Gerakan Cegah Cacingan dan Stunting, Kadinkes Sukabumi Apresiasi KUCING UNYU Puskesmas Kabandungan

Sukabumiupdate.com
Kamis 15 Jan 2026, 13:47 WIB
Gerakan Cegah Cacingan dan Stunting, Kadinkes Sukabumi Apresiasi KUCING UNYU Puskesmas Kabandungan

ilustrasi gunting kuku. Dinkes Kabupaten Sukabumi apresiasi gerakan cegah cacingan di Kabandungan (Sumber: edit by copilot)

SUKABUMIUPDATE.com - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, mengapresiasi inovasi KUCING UNYU (Gunting Kuku untuk Mencegah Kecacingan dan Stunting) yang digagas Puskesmas Kabandungan sebagai upaya pencegahan stunting dan penyakit kecacingan pada anak.

Masykur menjelaskan, inovasi tersebut sejalan dengan program penanganan stunting di tingkat kabupaten. Menurutnya, salah satu faktor yang disinyalir berkontribusi terhadap kekurangan gizi dan stunting adalah kondisi yang tidak higienis, termasuk kebersihan diri anak.

“Di Puskesmas Kabandungan ada inovasi KUCING UNYU, intinya untuk pencegahan stunting dengan cara membiasakan gunting kuku secara rutin. Ini berkaitan dengan upaya mencegah kecacingan akibat perilaku hidup yang kurang higienis,” ujarnya kepada sukabumiupdate.com, Rabu (14/1/2026).

Baca Juga: Kak Seto Buka Suara soal Pernah Mengabaikan Kasus Child Grooming Aurelie Moeremans

Ia menuturkan, di tingkat Kabupaten Sukabumi, Dinas Kesehatan memiliki program Gadis Sukabumi (Gerakan Aksi Deteksi dan Intervensi Stunting di Sukabumi) yang direplikasi di seluruh puskesmas. Dari program tersebut, masing-masing puskesmas kemudian mengembangkan inovasi sesuai dengan permasalahan wilayahnya.

“Dari 58 puskesmas yang ada, semuanya mereplikasi inovasi penanganan stunting dengan pendekatan yang berbeda. Di Kabandungan, inovasinya diwujudkan melalui KUCING UNYU, yaitu membiasakan anak-anak gunting kuku untuk menghindari kecacingan,” kata Masykur.

Ia menyebutkan, kegiatan KUCING UNYU yang dilaksanakan di SD Cipeuteuy merupakan bagian dari upaya edukasi sejak dini. Program tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman kasus kecacingan yang sempat terjadi di wilayah Kabandungan, sehingga menjadi pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang.

Baca Juga: Hanya Ada Spanduk Ini! Warga Sukabumi Soroti Transparansi Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih

“Kita tidak ingin lagi ada kejadian kecacingan seperti sebelumnya. Gunting kuku ini sederhana, tapi penting untuk mencegah penyakit cacing, yang pada akhirnya juga berhubungan dengan risiko stunting,” ujarnya.

Terkait kondisi terkini, Masykur menyampaikan bahwa angka stunting dan kecacingan di wilayah kerja Puskesmas Kabandungan masih tergolong cukup tinggi. Berdasarkan data terakhir, prevalensi di Kabandungan berada di angka sekitar 16 persen, sementara rata-rata tingkat kabupaten berada di angka 20,5 persen.

“Memang lebih rendah dari rata-rata kabupaten, tapi tetap harus menjadi perhatian karena angkanya masih cukup tinggi,” katanya.

Masykur menegaskan, penurunan stunting merupakan target bersama yang harus dicapai secara bertahap. Pemerintah Kabupaten Sukabumi menargetkan angka stunting dapat ditekan hingga sekitar 14 persen. Namun, ia mengingatkan bahwa stunting merupakan gangguan gizi kronis yang tidak mudah dipulihkan ketika sudah terjadi.

Baca Juga: Pelaksana Kembali Perbaiki Jalan Mekarjaya–Tagoglalay Usai Viral, PU Sukabumi Awasi Kualitas Pekerjaan

“Stunting itu kekurangan gizi kronis. Kalau sudah terjadi, tidak mudah untuk diintervensi. Maka fokus utama kita adalah pencegahan dan deteksi dini,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai fase krusial. Deteksi stunting yang dilakukan sejak dini, terutama sebelum anak berusia dua tahun, memiliki peluang keberhasilan intervensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan jika terlambat terdeteksi.

“Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang perbaikannya. Sebaliknya, kalau sudah lewat 1.000 HPK, persentase keberhasilannya memang menurun,” ujarnya.

Baca Juga: PPA DP3A Sukabumi: Tidak Ada Restorative Justice dalam Kasus Kekerasan Seksual terhadap Anak

Menurutnya, pencegahan dimulai sejak masa kehamilan dengan memastikan ibu hamil melahirkan bayi yang sehat dan tidak stunting. Setelah bayi lahir normal, pemantauan harus dilakukan secara rutin, terutama terhadap pola kenaikan berat badan setiap bulan sesuai standar pertumbuhan.

“Kalau dari lahir sampai satu bulan seharusnya berat badan naik sekitar 900 gram, tapi ternyata hanya naik 500 gram, itu sudah menjadi tanda awal yang harus segera diintervensi,” katanya.

Ia menjelaskan, deteksi dini terhadap penyimpangan berat badan menjadi langkah paling logis untuk mencegah anak jatuh ke kondisi stunting. Selain itu, faktor lingkungan, sanitasi, pola asuh, dan kebersihan juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.

Baca Juga: Sejumlah Ruas Jalan di Ciemas Sukabumi Terendam Banjir Langganan

“Anak itu prosesnya dari normal, lalu berat badan kurang, gizi kurang, gizi buruk, baru kemudian stunting. Maka kita harus mencegah sejak tahap paling awal, termasuk dengan menjaga kebersihan lingkungan dan perilaku hidup sehat,” pungkasnya. (adv)

 

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini