Kasepuhan Ciptamulya Sukabumi Bakal Pindah Lokasi: Geser 1 Kilometer, Nama Kampung Diganti

Sukabumiupdate.com
Senin 10 Agu 2026, 20:33 WIB
Kasepuhan Ciptamulya Sukabumi Bakal Pindah Lokasi: Geser 1 Kilometer, Nama Kampung Diganti

Ketua Adat Kasepuhan Ciptamulya, Abah Hendrik Suhendrik Wijaya. (Sumber : SU/Ilyas).

SUKABUMIUPDATE.com – Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, bakal berpindah lokasi setelah kebakaran hebat menghanguskan puluhan rumah warga pada Sabtu (25/7/2026).

Namun, perpindahan kampung adat tersebut tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Kasepuhan Ciptamulya tetap memegang teguh tetekon adat dalam menentukan waktu dan tahapan pembangunan kembali permukiman warga.

Ketua Adat Kasepuhan Ciptamulya, Abah Hendrik Suhendrik Wijaya, mengatakan lokasi kampung yang terbakar tidak akan kembali dijadikan permukiman. Rencananya, 51 warga penyintas kebakaran akan dipindahkan ke lokasi baru yang jaraknya sekitar satu kilometer dari kampung lama.

“Kalau kata Abah memang enggak bakalan diisi lagi. Buat rest area atau gimana di sini, untuk lapangan bola atau apa nantinya,” ujar Abah Hendrik, kepada Sukabumiupdate.com, Senin (10/8/2026).

Baca Juga: Saan Mustopa Turun ke Kasepuhan Ciptamulya Cisolok, Dorong Relokasi 51 Keluarga yang Mengungsi

Menurutnya, lokasi baru tersebut masih berada tidak jauh dari kampung lama. Jika ditempuh berjalan kaki, waktu yang dibutuhkan sekitar 15 menit.

"Lokasi udah ada. Kalau jalan kaki 15 menit, mungkin satu kilo meteran kalau enggak salah, dekat. Sekarang bergeser ke sebelah atas. lya. Nanti pasti ada ganti (Nama). Pasti ada ganti, Tidak Ciptamulya, pasti diganti," ungkap Abah Hendrik.

Imah Gede Harus Berdiri Lebih Dulu

Abah Hendrik menegaskan, pembangunan kampung baru nantinya tidak dilakukan secara sembarangan. Sesuai tetekon adat, Imah Gede menjadi bangunan pertama yang harus didirikan sebelum pembangunan rumah warga lainnya.

"Setelah habis Safar Mulud, kalau sudah selesai ini waktunya mau dibangun, berbondong-bondong bergotong royong untuk Imah Gede dulu," katanya.

Setelah Imah Gede berdiri, Abah Hendrik mengungkapkan, pembangunan dilanjutkan dengan bangunan yang berkaitan dengan struktur adat, termasuk Pegawai Tuju. Setelah itu barulah pembangunan rumah warga dilakukan secara bertahap.

Baca Juga: FIFA ASEAN Cup 2026 Jadi Kesempatan Timnas Indonesia Bangkit Usai Gagal di Piala AFF

"Imah Gede dulu nangtung, baru yang lainnya, termasuk mungkin Pegawai Tuju. Pegawai Tuju dulu," tuturnya.

Ia mengatakan, warga memahami aturan tersebut sehingga tidak mempersoalkan harus menunggu sebelum rumah masing-masing dibangun.

"Yang pindah itu harus rumah Imah Gede dulu. Mereka tahu, jangan terburu-buru," ujar Abah.

Pembangunan nantinya juga akan dilakukan secara gotong royong. Para warga yang rumahnya terdampak akan memesan kebutuhan kayu masing-masing, namun pelaksanaan pembangunan tetap mengikuti arahan adat.

Di tengah proses pemulihan, Abah Hendrik mengakui warga sempat mengalami syok dan kesedihan mendalam. Tidak sedikit warga yang harus mengungsi ke rumah kerabat maupun tinggal sementara di tenda pengungsian.

Namun, kondisi tersebut perlahan mulai diterima warga sebagai bagian dari perjalanan hidup mereka.

"Awal-awal mah syok, termasuk Abah juga. Mau diapain lagi kalau sudah begini," katanya.

Baca Juga: Pemkot Sukabumi Jajaki Kerja Sama Pengolahan Sampah Organik dengan PT Rumah Magot Selabintana

Menurut Abah Hendrik, bantuan yang datang dari berbagai pihak turut membantu mempercepat pemulihan warga. Bantuan kebutuhan pokok hingga dukungan dari pemerintah membuat masyarakat merasa tidak sendirian menghadapi musibah.

"Alhamdulillah sangat terbantu," ujarnya.

Ia menyebut bantuan tersebut setidaknya memberikan sedikit kebahagiaan di tengah kehilangan harta benda akibat kebakaran.

"Seolah-olah digantikan dengan harta benda yang sudah hilang itu. Apalah daya, mungkin sudah ada gantinya," kata Abah Hendrik.

Pembangunan Menunggu Waktu Adat

Untuk bantuan pembangunan rumah dari Gubernur Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Abah Hendrik menyebut proses pencairannya masih menunggu tahapan sesuai ketentuan yang berlaku.

Informasi yang didapatkan, bantuan pembangunan tersebut sudah masuk ke Bank BJB dan nantinya akan dicairkan setelah pelaksanaan Safar Mulud sesuai ketentuan adat dalam kalender Islam/Sunda.

"Katanya sudah masuk ke Bank BJB. Setelah itu kan ada aturan Safar Mulud, baru nanti dicairkan untuk pembangunan rumahnya," ungkapnya.

Menurutnya, pembangunan diperkirakan mulai dilakukan sekitar dua hingga tiga pekan setelah 14 Mulud.

Baca Juga: Polisi Buru Berandal Motor Pelaku Dugaan Penganiayaan Satpam SPPG di Sukabumi

"Paling antara dua minggu, tiga mingguan lagi," katanya.

Ia memastikan keputusan tersebut merupakan bagian dari tetekon adat kerajaan yang tetap dijunjung oleh masyarakat Kasepuhan Ciptamulya.

Sudah Ada Firasat Kampung Harus Berpindah

Perpindahan Kampung Adat Ciptamulya ternyata bukan sepenuhnya keputusan yang muncul setelah kebakaran. Abah Hendrik mengungkapkan, sebelumnya telah ada tanda-tanda atau firasat dalam pandangan adat yang mengarah pada kemungkinan kampung tersebut berpindah.

"Iya, emang dari sebelumnya juga sudah ada kila-kila, firasat atau gimana. Ya mungkin dengan tegurannya bencana ini, mungkin waktunya ke sana," tuturnya.

 

Berita Terkait
Berita Terkini