SUKABUMIUPDATE.com - Matematika yang dulu tidak disukai Catherine Salsabila Santoso Lim (15), kini justru menjadi bidang yang mendorongnya untuk terus berkembang. Siswi SMK Pariwisata Indonesia Cicurug itu berhasil meraih medali emas bidang matematika dalam Olimpiade Unggul USU (Universitas Sumatera Utara) ke-11 Internasional.
Catherine berhasil meraih Juara 1 sekaligus menyabet medali emas mata pelajaran Matematika tingkat SMA/MA/SMK sederajat dalam Olimpiade Unggul USU ke-11 Internasional yang berlangsung secara daring melalui sistem Computer Based Test (CBT) pada Minggu (13/9/2026).
Prestasi tersebut menjadi bukti perjalanan Catherine yang merupakan warga Desa Tenjoayu, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, ini untuk terus mengembangkan kemampuannya di bidang yang sebelumnya tidak terlalu ia sukai.
Berawal dari Desa Tenjoayu, ia terus belajar dan mengasah kemampuan hingga mampu meraih prestasi di bidang Matematika.
Baca Juga: Ayah Meninggal, Kecelakaan Satu Keluarga Masuk ke Jurang di Ciemas Sukabumi
Namun kisah perjalanan Catherine hingga menyukai matematika tidak berlangsung sejak awal. Siswi kelas 11 SMK Pariwisata Indonesia Cicurug itu mengaku, saat masih kecil hingga duduk di bangku SMP, matematika justru menjadi salah satu pelajaran yang kurang ia sukai.
"Saya malah dari kecil tuh paling enggak suka yang namanya MTK, hitungan," kata Catherine saat ditemui di SMK Pariwisata Indonesia Cicurug, Kamis (24/9/2026).
Nasihat sang paman kemudian membawa Catherine untuk berubah. Ia mengatakan pesan agar keluar dari zona nyaman jika ingin berkembang membawanya untuk meraih kesuksesan.
"Ada paman saya pernah bilang, kalau kita mau mencari kesuksesan itu jangan dari zona nyaman. Kebetulan saya enggak nyaman dengan matematika, saya tantang matematikanya," ujarnya.
Ketertarikannya terhadap matematika akhirnya mulai tumbuh saat masih dirinya SMP. Saat itu, Catherine bergaul dengan teman-teman yang pernah meraih prestasi dalam olimpiade. Dari lingkungan tersebut, ia mulai termotivasi untuk mencoba bidang yang sebelumnya tidak ia sukai.
Catherine berhasil meraih Juara 1 sekaligus menyabet medali emas mata pelajaran Matematika tingkat SMA/MA/SMK sederajat dalam Olimpiade Unggul USU ke-11 Internasional. | IG smkparindo.official.
Awalnya, Catherine lebih tertarik dengan ilmu pengetahuan alam (IPA). Namun, setelah kembali belajar matematika, ia mulai memahami bahwa pelajaran tersebut dapat dikuasai jika dipelajari dengan cara yang tepat.
Baca Juga: TR4 Bantuan Pemerintah Ditemukan Mogok di Desa Cikarang Sukabumi, Kelompok Tani Arsina Buka Suara
"Sebelum SMK saya dil lesin matematika, ternyata oh oke, ternyata gampang juga kalau dimengerti," tuturnya.
Memasuki SMK Pariwisata Indonesia Cicurug, Catherine mulai mencoba mengembangkan kemampuannya di bidang matematika. Ia mengaku sempat mengalami kegagalan saat mencoba pada awalnya, tetapi tetap melanjutkan proses belajar hingga akhirnya berani mengikuti olimpiade.
Perjalanan Catherine dalam belajar matematika juga tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku pernah berada di fase hampir menyerah saat masih duduk di bangku SD dan SMP.
Namun, rasa ingin mencoba tantangan membuatnya tetap melanjutkan. Menurut Catherine, semakin besar tantangan yang dihadapi, semakin membuatnya termotivasi untuk berkembang.
Baca Juga: Mereka yang Siaga Saat Bencana: 126 Tagana Kabupaten Sukabumi Terbanyak di Jabar
"Saya emang anaknya suka tantangan. Semakin saya tertantang, semakin bergairah," katanya.
Di luar kegiatan sekolah, Catherine menjalani keseharian seperti siswa lainnya. Ia mengikuti pembelajaran, berkumpul bersama teman, serta meluangkan waktu untuk mengembangkan kemampuan diri.
