi Caption di Media Sosial
Kondisi tempat tinggal yang berada di kawasan terdampak bencana membuat Onimah tidak pernah benar-benar merasa aman. Setiap kali hujan turun, terutama pada malam hari, ia mengaku sulit memejamkan mata.
"Kalau hujan mah pasti ketakutan, enggak bisa tidur. Kalau hujan, apalagi malam. Hujan siang-siang juga," ujarnya.
Bahkan, pakaian dan barang-barang penting telah disiapkan di tempat yang mudah dijangkau. Hal itu dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan apabila sewaktu-waktu banjir atau longsor kembali terjadi.
"Pakaian juga sudah siap-siap aja di pinggir. Kalau ada apa-apa, pakaian semua dikumpul-kumpulin. Takut terjadi apa-apa," katanya.
Onimah berharap pemerintah memberikan solusi tempat tinggal yang aman dan layak. Ia bahkan mengaku siap jika harus direlokasi ke lokasi mana pun yang ditentukan pemerintah.
Baca Juga: Nasib ABK Asal Sukabumi yang Terlantar di Fiji Direspons KDM, Kepulangan Segera Diupayakan
"Harapan kami pengin punya tempat tinggal yang layak, yang benar-benar aman untuk ditinggalin. Kalau harus direlokasi, saya mau di mana pun juga," ucapnya.
Bagi Onimah, bantuan tempat tinggal bukan sekadar soal kenyamanan. Relokasi atau rumah yang lebih aman menjadi kebutuhan mendesak karena lokasi tempat tinggal mereka masih berada di kawasan yang dihantui ancaman banjir dan longsor.
"Pengin dibantu, pengin punya rumah yang layak dihuni, yang aman. Tempatnya di mana gitu," tuturnya.
Sebelumnya, Keluhan korban banjir bandang di Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, muncul dalam sebuah video. Hampir dua tahun setelah bencana beruntun menerjang, sebagian warga mengaku masih tidur di saung, menumpang ke kerabat, atau bertahan di rumah kontrakan tanpa kepastian.
Hal itu disampaikan melalui video yang beredar di media sosial dan ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Rekaman tersebut muncul ketika Dedi mendapatkan sorotan karena justru mengunjungi wilayah terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan membawa bantuan senilai Rp 4,5 miliar bagi korban di sana.
Baca Juga: Curug Gunung Karang Sukanagara, Air Terjun Tersembunyi di Cianjur Selatan
Dalam video itu, sejumlah warga yang mengaku sebagai korban bencana menyampaikan kondisi mereka. Seorang laki-laki yang menjadi perwakilan mengatakan terdapat sekitar 46 kepala keluarga di Kampung Babakan Cisarua dan sekitarnya, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, yang masih menghadapi ketidakpastian kehidupan setelah bencana.
"Hapunten ka Bapak Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi, simkuring selaku warga Desa Cidadap, Kampung Babakan Cisarua, RT 02/15. Simkuring katitipan carios ku warga anu kena musibah tahun 2025, seueurna 46 kepala keluarga anu salama hampir dua tahun terlunta-lunta milarian kahirupan, sakitu susahna," ucap dia, dikutip sukabumiupdate.com.
Ketua RT dalam video yang sama bahkan secara khusus meminta perhatian Dedi. Ia mengatakan kondisi ekonomi warga semakin sulit, termasuk untuk memenuhi kebutuhan dasar. "Pak Dedi Mulyadi, abdi memohon untuk meminta kebijakannya untuk warga kami, tidurnya ada yang ngontrak, makannya juga sudah istilahnya kadang beli beras kadang tidak."
Baca Juga: Ikan Lisong dan Deles Kembali Melimpah di Perairan Geopark Ciletuh, Nelayan Sukabumi Sumringah
Lalu seorang perempuan mengatakan masih menunggu kepastian mengenai bantuan biaya kontrak rumah sebesar Rp 10 juta. Ia meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak melupakan korban bencana di Desa Cidadap. "Belum mendapat kepastian mengenai uang pengontrakan Rp 10 juta dan tempat tinggal. Kami sangat mengharapkan Bapak Gubernur bantu kami juga."
















