El Nino “Godzilla”: Suhu Panas, Dunia Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem

Sukabumiupdate.com
Selasa 17 Mar 2026, 10:22 WIB
El Nino “Godzilla”: Suhu Panas, Dunia Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem

Ilustrasi - Cuaca ekstrem potensi terjadi karena adanya El Nino Godzilla (Sumber : Pixabay.com/@geralt).

SUKABUMIUPDATE.com - Fenomena El Niño Godzilla diprediksi berpotensi akan kembali terbentuk di Samudra Pasifik pada agustus mendatang. Hal ini ditengarai oleh suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis diperkirakan akan meningkat tajam.

Kenaikan suhu yang cukup signifikan ini membuat beberapa prakiraan awal memperkirakan adanya kemungkinan sekitar 22 persen terjadinya El Niño super pada Agustus 2026. Selain itu, terdapat kemungkinan 98 persen terjadinya El Niño tingkat moderat dan sekitar 80 persen kemungkinan El Niño kuat.

El Niño Godzilla

El Niño–Southern Oscillation (ENSO) merupakan siklus iklim alami yang dipicu oleh perubahan suhu permukaan laut dan tekanan atmosfer di wilayah Pasifik tropis bagian timur. 

Walaupun tampak sebagai fenomena regional, tapi dampaknya dapat dirasakan langsung di seluruh dunia. ENSO dapat memengaruhi suhu global, pola curah hujan, kekeringan, siklon tropis, gelombang panas, dan berbagai kondisi cuaca ekstrem lainnya.

ENSO memiliki tiga fase utama, yaitu:

  • El Niño, fase hangat
  • La Niña, fase dingin
  • Fase netral, yaitu kondisi di antara keduanya

Pada periode El Niño, suhu rata-rata global biasanya meningkat secara signifikan. Perubahan pola cuaca juga terjadi di berbagai wilayah dunia. Misalnya, wilayah selatan Amerika Serikat dan Eropa bagian selatan cenderung mengalami curah hujan lebih tinggi serta peningkatan risiko banjir. Sebaliknya, wilayah utara Amerika Utara umumnya menjadi lebih kering dan lebih hangat dari biasanya.

Menariknya, El Niño juga dapat menekan musim badai di Atlantik. Hal ini terjadi karena kondisi atmosfer yang menghangatkan Pasifik menciptakan geser angin yang mengganggu pembentukan badai di Samudra Atlantik. Namun, di wilayah Pasifik tengah dan timur, aktivitas badai justru meningkat.

Saat ini, kondisi iklim global tampaknya sedang beralih dari La Niña yang lemah menuju fase El Niño, dan ada kemungkinan peristiwa ini berkembang menjadi El Niño yang kuat.

Ilustrasi. BMKG Imbau Masyarakat Tampung Air Hujan Jelang Musim KemarauIlustrasi. Musim Kemarau. | Freepik/wirestock.

Dalam sejarahnya, El Niño yang sangat kuat pernah mendapat julukan “El Niño Godzilla.” Meski sebenarnya tidak ada makhluk raksasa seperti di film yang benar-benar menghancurkan kota, akan tetapi julukan tersebut menggambarkan betapa besar dan kuatnya dampak fenomena ini terhadap sistem iklim bumi.

Peristiwa El Niño Godzilla tercatat terakhir terjadi pada 2015–2016 lalu. Saat itu, suhu di Pasifik timur meningkat sangat tinggi dan memicu berbagai bencana lingkungan di berbagai belahan dunia.

Namun lembaga-lembaga meteorologi dunia seperti National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), World Meteorological Organization (WMO), serta Bureau of Meteorology Australia, hingga saat ini belum menyatakan apakah fenomena iklim tahun ini akan memecahkan rekor. 

Meski demikian, mereka telah mengisyaratkan bahwa kemungkinan terjadinya El Niño semakin meningkat.

Para ahli menegaskan bahwa masih terlalu dini untuk membuat prediksi pasti. Karena itu, kondisi iklim global akan terus dipantau secara intensif dalam beberapa minggu dan bulan ke depan.

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, mengatakan bahwa komunitas meteorologi dunia akan terus mengawasi perkembangan ini dengan saksama.

“Komunitas WMO akan memantau kondisi dengan cermat dalam beberapa bulan mendatang untuk memberikan informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan. El Niño terakhir, pada 2023–2024, merupakan salah satu dari lima El Niño terkuat yang pernah tercatat dan turut berkontribusi terhadap rekor suhu global pada tahun 2024,” ujarnya dalam sebuah pernyataan awal bulan ini.

Saulo juga menegaskan bahwa prakiraan musiman terkait El Niño dan La Niña memiliki peran penting dalam berbagai sektor.

“Prakiraan musiman untuk El Niño dan La Niña membantu mencegah kerugian ekonomi hingga jutaan dolar dan menjadi alat perencanaan penting bagi sektor-sektor yang sensitif terhadap iklim, seperti pertanian, kesehatan, energi, dan pengelolaan air. Prakiraan ini juga merupakan bagian penting dari intelijen iklim yang disediakan WMO untuk mendukung operasi kemanusiaan dan manajemen risiko bencana, sehingga dapat membantu menyelamatkan nyawa,” jelasnya.

Fenomena iklim berskala besar seperti El Niño dan La Niña sebenarnya merupakan peristiwa alami. Namun, keduanya kini terjadi dalam konteks perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. 

Kondisi ini menyebabkan suhu global meningkat dalam jangka panjang, memperparah kejadian cuaca ekstrem, serta memengaruhi pola curah hujan dan suhu musiman di berbagai wilayah dunia.

Selain itu, pembaruan tersebut juga memantau anomali suhu permukaan dan curah hujan, baik secara global maupun regional, serta memproyeksikan perkembangannya pada musim berikutnya.

Dalam laporan terbaru disebutkan bahwa periode Maret hingga Mei 2026 menunjukkan sinyal global yang cukup luas berupa suhu permukaan daratan yang berada di atas rata-rata.

Sementara itu, prakiraan curah hujan di wilayah Pasifik khatulistiwa masih memperlihatkan pola yang menyerupai La Niña yang berlanjut. Namun, di wilayah lain di dunia, pola curah hujan diperkirakan akan lebih beragam.

Sumber: World Meteorological Organization (WMO). 

 

Berita Terkait
Berita Terkini