Penulis: Indah Mustika Choirum,
Belakangan ini, linimasa media sosial dan pemberitaan nasional dihiasi oleh pemandangan yang tidak biasa: ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) mengenakan seragam loreng, berbaris rapi di bawah terik matahari, dan menjalani latihan fisik yang intens. Fenomena ini adalah Pelatihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) untuk c (Komcad). Program yang semula dipandang sebagai ranah militer murni, kini bertransformasi menjadi instrumen strategis dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia.
Ekspansi program ini kian nyata. Setelah melibatkan ASN dari 55 kementerian dan lembaga, pemerintah berencana mewajibkan atau setidaknya memprioritaskan penerima beasiswa LPDP untuk ikut serta pada tahun 2026. Tak berhenti di sana, posisi manajerial sipil seperti manajer Koperasi Merah Putih pun kini mulai diintegrasikan ke dalam sistem pelatihan serupa. Pertanyaannya: mengapa militerisme masuk ke ruang-ruang profesional sipil, dan apa kaitannya dengan kualitas SDM kita?
Definisi HRD dan Konteks Latsarmil
Dalam disiplin ilmu pengembangan manusia, Human Resource Development (HRD) didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas sistematis dan terencana yang dirancang oleh organisasi untuk memberikan kesempatan kepada anggotanya dalam mempelajari keterampilan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan pekerjaan saat ini dan di masa depan. Pelatihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) Komcad memenuhi kriteria ini sebagai intervensi pengembangan karakter di luar ruang kelas konvensional.
Baca Juga: Mutasi Jabatan di Polres Sukabumi Kota: Kasat Reskrim-Lantas hingga Kapolsek Resmi Berganti
Upaya pemerintah mengikutsertakan ASN, intelektual (LPDP), dan pengelola ekonomi (Koperasi) sejalan dengan konsep "New Learning and Performance Wheel" yang dikemukakan oleh Davis dkk. (2004), di mana strategi bisnis, atau dalam hal ini strategi negara, harus menjadi hub dari semua upaya pembelajaran. Transformasi ini menggeser paradigma lama yang hanya fokus pada kemampuan kognitif, menuju pengembangan kapasitas manusia yang utuh.
ASN: Penguatan Pondasi Birokrasi melalui Disiplin Militer
Partisipasi ASN dari 55 kementerian dan lembaga pada gelombang pertama tahun 2026 merupakan langkah besar dalam reformasi birokrasi. Menurut data Kementerian Pertahanan RI (2026), ribuan ASN tengah mengikuti Latsarmil untuk memperkuat sistem pertahanan semesta.
Secara teoritis, keterlibatan ASN ini dapat dijelaskan melalui Model Perilaku Karyawan yang membagi pengaruh perilaku menjadi kekuatan eksternal dan internal. Latsarmil bertindak sebagai kekuatan eksternal (lingkungan kerja dan kepemimpinan) yang dirancang untuk mengubah kekuatan internal seperti motivasi, sikap, dan Knowledge, Skills, and Abilities (KSAs).
Baca Juga: Yusuf Maulana Dorong Situ Batu Karut Sukabumi Jadi Kawasan Konservasi dan Wisata
Melalui pelatihan ini, para peserta "ditempa" untuk memiliki Jiwa Korsa guna meruntuhkan sekat ego sektoral melalui penguatan budaya organisasi serta solidaritas lintas instansi. Selain itu, penguatan Resiliensi membekali mereka dengan ketangguhan mental untuk tetap bertahan dan berkinerja optimal di bawah tekanan pelayanan publik yang kian dinamis. Penanaman Loyalitas juga bertujuan memperkuat sikap nasionalisme sebagai bagian integral dari etika profesi yang mempengaruhi motivasi internal setiap individu.
Hal ini berkaitan dengan teori Human Capital dari Gary Becker (1964) yang menyatakan bahwa investasi pada manusia bukan hanya soal keterampilan teknis, melainkan juga atribut personal yang meningkatkan produktivitas.
