Mengais Butiran Emas di Nusa Teluk Jati, Rezeki Dibalik Pendangkalan Sungai Cikaso

Sukabumiupdate.com
Minggu 26 Apr 2026, 16:34 WIB
Mengais Butiran Emas di Nusa Teluk Jati, Rezeki Dibalik Pendangkalan Sungai Cikaso

Warga Tegalbuleud Kabupaten Sukabumi saat mengais pasir mencari butiran emas di Nusa Teluk Jadi, pulau yang terbentuk akibat pendangkalan | Foto : Ragil Gilang

SUKABUMIUPDATE.com – Aktivitas tak biasa terlihat di aliran Sungai Cikaso. Di tengah derasnya arus sungai, puluhan warga tampak sibuk mengais pasir, menyaring lumpur, hingga menyemprot gundukan tanah yang membentuk pulau kecil untuk berburu butiran emas.

Warga setempat menyebut pulau kecil itu dengan nama Nusa Teluk Jati. Lokasinya termasuk wilayah Desa Sumberjaya, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, tidak jauh dari Jembatan Cikaso yang menjadi perbatasan dengan Kecamatan Cibitung.

Sejak pertengahan Juli 2025, aktivitas berburu butiran emas secara tradisional masih terus berlangsung. Dampaknya, pulau kecil yang terbentuk akibat banjir besar pada 2022 dan kembali diperparah oleh banjir 2024, kini sedikit demi sedikit menipis akibat aktivitas warga yang rutin mendulang.

Nusa Teluk Jati diperkirakan memiliki lebar sekitar 30 meter dengan panjang mencapai 120 meter. Endapan pasir yang semula cukup tinggi membuat aliran sungai menjadi dangkal dan menghambat arus air.

Salah seorang warga setempat, UG (37 tahun), mengatakan aktivitas tersebut bukanlah penambangan besar-besaran, melainkan hanya upaya mencari butiran emas yang tersimpan di endapan pasir sungai.

“Ini bukan tambang pasir besar-besaran, hanya mencari butiran emas secara tradisional. Warga mengambil pasir sungai sekitar satu meter, lalu disaring pakai nampan untuk mencari butiran emas,” ujarnya kepada sukabumiupdate.com, Minggu (26/4/2026).

Baca Juga: Perkuat Komunikasi dengan Warga, DPRD Jabar Citra Bhakti di Keramat Kota Sukabumi

Menurutnya, selain menggunakan cara manual dengan nampan, sebagian warga juga melakukan penyemprotan gundukan tanah menggunakan mesin selang atau yang biasa disebut ngaguguntur. “Pasir dan tanah disemprot, lalu hasilnya diolah lagi dengan cara deplang. Semua masih sederhana, tidak pakai alat berat,” katanya.

Kata UG, aktivitas warga tersebut sedikit membantu mengurangi pendangkalan sungai. Gundukan pasir yang selama ini membentuk pulau kecil perlahan mulai terkikis dan aliran air kembali terbuka.

“Kalau dibiarkan, sungai makin dangkal. Sekarang sudah mulai kelihatan menipis. Jadi selain mencari rezeki, warga juga membantu mengurangi endapan banjir,” tambahnya.

Setiap hari, warga mulai berburu emas sejak pukul 09.00 WIB hingga 17.00 WIB. Dari aktivitas tersebut, mereka bisa memperoleh sekitar 150 hingga 200 miligram emas. Usai bekerja, warga kembali ke daratan dengan menggunakan perahu kecil untuk menyeberangi aliran sungai.

Pemandangan ini menjadi rutinitas unik yang menggambarkan cara warga memanfaatkan sumber daya alam secara tradisional tanpa merusak lingkungan. Di tengah keterbatasan ekonomi, Sungai Cikaso tidak hanya menjadi aliran air yang membelah desa, tetapi juga menjadi ruang harapan bagi warga yang menggantungkan rezeki dari butiran emas di balik pasir-pasirnya.

Berita Terkait
Berita Terkini