Kak Seto Buka Suara soal Pernah Mengabaikan Kasus Child Grooming Aurelie Moeremans

Sukabumiupdate.com
Kamis 15 Jan 2026, 12:30 WIB
Kak Seto Buka Suara soal Pernah Mengabaikan Kasus Child Grooming Aurelie Moeremans

Kak Seto Buka Suara soal Pernah Mengabaikan Kasus Child Grooming Aurelie Moeremans (Sumber : Instagram/@kaksetosahabatanak)

SUKABUMIUPDATE.com - Nama Seto Mulyadi atau lebih dikenal Kak Seto tengah menjadi perhatian publik usai ikut terseret dalam buku Broken Strings milik aktris Aurelie Moeremans.

Seperti diketahui, Aurelie Moeremans merilis Broken Strings yang menceritakan tentang pengalaman sebagai korban child grooming dan manipulasi oleh seorang pria yang disebut Bobby dalam bukunya saat masih remaja.

Ketika buku tersebut menjadi viral di media sosial, publik mencari tahu tentang masa lalu yang dialami Aurelie, termasuk peran Kak Seto saat orang tua sang aktris meminta perlindungan kepadanya saat itu adalah pimpinan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Mengutip dari Suara.com, saat itu, laporan orang tua Aurelie disebut terkesan berjalan di tempat dan tak mendapatkan respons berarti. Atas hal tersebut, Kak Seto kini menuai respons tajam dari publik atas responsnya terhadap kasus Aurelie saat itu.

Menanggapi polemik tersebut, Kak Seto akhirnya angkat bicara melalui akun Instagram pribadinya pada Rabu, 14 Januari 2026. Ia menyadari bahwa responsnya di masa lalu kini kembali dipertanyakan publik.

“Kami mengikuti dengan sungguh-sungguh diskusi publik yang berkembang, termasuk berbagai kutipan dan pernyataan di masa lalu yang kembali diangkat,” tulis Kak Seto dikutip dari Suara.com pada Kamis, (15/01/2026).

Baca Juga: Aurelie Moeremans Ceritakan Trauma Child Grooming Lewat Buku Broken Strings

Kak Seto menjelaskan bahwa praktik pendampingan anak telah mengalami banyak perubahan dalam lebih dari satu dekade terakhir.

“Perlu kami sampaikan bahwa praktik pendampingan anak dan cara pandang terhadap relasi kuasa, kerentanan remaja, serta dampak psikologis jangka panjang telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa pada masanya, setiap pendampingan dilakukan berdasarkan pengetahuan dan kerangka pemahaman yang berlaku saat itu.

“Pada masanya, setiap pendampingan dan pernyataan disampaikan berdasarkan pengetahuan, kewenangan, serta kerangka pemahaman yang berlaku saat itu,” lanjut Kak Seto.

Berbeda dari standar yang dulu, Kak Seto mengakui bahwa standar perlindungan anak saat ini jauh lebih ketat.

“Namun kami menyadari bahwa standar perlindungan anak hari ini menuntut kepekaan, kehati-hatian, dan perspektif yang jauh lebih kuat terhadap potensi manipulasi, tekanan emosional, dan ketimpangan kuasa,” tulisnya.

Atas kasus yang dialami Aurelie tersebut, Kak Seto menegaskan bahwa itu akan menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk ke depannya.

“Oleh karena itu, kami menjadikan refleksi atas praktik masa lalu sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan untuk memperkuat perlindungan anak ke depan,” katanya.

Masih dalam pernyataannya, Kak Seto juga secara tegas mengecam praktik grooming.

“Kami mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara, dan praktik child grooming,” tulisnya.

Ia menegaskan bahwa anak tidak bisa dimintai tanggung jawab atas relasi yang dibangun secara manipulatif. Lebih lanjut, ia juga menyampaikan apresiasinya kepada para korban yang berani bersuara.

Baca Juga: Sinopsis Broken Strings: Buku Aurelie Moeremans tentang Trauma Child Grooming

Menurutnya, suara para korban menjadi pengingat penting bagi semua pihak. Ia menilai hal tersebut penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki dan diperkuat.

“Kami memandang suara tersebut sebagai pengingat penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki, diperkuat, dan semakin berpihak pada kepentingan terbaik anak,” tambahnya.

Di akhir klarifikasinya, Kak Seto mengajak publik menyikapi isu ini dengan bijaksana dan fokus pada tujuan bersama. Ia juga tetap berkomitmen untuk menciptakan ruang aman bagi anak-anak Indonesia.

“Kami mengajak seluruh pihak untuk menyikapi isu ini dengan empati, kebijaksanaan, dan fokus pada tujuan bersama: menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak Indonesia hari ini dan di masa depan” tutupnya.

Sumber: Suara.com

Berita Terkait
Berita Terkini