LPDP 2026: Mencetak Intelektual yang Membumi
Rencana mewajibkan penerima beasiswa LPDP mengikuti Komcad pada tahun 2026 memicu diskusi hangat. LPDP adalah investasi besar negara pada kecerdasan otak. Namun, intelektualitas tanpa ketangguhan mental seringkali menciptakan kesenjangan antara elit terdidik dan realitas nasional.
Baca Juga: Warga Sambut Antusias Dukungan AQUA di Pagelaran Seni Sunda Desa Batusari
Dalam teori Trainability (kemampuan untuk dilatih), kesuksesan belajar adalah himpunan dari motivasi, kemampuan, dan persepsi lingkungan kerja. Bagi penerima LPDP, kemampuan kognitif biasanya sangat tinggi. Namun, tanpa motivasi pengabdian yang kuat terhadap tanah air, investasi pendidikan tersebut bisa saja hilang (misalnya melalui brain drain). Latsarmil bertujuan menyelaraskan motivasi tersebut.
Manajer Koperasi Merah Putih: Kepemimpinan di Garis Depan Ekonomi
Koperasi Merah Putih, sebagai motor ekonomi kerakyatan, membutuhkan manajer yang tidak hanya paham neraca keuangan, tetapi juga memiliki ketegasan pemimpin lapangan. Pengikutsertaan manajer koperasi dalam Komcad menunjukkan bahwa ketahanan nasional kini mencakup dimensi ekonomi dan pangan.
Kepemimpinan adalah penggunaan pengaruh non-koersif untuk mengarahkan aktivitas kelompok menuju pencapaian tujuan. Melalui pelatihan militer, para manajer koperasi dilatih menggunakan model kepemimpinan yang tegas dan disiplin, yang menurut teori Leader-Member Exchange (LMX), dapat meningkatkan kualitas hubungan kerja, kepuasan, dan kinerja jika diterapkan dengan tepat.
Baca Juga: Menkes Budi Gunadi Sadikin Dilaporkan ke Polda Metro Jaya Terkait Dugaan Gelar Palsu
Mengapa Harus Militer?
Kritik mengenai "militerisasi sipil" sering muncul. Namun, jika kita melihat dari perspektif High Performance Work Systems (HPWS), negara berusaha menciptakan sinergi antara praktik manajemen, struktur, dan sistem SDM untuk mencapai produktivitas maksimal. Komcad bagi sipil adalah bentuk standardisasi karakter nasional.
Melalui tantangan fisik, peserta belajar meningkatkan efikasi diri untuk mengambil keputusan taktis di situasi sulit.
Keberhasilan jangka panjang dari kebijakan ini pada akhirnya sangat bergantung pada sejauh mana para peserta secara nyata menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai baru yang diperoleh di lapangan ke dalam pekerjaan harian mereka. Agar proses ini berjalan optimal, diperlukan dukungan kuat dari lingkungan kerja melalui penciptaan iklim transfer pelatihan yang positif, yang mencakup situasi dan konsekuensi untuk memfasilitasi penerapan perilaku baru tersebut secara konsisten di lingkungan sipil.
Baca Juga: Wali Kota Sukabumi Dorong ASN Jadi Pelopor Kepatuhan Pajak
Menuju Indonesia Emas 2045
Integrasi berbagai elemen sipil ke dalam Komcad merupakan manifestasi dari pengembangan SDM yang bersifat makro. Ini bukan sekadar tentang persiapan perang, melainkan tentang membangun fondasi karakter bangsa yang tangguh.
Indonesia membutuhkan SDM yang tidak hanya pintar secara kognitif, tetapi juga memiliki resiliensi fisik dan mental yang telah teruji.
Sebagai sebuah strategi besar, ekspansi Komcad adalah upaya Indonesia untuk melakukan scale-up terhadap kualitas SDM-nya secara kolektif. Dari ASN hingga manajer koperasi, semua diarahkan untuk menjadi satu kesatuan yang disiplin di bawah naungan kepentingan nasional. Jika dikelola dengan prinsip pengembangan SDM yang modern, program ini bisa menjadi katalisator bagi lahirnya profesionalisme sipil yang unggul, berintegritas, dan siap menjaga kedaulatan bangsa di segala bidang.
Penulis adalah Mahasiswi Magister FIA UI dan ASN Kementerian Sekretariat Negara.

