SUKABUMIUPDATE.com - Nasib malang dialami Gopar (46), warga Kampung Cibolang Kidul RT 033/RW 008, Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Ia kini terbaring tak berdaya di Rumah Sakit Aster Sanad, Riyadh, Arab Saudi.
Pekerja Migran Indonesia (PMI) tersebut mengidap hipertensi dan mengalami komplikasi pascaoperasi kanker otak yang tak kunjung membaik. Selama sekitar satu tahun, ayah empat anak itu menjalani perawatan di rumah sakit.
Istri Gopar, Isoh (44), yang juga bekerja pada majikan yang sama, hanya bisa pasrah melihat kondisi suaminya. Keduanya telah bekerja dan mencari nafkah di Arab Saudi sejak 2021.
PMI asal Sukabumi, Yusup Saepulloh, yang menerima informasi mengenai kondisi Gopar, turut berupaya mencari bantuan kepada otoritas Indonesia di wilayah setempat.
"Awalnya Pak Gopar itu darah tinggi. Kemudian ada semacam kanker otak dan dioperasi. Kaki juga udah enggak bisa berjalan. Dari udah mulai dioperasi itu enggak ada penggerakan sama sekali," ujar Yusup kepada awak media, Minggu (23/8/2026).
Baca Juga: Tangani Karhutla Kalimantan, Prabowo Kerahkan 17 Pesawat dan 1.500 Prajurit
Menurut Yusup, Gopar membutuhkan perhatian penuh agar dapat segera dipulangkan ke tanah air. Pasalnya, selama ini Isoh juga kesulitan merawat suaminya karena terikat kebijakan majikan yang mewajibkannya tetap bekerja merawat seorang lansia.
"Istrinya ini kan sehari-hari kesibukannya merawat lansia. Istrinya disuruh majikannya untuk ke rumah sakit untuk merawat si lansia itu. Malah saya itu miris, kok tidak ada kebijakannya dari pihak majikannya untuk merawat suaminya yang terbaring selama 1 tahun," ucapnya.
Yusup juga mengungkapkan berbagai kesulitan yang dialami Gopar selama bekerja sebagai sopir pribadi. Di antaranya keterlambatan pembayaran gaji serta sejumlah biaya operasional yang harus ditanggung melalui pemotongan gaji. Menurut Yusup, Gopar menerima upah sekitar 1.600 riyal per bulan.
"Kendala-kendala dari pekerjaan ini, seperti di jalan kalau pecah ban dibebankan Pak Gopar untuk dipotong gaji, ada kerusakan mobil harus dipotong gaji. Sedangkan gajinya itu 1.600 riyal itu juga sering terlambat. Biasanya dikasih tanggal 16, ke sini-kesininya tanggal 18, kadang 20, kadang 21, kadang 25, kadang akhir, kadang tanggal 1 baru dikasih," lanjutnya menceritakan.
Untuk biaya pengobatan, Gopar menggunakan asuransi (Tamim) yang berlaku bagi pemegang kartu identitas resmi (Iqamah). Meski biaya perawatan ditanggung asuransi, pihak keluarga tetap berharap Gopar dapat dipulangkan ke Indonesia agar mendapatkan perawatan dan perhatian langsung dari keluarga.
Baca Juga: 40 Hari Meninggal di Arab Saudi, Jenazah PMI Asal Sukabumi Evi Mentari Akhirnya Dipulangkan
Saat ini, kendala utama yang dihadapi adalah biaya pemulangan. Majikan Gopar disebut enggan menanggung biaya tersebut dengan alasan terlalu mahal. Keluarga pun berharap pemerintah Indonesia dapat membantu proses kepulangan Gopar ke tanah air.
"Saya lobi dengan pihak KBRI gimana kelanjutannya dari pihak majikan ini tetap tidak ada kesanggupan untuk memberikan ongkos kepulangan dengan alasan terlalu mahal, 27.000 riyal untuk menyiapkan ongkos kepulangan Bapak Gofar ini ke Indonesia. Pokoknya istrinya pengin cepat minta dipulangkan. Kalau dirawat pun lebih baik di Indonesia, katanya gitu, untuk melanjutkan pengobatan," tuturnya.
Yusup menambahkan, Gopar bersama istrinya telah bekerja di Arab Saudi sejak 2021. Keduanya sempat dipulangkan oleh pihak penyalur kerja sebelum kemudian kembali bekerja di Arab Saudi sekitar empat tahun lalu.
Sejak Agustus 2025, Gopar terbaring di rumah sakit akibat kondisi kesehatannya. Selama suaminya menjalani perawatan, kebutuhan hidup keluarga kini hanya mengandalkan penghasilan Isoh yang tetap bekerja di Arab Saudi.














