Sungai Cidadap Cokelat Pekat Diduga Akibat Tambang Liar, Warga Simpenan Krisis Air Bersih

Sukabumiupdate.com
Sabtu 01 Agu 2026, 23:00 WIB
Sungai Cidadap Cokelat Pekat Diduga Akibat Tambang Liar, Warga Simpenan Krisis Air Bersih

Kondisi Sungai Cidadap, di Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. (Sumber : Dok warga).

SUKABUMIUPDATE.com – Kondisi air Sungai Cidadap di Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, berubah menjadi cokelat pekat. Padahal, wilayah tersebut saat ini tengah memasuki musim kemarau.

Kondisi ini memicu keresahan warga yang mengaku sudah bertahun-tahun kehilangan sumber air bersih utama mereka.

Salah seorang warga Kampung Kawungluwuk, Sumardiana (39), mengungkapkan bahwa kondisi sungai saat ini jauh berbeda dibanding lima hingga sepuluh tahun lalu. Dahulu, air Sungai Cidadap sangat jernih dan selalu menjadi andalan warga saat kemarau tiba.

"Namun sekitar tiga sampai empat tahun terakhir, meskipun musim kemarau, air sungai tetap keruh. Dulu sangat jernih, sekarang tidak bisa lagi dimanfaatkan seperti sebelumnya," ujarnya, pada sukabumiupdate.com pada Sabtu (1/8/2026).

Baca Juga: Remaja 15 Tahun di Simpenan Sukabumi Diduga Dicabuli Guru Ngaji, Keluarga Lapor Polisi

Sumardiana menduga, perubahan warna dan kualitas air sungai ini erat kaitannya dengan aktivitas pertambangan emas liar (Gurandil) di wilayah hulu, tepatnya di kawasan Kampung Cikeresek dan sekitarnya. Kendati demikian, dugaan ini merupakan pandangan warga dan belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak berwenang.

Terpaksa Buat Lubang Rembesan

Akibat air sungai yang keruh, kata dia, warga kampung Kawungluwuk dan Sawah Tengah kini terpaksa membuat lubang-lubang kecil di sekitar bantaran sungai untuk mendapatkan rembesan air yang lebih jernih sebagai sumber air.

"Warga harus membuat lubang-lubang kecil agar bisa mengambil air bersih. Air sungainya sendiri sudah tidak bisa digunakan lagi seperti dulu," katanya.

Tak hanya soal kualitas air, Sumardiana juga mengaitkan kondisi tersebut dengan banjir besar yang melanda wilayah Desa Loji dan Desa Cidadap dalam dua tahun terakhir. Menurutnya, banjir pada akhir 2025 hingga 2026 mengakibatkan puluhan rumah hanyut, ratusan rumah mengalami kerusakan, serta ratusan hektare sawah rusak akibat tergerus material.

Baca Juga: Heboh Pagar Tinggi di Tiga Mal Jakarta, Polisi Pastikan Ibu Kota Aman dan Kondusif

Ia menduga material tanah dan batuan yang diduga berasal dari aktivitas pertambangan liar terbawa arus saat musim hujan, kemudian mengendap di sungai hingga menyebabkan pendangkalan. Dugaan itu, menurutnya, membuat kapasitas sungai berkurang sehingga air lebih mudah meluap ke permukiman.

"Saya tinggal di Kawungluwuk sejak kecil, sejak tahun 1980-an. Baru dua tahun terakhir kami mengalami banjir sebesar ini. Dugaan saya, material sisa tambang terbawa ke sungai hingga menyebabkan pendangkalan," ungkapnya.

Atas kondisi tersebut, warga mendesak pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta para pemangku kebijakan di Kabupaten Sukabumi untuk segera turun tangan melakukan penyelidikan dan penertiban apabila ditemukan aktivitas pertambangan ilegal yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan.

"Kami memohon kepada pemerintah desa, kecamatan, pemerintah kabupaten, DPRD, hingga aparat kepolisian agar segera menindaklanjuti persoalan ini. Kalau memang ada tambang liar yang merugikan masyarakat, tolong segera ditertibkan. Warga yang tinggal di bantaran Sungai Cidadap dan Desa Loji sudah terlalu lama merasakan dampaknya," tegas Sumardiana.

 

Berita Terkait
Berita Terkini