Sawah Tidak Harus Selalu Basah: Ketika Air, Beras, dan Metana Berebut Ruang

Sukabumiupdate.com
Kamis 17 Sep 2026, 22:09 WIB
Sawah Tidak Harus Selalu Basah: Ketika Air, Beras, dan Metana Berebut Ruang

Salah satu pendekatan yang kini dibicarakan adalah Alternate Wetting and Drying (AWD), yaitu mengatur pola pengairan sawah secara lebih terukur. (Sumber : Istimewa.)

Oleh: Sitti Filzha Fitrya Ginoga (Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB University)

Kalau melihat sawah, biasanya yang kita cari adalah air. Sawah kering dianggap bermasalah. Sawah yang basah dianggap aman. Kalau airnya sampai menggenang, rasanya malah lebih meyakinkan. Pokoknya, sawah harus basah. Sejak kecil kita seperti sudah mendapat pelajaran tidak tertulis bahwa padi dan air adalah pasangan yang tidak bisa dipisahkan.

Padahal, ternyata hubungan mereka tidak sesederhana itu. Padi memang butuh air. Tetapi kalau sawah terus-terusan digenangi, ada tamu lain yang ikut datang. Namanya metana. Bukan nama orang. Bukan pula nama varietas padi. Metana atau CH₄ adalah salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.

Masalahnya, metana ini tidak kelihatan. Kalau sawah menghasilkan asap hitam, mungkin kita akan panik. Kalau air sawah berubah menjadi merah, mungkin kita akan mencari penyebabnya.

Tetapi metana? Ia keluar diam-diam. Tidak minta izin. Tidak membuat suara. Dan kita tetap bisa pulang membawa beras.

Baca Juga: Perceraian di Kabupaten Sukabumi Tembus 3.700 Kasus, Ekonomi dan Judol Jadi Biang Kerok

Di sinilah persoalan pertanian menjadi menarik. Kita membutuhkan sawah untuk menghasilkan pangan. Namun, cara kita mengelola sawah juga dapat memengaruhi emisi gas rumah kaca.

Jadi, bagaimana? Haruskah kita memilih antara beras dan lingkungan?Tentu saja tidak.

Masalahnya bukan memilih salah satu. Masalahnya adalah bagaimana membuat keduanya bisa hidup berdampingan. Jangan-jangan padi tidak membutuhkan air sebanyak itu?

Selama ini, penggenangan sawah sering dianggap sebagai sesuatu yang normal. Padahal, tanaman padi membutuhkan air, bukan berarti tanah harus selalu digenangi. Ini dua hal yang berbeda. Ketika sawah tergenang terus-menerus, oksigen di dalam tanah menjadi terbatas.

Kondisi seperti ini dapat menciptakan lingkungan yang cocok bagi mikroorganisme pembentuk metana.

Jadi, tanpa kita sadari, ketika sedang berpikir: “Yang penting padinya jangan kekurangan air.”

Baca Juga: Hujan Turun Tapi Sumur Warga Cibadak Sukabumi Masih Kering, Bantuan Air Bersih Disalurkan

Di bawah permukaan tanah ada mikroorganisme yang mungkin berpikir: “Wah, kondisi seperti ini nyaman sekali.”

Lalu mereka bekerja.

Dan salah satu hasil dari proses tersebut adalah metana. BRIN telah menyoroti hubungan antara sawah tergenang dan emisi metana. Karena itu, pengelolaan air menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mengurangi emisi dari lahan sawah. Artinya, persoalan perubahan iklim ternyata tidak selalu berada jauh di sana.

Tidak selalu di kawasan industri. Tidak selalu di jalan raya. Tidak selalu di cerobong pembangkit listrik. Kadang-kadang ia ada di depan rumah kita. Di atas piring kita. Dan sebelumnya tumbuh di sawah.

Lalu muncul AWD

Salah satu pendekatan yang kini semakin banyak dibicarakan adalah Alternate Wetting and Drying (AWD). Namanya memang panjang. Tetapi prinsipnya cukup sederhana. Sawah tidak digenangi terus-menerus. Air diberikan ketika dibutuhkan, kemudian dibiarkan turun sampai kondisi tertentu sebelum dialiri kembali.

Basah. Kering. Basah lagi.

Jadi bukan berarti sawah sengaja dibuat kekeringan. Bukan pula petaninya disuruh melihat tanaman sambil berkata: “Semoga padi saya kuat”. Tidak begitu.

AWD pada dasarnya adalah cara mengelola air secara lebih terukur. Tujuannya bukan sekadar menghemat air, tetapi juga menciptakan kondisi tanah yang dapat membantu menekan pembentukan metana.

Kedengarannya ideal. Air lebih hemat. Metana berkurang. Padi tetap tumbuh. Semua bahagia.

