Tak Kebagian Rp10 Juta dari KDM, Penyintas Bencana di Babakan Cisarua Simpenan: Setahun Lebih Menunggu Bantuan

Sukabumiupdate.com
Kamis 08 Jan 2026, 18:57 WIB
Tak Kebagian Rp10 Juta dari KDM, Penyintas Bencana di Babakan Cisarua Simpenan: Setahun Lebih Menunggu Bantuan

Kondisi terkini Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, setelah diterjang banjir bandang sungai Cidadap. (Sumber : SU/Ilyas).

SUKABUMIUPDATE.com - Derita panjang dialami oleh puluhan warga korban banjir bandang Sungai Cidadap di Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sudah satu tahun berlalu sejak bencana pertama, namun hingga kini mereka masih bertahan hidup dalam kondisi memprihatinkan, tanpa kepastian bantuan maupun relokasi.

Rumah-rumah warga di RT 02 RW 15 Kampung Babakan Cisarua hancur rata dengan tanah, sebagian ambruk dan sisanya terkubur pasir akibat terjangan banjir bandang. Bahkan, bencana paling parah yang terjadi pada akhir Desember 2025 lalu nyaris melenyapkan satu kampung.

Ironisnya, di tengah kondisi memilukan para korban ini justru bukan termasuk yang mendapatkan bantuan biaya kontrakan Rp10 juta dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias Kang Dedi Mulyadi (KDM).

Informasi yang dihimpun, bantuan Rp10 juta tersebut justru lebih dulu diterima oleh 23 kepala keluarga (KK) di Kampung Sawah Tengah, terdampak bencana pada Desember 2025. Sementara warga Babakan Cisarua yang telah tiga kali dilanda bencana sejak 2024, hingga Desember 2025 hanya bisa gigit jari.

Baca Juga: 30 Link Twibbon Isra Miraj 2026, Gratis Tinggal Langsung Pasang!

"Di sini kami ingin menyampaikan keluhan dan isi hati warga Kampung Babakan Cisarua yang merasa disepelekan oleh pemerintah. Padahal di sinilah bencana paling besar terjadi. Di kampung ini sudah tiga kali bencana, banjir bandang sampai longsor," ujar Wulan kepada Sukabumiupdate.com, pada Kamis (8/1/2025).

Menurut Wulan, bencana pertama terjadi pada Desember 2024, disusul banjir bandang Maret 2025, dan yang paling parah pada Desember 2025. Banjir terakhir itu menghanyutkan rumah-rumah warga dan membuat kampung tersebut seolah "mati".

"Pada Desember 2025, lima kampung di Kedusunan Kawungluwuk terdampak. Tapi yang paling parah itu Kampung Babakan Cisarua," ungkapnya.

Warga juga mengaku semakin terpukul ketika mengetahui bantuan tunai untuk kontrakan justru diberikan kepada warga lain yang rumahnya masih berdiri, sementara mereka yang rumahnya hanyut dan tinggal puing-puing tak mendapat apa-apa.

Baca Juga: Kabupaten Sukabumi Raih Penghargaan Presiden atas Dukungan Swasembada Pangan

"Katanya yang kena bencana bakal direlokasi dan dikasih uang kontrakan. Tapi sampai sekarang, jangankan relokasi, biaya kontrakan pun kami tidak pernah menerima," kata Wulan.

Sementara itu, Ketua RT 02 Kampung Babakan Cisarua, Heri menyampaikan bahwa wilayahnya merupakan lokasi pertama yang terdampak parah banjir bandang Sungai Cidadap.

"Banjir besar itu terjadi bulan puasa, Maret 2025, sekitar jam enam sore menjelang buka puasa. Air sungai meluap, rumah-rumah langsung roboh semua," kata Heri.

Sedikitnya 13 rumah hancur total, sementara jika digabung dengan rumah rusak berat dan puing-puing, total terdampak mencapai 48 rumah dengan 48 KK. Heri mengaku sudah berulang kali melapor ke pemerintah desa, namun hingga kini belum ada tindak lanjut nyata.

"Saya mohon ke Pak Gubernur Dedi, tolong tinjau langsung ke lokasi. Warga saya tidurnya di puing-puing rumah. Masa yang rumahnya masih bagus dikasih uang kontrakan Rp10 juta, sementara yang rumahnya hanyut dan tinggal pasir tidak dapat apa-apa," ucap Heri lirih.

Ia bahkan mengaku terpukul secara mental melihat kondisi warganya yang sudah setahun hidup dalam ketidakpastian.

"Sudah satu tahun. Ada juga yang tinggal di rumah saudara, ada yang tetap bertahan di puing-puing rumah," tuturnya.

 

Berita Terkait
Berita Terkini