"Sebenarnya kayak murid-murid biasa aja sih. Kayak ngumpul bareng teman, ngobrol, gitu-gitu aja," ujarnya.
Selain sekolah, Catherine juga mengikuti les bahasa Inggris. Ia juga menyisihkan waktu untuk belajar ketika memiliki target mengikuti perlombaan.
Saat waktu luang, Catherine mengaku senang membaca novel. Namun, ia juga terkadang menghabiskan waktu dengan bermain media sosial seperti anak muda pada umumnya.
"Kalau di rumah saya kebetulan banyak buku. Saya sekarang suka baca novel. Kalau sudah bosan baca novel, scrolling TikTok," katanya.
Baca Juga: Porprov XV Jabar 2026, Kabupaten Sukabumi Bidik 10 Besar dengan Target 90 Medali
Catherine tumbuh dari keluarga sederhana. Ia merupakan anak yatim setelah ayahnya meninggal dunia. Sementara ibunya bekerja sebagai buruh di pabrik garmen.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat Catherine berhenti mengejar pendidikan. Ia mengatakan, kedua orang tuanya menjadi sosok yang menginspirasi dirinya untuk terus berkembang dan berusaha memiliki kehidupan yang lebih baik.
"Mama papa saya juga itu menginspirasi saya untuk berkembang. Karena saya mau memperbaiki keadaan keluarga," ucapnya.
Dalam menjalani pendidikan, Catherine terbiasa belajar secara mandiri. Ia memahami ibunya memiliki kesibukan bekerja sehingga tidak selalu bisa mendampingi proses belajarnya.
Meski begitu, dukungan tetap diberikan sang ibu ketika Catherine ingin mengikuti berbagai kegiatan, termasuk perlombaan.
"Mama saya selalu dukung kok kalau saya mau ikut olimpiade," katanya.
Baca Juga: 10 Jenis Minyak yang Biasa Digunakan untuk Kecantikan, Kenali Kegunaan dan Manfaatnya
Untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah, Catherine juga terbiasa mengatur pengeluaran. Ia mengaku membawa uang saku sekitar Rp10 ribu untuk satu hari.
Dalam belajar matematika, Catherine memiliki cara tersendiri. Ia tidak hanya menghafalkan rumus, tetapi berusaha memahami konsep dari setiap materi yang dipelajari.
Menurutnya, memahami konsep membuat seseorang lebih mudah menyelesaikan soal karena tidak hanya bergantung pada hafalan.
Catherine juga memanfaatkan teknologi untuk membantu proses belajarnya. Ia menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan sumber pembelajaran daring ketika menemukan materi yang belum dipahami.
"Zaman sekarang sudah banyak AI. Kita foto rumusnya, terus kita baca-baca, ulangin terus minimal sampai ngerti. Kalau enggak ngerti, paling searching di YouTube," tuturnya.
Selain keluarga, Catherine menyebut ada sosok lain yang ikut membantunya mengenali potensi diri. Salah satunya guru BK di sekolahnya, Dedi.
Ia mengatakan, sering berdiskusi dengan Dedi mengenai berbagai hal hingga akhirnya mengetahui kemampuan yang dimilikinya.
Sosok pamannya di Kalimantan Barat juga menjadi salah satu orang yang memberikan dorongan agar Catherine terus belajar dan berusaha mengembangkan diri.
Ke depan, Catherine memiliki cita-cita menjadi seorang pebisnis. Ia ingin mengembangkan usaha yang masih berkaitan dengan jurusan yang saat ini ditempuhnya, yakni bidang perhotelan.
"Kalau sekarang cita-cita saya jadi pebisnis. Kalau dari jurusan saya mau ngikutin tentang pembangunan hotel," ujarnya.
Catherine berharap pelajar lain tidak ragu mencoba bidang yang sebelumnya dianggap sulit. Menurutnya, keberanian untuk memulai menjadi langkah penting dalam mencapai prestasi.
"Jangan pernah takut dengan sesuatu yang menurut kalian enggak bisa. Kalian bisa, cuma kalian ketutup kata takut," kata Catherine.
Selain itu, Catherine juga berpesan agar pelajar tidak minder ketika melihat orang lain lebih maju. Menurutnya, lingkungan yang baik dapat membantu seseorang berkembang menjadi lebih baik.