Sayangnya, urusan lingkungan biasanya tidak sesederhana brosur program pemerintah. Sebab petani bukan operator mesin.

Baca Juga: Ungkap Kondisi 3 Pelajar Korban Dugaan Pelecehan Oknum Pejabat Dishub Sukabumi, DP3A Beri Pendampingan

Coba bayangkan seorang petani diberi tahu: “Pak, mulai sekarang sawahnya jangan terus digenangi. Kita pakai AWD”.

Petani mungkin menjawab: “Kalau airnya dikurangi, nanti padinya bagaimana?” Pertanyaan sederhana.

Tetapi justru di situlah inti persoalannya. Peneliti bisa berbicara tentang tinggi muka air, kadar air tanah, suhu tanah, pH, potensial redoks, CH₄, N₂O, dan berbagai parameter lainnya.

Petani berbicara tentang sawah. Tentang cuaca. Tentang saluran irigasi. Tentang biaya.Tentang panen. Dan yang paling penting: tentang risiko.

Bagi peneliti, kekurangan air adalah variabel. Bagi petani, kekurangan air bisa menjadi kerugian. Karena itu, ketika kita berbicara tentang pertanian rendah emisi, jangan sampai petani hanya diposisikan sebagai orang yang harus mengikuti teknologi.

Petani bukan operator mesin. Petani adalah pengambil keputusan di lapangan. Dan keputusan mereka dipengaruhi oleh kondisi nyata yang kadang tidak bisa dibaca hanya dari layar komputer.

Jangan terlalu cepat merayakan turunnya metana. Ada persoalan lain yang juga perlu kita perhatikan. Misalnya kita berhasil menekan metana. Bagus. Lalu kita tepuk tangan.

Baca Juga: Si Jago Merah Lahap Rumah Pasutri di Jampangtengah, Diduga Dipicu Korsleting Listrik

Selesai? Belum.

Ada gas rumah kaca lain yang bernama nitrous oxide atau N₂O. Perubahan kondisi air dan tanah dapat memengaruhi proses nitrogen di dalam tanah dan pada kondisi tertentu memengaruhi emisi N₂O.

Jadi, kalau kita hanya melihat metana, kita bisa salah mengambil kesimpulan. Ini seperti menutup satu keran air lalu merasa seluruh rumah sudah tidak bocor. Padahal mungkin keran lainnya masih terbuka. Karena itu, pertanian rendah emisi tidak bisa dinilai hanya dari satu indikator. Kita harus melihat hubungan antara air, tanah, tanaman, emisi, produktivitas, dan manusia. Dan hubungan tersebut tidak selalu lurus. Sawah ternyata rumit juga.

Di sinilah saya kira kita perlu berhenti melihat sawah sebagai sesuatu yang sederhana. Sawah bukan hanya: tanah + air + benih = beras. Di dalamnya ada proses fisik, kimia, dan biologis yang berlangsung bersamaan.

Air memengaruhi kondisi tanah. Kondisi tanah memengaruhi mikroorganisme. Mikroorganisme memengaruhi pembentukan gas. Gas memengaruhi emisi. Sementara tanaman tetap harus tumbuh. Di luar itu semua, ada manusia yang harus memastikan sawah tersebut menghasilkan pangan. Itulah sebabnya perubahan kecil pada satu bagian sistem bisa menghasilkan konsekuensi pada bagian lain. Mengurangi air mungkin menekan metana.

Tetapi bagaimana dengan N₂O? Bagaimana dengan hasil panen? Bagaimana dengan kondisi tanah? Bagaimana dengan kebutuhan tenaga kerja? Bagaimana dengan petani yang mendapatkan air paling akhir dari jaringan irigasi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab dengan satu resep.

Baca Juga: Awas Link Cek Kesehatan Gratis Penipuan Beredar di Media Sosial Facebook

AWD jangan sampai Cuma menjadi proyek

Saya justru khawatir kalau AWD nanti hanya berhenti sebagai proyek.

Ada pipa. Ada pelatihan. Ada spanduk. Ada dokumentasi. Foto bersama. Lalu selesai.

Padahal pertanyaan sebenarnya baru dimulai setelah foto bersama selesai.

Apakah petani terus menerapkannya? Apakah air benar-benar lebih efisien? Apakah emisi benar-benar turun? Apakah produktivitas tetap terjaga? Apakah petani mendapatkan manfaat?

Kalau semua itu tidak dijawab, kita mungkin hanya berhasil menciptakan program yang terlihat bagus di laporan. Bukan sistem pertanian yang benar-benar berubah. Karena itu, menurut saya, pemerintah perlu menggeser ukuran keberhasilan.

Jangan hanya bertanya:

“Berapa luas sawah yang sudah menerapkan AWD?”

Tetapi tanyakan:

“Apa yang berubah setelah AWD diterapkan?”

Ini pertanyaan yang jauh lebih penting.

