SUKABUMIUPDATE.com – Inisiatif pengembangan kopi berbasis keberlanjutan mulai tumbuh di lereng Gunung Salak, tepatnya di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Kabupaten Sukabumi. Program ini berkembang melalui penguatan peran petani serta penerapan praktik agroforestri di wilayah hutan penyangga.
Pengembangan tersebut dijalankan oleh Absolute Coffee bersama komunitas petani di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan.
Pendiri Absolute Coffee, Muhamad Kosar, mengatakan pengelolaan kopi di kawasan tersebut tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga membangun ekosistem yang menempatkan petani sebagai bagian utama dalam rantai nilai.
“Kopi bukan sekadar komoditas, tetapi bagian dari sistem ekologi yang lebih luas,” ujar Kosar kepada sukabumiupdate.com, Selasa (17/3/2026).
Baca Juga: Dampak Konflik Timur Tengah, Pemerintah Kaji Opsi Pemotongan Gaji Menteri dan DPR
Ia menjelaskan, budidaya kopi dikembangkan melalui pendekatan agroforestri yang menjaga keseimbangan antara produksi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan petani. Menurutnya, pola tersebut penting diterapkan karena kawasan itu berada di wilayah penyangga taman nasional.
Dalam praktiknya, para petani mendapatkan pendampingan mulai dari pemilihan bibit, pengelolaan kebun, hingga teknik panen selektif dengan hanya memetik buah kopi merah yang telah matang. Selain itu, proses pascapanen juga diperbaiki melalui teknik fermentasi dan pengeringan untuk meningkatkan kualitas biji kopi.
Kosar menuturkan, pengembangan ekosistem kopi ini melibatkan tujuh Kelompok Tani Hutan (KTH) dan 13 Kelompok Tani (Poktan). Pendampingan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas teknis petani agar pengelolaan usaha menjadi lebih efektif dan profesional.
Baca Juga: Lebaran Tenang, Kementerian ESDM Pastikan Tarif Listrik Tak Naik Hingga Juni 2026
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Star Energy Geothermal. Kosar mengatakan bantuan yang diberikan mencakup penguatan infrastruktur usaha, peningkatan kapasitas budidaya dan pascapanen, hingga pengembangan branding guna memperluas akses pasar.
“Hal itu mendorong peningkatan produktivitas sekaligus pendapatan usaha,” katanya.
Saat ini, usaha kopi yang dikelola mencatat rata-rata omzet sekitar Rp150 juta per tahun. Angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan seiring dengan perbaikan kualitas produksi dan pengelolaan usaha.
Selain penguatan produksi, ruang promosi dan edukasi juga mulai dibangun di tingkat desa. Sebuah kedai kopi didirikan sebagai etalase produk lokal sekaligus sarana pembelajaran.
Dari inisiatif tersebut lahir Rumah Belajar (RUBE) Kopi Cipeuteuy, yang menjadi tempat belajar bagi petani, mahasiswa, peneliti, hingga wisatawan untuk memahami proses kopi, mulai dari kebun hingga menjadi minuman siap saji.




