SUKABUMIUPDATE.com - Sebelum adanya cara pengobatan modern, para leluhur Nusantara termasuk masyarakat Sunda zaman dulu sudah mengenal berbagai obat tradisional.
Kebanyakan obat-obatan tersebut memanfaatkan tumbuh-tumbuhan herbal yang banyak tersedia di alam. Obat tradisional tidak difungsikan untuk mengobati tapi banyak juga yang bermanfaat untuk mencegah serangan penyakit.
Hal ini terungkap dalam berbagai naskah kuno seperti yang disampaikan Dosen Departemen Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (UNPAD) Dr. Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S., dikutip dari laman resmi UNPAD.
Baca Juga: Babi Hutan Serang Lahan Jagung di Cidolog: 50 Persen Hancur, Petani Was-was Gagal Panen
Menurutnya ada beberapa naskah kuno Sunda yang mengungkap seluk beluk tanaman obat dan pengobatan tradisional.
“Ada yang menjelaskan seputar khasiat untuk menangkal dan mengobati, ataupun sekadar imunitas tubuh,” kata Dr. Elis.
Pengobatan tradisional terkuak lewat naskah Sunda kuno abad XVI M., Kropak 421 Mantera Aji Cakra yang berisi mantra penangkal, Darmapamulih (mantra pengobatan), serta pada Kropak 409 ‘Soeloek Kidoengan Tetoelak Bilahi’.
Naskah tersebut berbahan lontar serta menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuna. Selain itu, terungkap juga dalam Naskah Pengobatan beraksara Pegon.
Naskah ini menguak tumbuhan yang berfungsi sebagai penangkal serangan penyakit beserta cara pengobatannya. Pada naskah ini, sejumlah tanaman herbal seperti jenis-jenis kunyit, temulawak, serta kunir diungkap manfaatnya.
Baca Juga: Arti Paribahasa Sunda “Ulah Pagiri-giri Calik, Pagirang-girang Tampian”
“Temulawak mengandung minyak atsiri, yang berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh. Kunir selain meningkatkan kekebalan tubuh, mengobati demam, diare, antikanker dan scabies, mencegah depresi, mengatasi peradangan, mencegah alzheimer, maag, menghambat kerusakan kromosom, menjaga kekuatan otak, menurunkan depresi, dan menjaga gula pada penderita diabetes,” katanya.
Ada pula disebutkan khasiat dari tanaman lainnya, seperti rumput teki sebagai obat jantung, asma, dan kanker, daun sembung untuk menyembuhkan flu, batang secang sebagai obat radang dan demam, serta babadotan untuk mengatasi demam dan malaria.
Perihal imunitas tubuh, naskah tersebut juga menyebutkan sejumlah nama tanaman, antara lain sirsak, daun katuk, kencur, daun binahong, jahe, buah jeruk, hingga kayu manis.
Untuk menyembuhkan batuk, jahe, asem, adas, hingga asparagus merupakan beragam tanaman yang bisa dimanfaatkan.
Dr. Elis menuturkan, bawang putih dan bawang merah juga bisa digunakan untuk meningkatkan imunitas tubuh. Dalam naskah disebutkan, bawang putih dan jahe diparut, ditambah sedikit garam.
Hasil campurannya disebutkan berkhasiat menyembuhkan penyakit paru-paru basah.
“Sementara itu, jambu kulutuk ‘jambu biji’ dapat mengatasi penyakit akibat infeksi virus dan bakteri, salah satunya pada kasus influenza, di samping membantu menurunkan demam,” kata Dr. Elis.
Mengenai takaran pemakaian, dalam naskah muncul istilah secuil, segenggam, seikat, selembar, setangkai, segelas, sesendok, sejumput.
Namun, tidak dijelaskan secara detail mengenai ukuran detail yang digunakan. Karena itu, diakui Dr. Elis, penggunaan tanaman obat bukan tanpa risiko jika dikonsumsi sembarangan.
Sejatinya, setiap jenis tanaman obat, baik yang disebutkan pada naskah maupun yang beredar di masyarakat harus diteliti terlebih dahulu oleh ahlinya.
“Jika tidak tepat sasaran, malah bisa terjadi komplikasi, karena untuk mengobati satu penyakit, tidak hanya menggunakan satu jenis tanaman, tetapi dicampur dengan tanaman obat lainnya, layaknya obat-obatan medis,” kata Dr. Elis.




