SUKABUMIUPDATE.com – Donasi pakaian untuk penyintas kebakaran Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, terus berdatangan dari berbagai daerah. Jumlahnya diperkirakan telah mencapai lebih dari 10 ribu potong pakaian, membuat relawan kewalahan menata bantuan yang menumpuk di posko kemanusiaan.
Melimpahnya stok bantuan sandang tersebut selain dikhawatirkan menjadi limbah, juga memunculkan kebutuhan baru, yakni gantungan baju (hanger). Hingga saat ini, relawan baru memiliki sekitar 500 hanger untuk menata ribuan pakaian yang diterima sehingga sebagian besar bantuan masih tersimpan di dalam kardus dan karung.
Untuk memudahkan penyintas memilih pakaian sesuai kebutuhan, sejumlah relawan berinisiatif menata bantuan menggunakan gantungan baju layaknya etalase toko. Upaya tersebut dipelopori Asep Hidayat Mustopa bersama relawan Desa Wisata Hanjeli dan Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Sukabumi.
"Alhamdulillah hari ini kami berada di lokasi bencana di Kasepuhan Ciptamulya. Kami mencoba merapikan bantuan pakaian layak pakai menggunakan gantungan baju sehingga para penyintas bisa lebih mudah memilih pakaian yang dibutuhkan," ujar Asep kepada sukabumiupdate.com, Rabu (29/7/2026).
Baca Juga: Khawatir Jadi Limbah, BPBD Stop Donasi Pakaian untuk Korban Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya
Asep menyebut, jumlah pakaian yang terkumpul di posko diperkirakan telah mencapai lebih dari 10 ribu potong. Namun, proses penataan belum bisa dilakukan secara maksimal karena keterbatasan hanger.
"Jumlah bajunya mungkin lebih dari 10 ribu potong, bahkan bisa lebih. Hari ini kami baru membawa sekitar 500 gantungan baju. Mudah-mudahan ada tambahan lagi karena saat ini kami masih kekurangan gantungan," katanya.
Menurutnya, penataan pakaian dengan sistem digantung memberikan dampak yang sangat positif. Selain mempermudah relawan dalam mengatur distribusi bantuan, cara tersebut juga membuat para penyintas merasa lebih nyaman saat memilih pakaian.
"Kalau dibandingkan dengan kemarin, sekarang jauh lebih rapi dan lebih tertata. Warga juga lebih nyaman ketika datang mengambil bantuan," katanya.
Ia mengaku antusiasme masyarakat terlihat sejak pakaian mulai digantung. Para penyintas dapat melihat langsung model, ukuran, hingga kondisi kualitas pakaian secara cepat tanpa perlu membongkar tumpukan karung seperti pada hari-hari awal pascabencana.
"Antusias masyarakat luar biasa. Ketika kami gantungkan bajunya, mereka lebih senang karena bisa memilih pakaian yang rapi dan sesuai ukuran yang mereka butuhkan. Ini jauh lebih positif dibandingkan sebelumnya," ungkap Asep.
Baca Juga: A Yamin Dukung Penuh Bantuan Pemprov Jabar untuk Korban Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya Sukabumi
Melihat respons positif tersebut, Asep mengajak masyarakat yang ingin berdonasi untuk tidak hanya menyalurkan pakaian layak pakai, tetapi juga perlengkapan pendukung seperti gantungan baju dan rak gantung portabel.
"Kami berharap ada dukungan tambahan berupa gantungan baju. Dengan begitu seluruh pakaian yang ada bisa ditata dengan baik sehingga para penyintas dapat mengambil bantuan dengan lebih mudah, nyaman, dan bermartabat," pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, BPBD Kabupaten Sukabumi mengumumkan bahwa Posko Logistik Korban Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya tidak lagi menerima bantuan pakaian layak pakai.
Keputusan tersebut diambil karena stok pakaian yang diterima sudah melebihi kebutuhan warga terdampak dan berpotensi menjadi limbah sandang.
Manajer Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, mengatakan saat ini kebutuhan yang lebih mendesak bagi para penyintas adalah peralatan dapur, peralatan makan, bahan makanan, serta kebutuhan logistik lainnya.
"Stok pakaian sudah overload dan berpotensi menjadi limbah sandang. Kami mengimbau masyarakat menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan yang masih diperlukan di lapangan," ujar Daeng.