Petani jangan cuma diberi pipa!

Saya mendukung AWD. Tetapi saya tidak percaya bahwa solusi pertanian rendah emisi cukup dengan membagikan pipa kepada petani.

Pipa hanya alat.

Yang lebih penting adalah sistem yang membuat alat tersebut bisa bekerja. Penerapan AWD harus mempertimbangkan kondisi lokal. Karakteristik tanah berbeda. Ketersediaan air berbeda. Iklim berbeda. Sistem irigasi berbeda. Kemampuan petani mengelola air juga berbeda. Karena itu, kebijakan tidak boleh menggunakan pendekatan: satu teknologi untuk semua sawah.

Selain teknologi, petani membutuhkan pendampingan. Kelembagaan irigasi perlu diperkuat. Informasi cuaca dan kondisi air perlu lebih mudah diakses.

Dan jika petani diminta mengubah praktik budidayanya untuk membantu mencapai target mitigasi perubahan iklim, harus ada insentif yang masuk akal. Jangan sampai keuntungan lingkungannya dinikmati semua orang, tetapi risikonya ditanggung sendirian oleh petani. Kita membutuhkan kebijakan yang lebih cerdas.

Baca Juga: Aset Rumah Tangga Orang Jabar dalam Satu Dekade: Motor Paling Banyak Tapi Emas Berkurang

Menurut saya, inilah yang seharusnya menjadi arah kebijakan pertanian rendah emisi.AWD jangan hanya menjadi program efisiensi air. AWD harus ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan sumber daya alam yang terintegrasi.

Artinya, pemerintah perlu melihat air, tanah, emisi, pangan, dan petani sebagai satu sistem. Keberhasilan juga harus dinilai secara lebih lengkap. Air harus lebih efisien. Emisi harus lebih rendah. Produktivitas harus tetap terjaga. Petani harus mendapatkan manfaat. Dan sistemnya harus dapat berjalan ketika proyek sudah selesai. Kita juga membutuhkan pengukuran emisi yang lebih baik. Jangan sampai sebuah lahan disebut rendah emisi hanya karena menggunakan air lebih sedikit.

Yang perlu kita ketahui adalah apa yang benar-benar terjadi terhadap CH₄ dan N₂O serta bagaimana dampaknya terhadap keseluruhan sistem produksi pangan. Sebab pada akhirnya, manusia tidak makan hektare. Manusia makan beras. Sawah masa depan bukan sawah yang paling basah. Perubahan iklim memaksa kita mengubah banyak kebiasaan. Termasuk cara melihat sawah.

Sawah yang baik bukanlah sawah yang paling banyak airnya. Sawah yang baik adalah sawah yang airnya dikelola sesuai kebutuhan, tanamannya tetap tumbuh, hasil pangan tetap tersedia, emisinya dapat ditekan, dan petaninya tidak ditinggalkan. Teknologi dapat membantu. Sensor dapat membaca kondisi tanah dan air. Data iklim dapat membantu menentukan kebutuhan air.

Model dapat membantu memprediksi emisi. Bahkan kecerdasan buatan dapat dikembangkan untuk membantu pengambilan keputusan pengelolaan air yang lebih adaptif. Tetapi jangan lupa satu hal. Teknologi tidak menanam padi. Petanilah yang melakukannya.

Karena itu, masa depan pertanian rendah emisi tidak boleh hanya dirancang di ruang rapat atau laboratorium. Ia harus dirancang bersama orang yang setiap hari berdiri di pematang sawah. Saya mendukung AWD sebagai salah satu jalan menuju pertanian padi rendah emisi.

Tetapi AWD tidak boleh berhenti sebagai jargon baru. Tidak cukup hanya membagikan pipa.

Tidak cukup hanya mengejar luas lahan. Dan tidak cukup hanya mengatakan bahwa kita sudah melakukan mitigasi perubahan iklim.

Kita membutuhkan kebijakan yang berbasis data, kondisi lokal, kelembagaan irigasi yang kuat, pengukuran emisi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta insentif yang membuat petani bersedia dan mampu menerapkannya. Sebab kita tidak sedang memilih antara beras dan lingkungan. Kita sedang mencari cara agar keduanya tetap tersedia. Dan mungkin, selama ini kita memang terlalu sederhana dalam memandang sawah. Kita mengira sawah yang baik adalah sawah yang selalu basah. Padahal yang kita butuhkan bukan sawah yang selalu basah. Kita membutuhkan sawah yang dikelola dengan bijak. Sebab di antara air, beras, dan metana, semuanya sedang berebut ruang. Dan tugas kita bukan mengusir salah satunya.

Tugas kita adalah mengatur ruang itu agar pangan tetap tumbuh, air tidak terbuang, emisi tidak semakin tinggi, dan petani tetap punya masa depan. N2O

 

Berita Terkait
Berita Terkini