Prioritaskan Bangun Tajug di Jabar, KDM Soroti Fenomena Masjid Jadi Tempat Selfie

Sukabumiupdate.com
Selasa 16 Jun 2026, 21:36 WIB
Prioritaskan Bangun Tajug di Jabar, KDM Soroti Fenomena Masjid Jadi Tempat Selfie

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dalam acara "Peringatan Hari Besar Islam Muharram 1448 Hijriyah" di Masjid Raya Al-Jabbar. (Sumber Foto: Humas Jabar)

SUKABUMIUPDATE.com - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) bakal memprioritaskan pembangunan tajug atau surau/masjid berukuran kecil di lingkungan permukiman warga.

Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menyediakan sarana ibadah yang lebih dekat dan intim bagi spiritualitas masyarakat Jabar sehari-hari.

Hal tersebut ditegaskan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dalam acara "Peringatan Hari Besar Islam Muharram 1448 Hijriyah" dengan tema: Menguatkan Cinta Islam dan Islam Cinta di 1448 H, di Ruang Utama Masjid Raya Al-Jabbar, Kota Bandung, Selasa (9/6/2026).

Gubernur yang akrab disapa KDM ini menjelaskan bahwa esensi rumah ibadah bukan terletak pada kemegahannya, melainkan pada fungsi dan keaktifan jemaah di dalamnya. Menurutnya, jumlah masjid megah di Jawa Barat saat ini sudah sangat mencukupi.

“Kami ingin membangun masjid-masjid kecil di lingkungan masyarakat yang membutuhkannya dalam setiap waktu. Kan kalau masjid-masjid yang megah sudah banyak di Jawa Barat,” ucap KDM.

Baca Juga: Diikuti 344 Peserta, Kejurda Catur Jabar 2026 di Sukabumi Jadi Ajang Cari Bibit Grand Master

Pembangunan dan pengembangan tajug ini akan dilakukan secara bertahap serta terintegrasi dengan bantuan berbagai pihak. KDM menambahkan, optimalisasi tajuk di tingkat RT/RW ini bertujuan untuk menghidupkan kembali tradisi keagamaan lokal tanpa harus membentuk struktur Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang baru.

“Kami ingin membangun masjid yang ada jamaahnya, tempat anak-anak ngaji, tempat ibadah rakyat di situ," kata pria yang identik dengan iket putih itu.

Lebih lanjut KDM menilai bahwa saat ini terjadi pergeseran pemanfaatan masjid, dari tempat tafakur, bersujud, membangun hubungan spiritualitas antara manusia sebagai mahluk dengan Allah berubah menjadi sarana rekreasi.

“Kalau masjid sarana rekreasi bukan sarana spiritualitas, maka masjid hanya akan akan menjadi tempat selfie bukan tempat tafakur,” kata KDM.

KDM menyatakan bahwa esensi ibadah terletak pada hubungan seseorang dengan Tuhan-nya dan bukan pada kemegahan tempat yang dikunjungi.

“Bertafakur bisa dilakukan di mana saja. Bertafakur di kamar tidur, surau kecil, bawah pohon, tepi sawah, tepi danau, pinggir gunung, tepi samudra. Tempat tak ada makna, yang paling utama adalah keheningan jiwa untuk mampu menghadirkan Tuhan dalam relung jiwa,” pungkas KDM.

Sumber: Humas Jabar

Berita Terkait
Berita Terkini