TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
bankbjb

Sepak Terjang Civil Police dan Pao An Tui di Sukabumi: Revolusi Kemerdekaan 1945-1949

Penulis
Minggu 28 Agt 2022, 17:00 WIB

BALEWARGA - Berawal dari datangnya tentara Inggris ke Jakarta pada 29 September 1945 yang dipimpin oleh Laksamana Sir Philips Christison dengan tujuan melucuti senjata bala tentara Jepang kemudian memulangkannya ke Jepang dan membebaskan tahanan interniran Belanda yang dipenjara oleh tentara Jepang selama pendudukan Jepang di Hindia Belanda/Indonesia dari 1942-1945. Tetapi secara diam-diam tentara Inggris membonceng NICA (Netherlands Indie Civil Administration) untuk mendirikan pemerintahan sipil di Indonesia dengan tujuan merebut kekuasaan dari Negara Republik Indonesia yang di Proklamirkan pada 17 Agustus 1945. 

Selanjutnya sebagai pemenang Perang Dunia-2 dan penerima mandat, tentara Inggris pada awal tahun 1946 membentuk Civil Police (pasukan polisi) di Jakarta dengan alasan untuk mengamankan wilayah Keresidenan Jakarta yang waktu itu beribukota di Purwakarta. Civil Police tersebut berjumlah 300 orang yang anggotanya merupakan gabungan Polisi Belanda, Polisi Tionghoa dan Polisi Indonesia yang dipimpin oleh seorang Polisi Inggris bernama Letnan Kolonel Harding, dibantu oleh Komisaris Polisi Yusuf Martadilaga (Polisi Indonesia) juga Letnan Kolonel Kooistra (Polisi Belanda). Tetapi kenyataan yang terjadi dilapangan ternyata C.P Belanda dan C.P Tionghoa “dianak-emaskan” dalam fasilitas, makanan, kendaraan dinas, pakaian dan gaji. Sedangkan Civil Polisi Indonesia “dianak-tirikan”, sehingga menyebabkan kecemburuan yang berakibat banyak CP Indonesia yang berbalik memihak ke Tijdelijke Bestuur Dienst (pemerintahan sementara Belanda) bahkan ada yang mengundurkan diri. Hal tersebut dikisahkan oleh Nur Sutan Iskandar seorang sastrawan angkatan Balai Pustaka dalam buku Udjian Masa halaman 86 : 

“Apa alasannja maka dilanggar sumpah dengan pemerintah Republik?” ,,Bermatjam-matjam. Ada jang sebenarnja sudah lama hendak pindah kesana, sebab tak tahan melihat perbedaan antara mereka itu dengan C.P Belanda dan C.P Tionghoa. Sebagai pak Tjaja tahu, sedjak pak Insjaf djadi kepala C.P, perbedaan itu telah terasa djuga. Baik tentang pakaian, tentang sendjata, baikpun tentang pembahagian barang makanan dan gadji dan kendaraan dinas. Njata benar C.P Indonesia dianak-tirikan. Ketjuali harga Ori telah turun, djumlah gadji C.P Indonesia djauh kurangnja dari pada gadji ,,anak-anak kandung” itu.

Meskipun selalu didesak oleh pak Insjaf supaja hal itu diperbaiki, sebab perasaan polisi jang tak enak itu akan merusakkan keamanan, tetapi hasilnja? Pak Insjaf terpaksa keluar dari kota Djakarta bukan? Dan kalau tidak, ia ditangkap. 

Dan ketika C.P Indonesia sudah dikepalai oleh pak Sabar, kepintjangan itu diperundingkan pula. Pak Sabar baik sekali dimata pihak sana. Mungkin bekerdja sama-sama dengan mereka. Tapi djangankan keadaan bertambah baik, malah selalu bertambah menggelisahkan anggota C.P kita djua. Oleh karena itu banjaklah C.P Indonesia jang menjeberang dengan sendirinja”. 

Hingga pada tanggal 17-19 November 1945, tiba-tiba tentara Inggris dan NICA mengerahkan pasukan yang kuat untuk menggempur Jakarta. Penyerbuan tentara Inggris dan NICA mencapai puncaknya pada tanggal 29 Desember 1945 sehingga semua kantor-kantor pemerintah RI di Jakarta dikepung dan diduduki Inggris, senjata-senjata dilucuti dan orangnya ditangkapi, termasuk Kepala Kepolisian Negara R.I Jenderal R.Said Soekanto Tjokrodiatmodjo pun ditangkap dan Kepolisian Negara R.I dibubarkan. Selanjutnya karena situasi ibukota Jakarta sudah tidak aman, maka pada tanggal 2 Januari 1946 Ibukota R.I dipindahkan ke Jogjakarta. Seiring itu pula Markas Kepolisian Negara dipindahkan ke kota Purwokerto Jawa Tengah. Semenjak itu Ibukota Jakarta dan sekitarnya dikuasai oleh tentara Inggris, Belanda dan C.P Tionghoa serta orang-orang yang pro Belanda. Serangan terhadap wilayah Republik semakin gencar, sampai akhirnya Sukabumi pun berhasil diduduki tentara Inggris, Belanda dan C.P Tionghoa juga C.P Indonesia yang membelot, lalu Sekolah Polisi Sukabumi juga dijadikan kantor Civil Police.  

Persetujuan Linggar Jati dan Berdirinya Pao An Tui yang Resmi Diakui Belanda.

Disebabkan kian terdesaknya T.R.I dan para pejuang Indonesia akibat serangan terus menerus dari tentara Inggris dan Belanda, diikuti dengan penguasaan wilayah-wilayah republik, maka pemeruintah RI yang pada waktu itu dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir mengadakan perundingan dengan Belanda difasilitasi oleh Sekutu. Perundingan tersebut dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 1947 bertempat di Linggar Jati Kab.Subang Jawa Barat yang dikenal dengan “Persetujuan Linggar Jati” yang isinya sebagai berikut : 

a. Kekuasaan RI hanya terbatas pada Pulau Jawa, Madura, dan Sumatera, kecuali wilayah-wilayah yang telah dikuasai oleh Belanda.

b. Pulau-pulau yang telah dikuasai oleh Belanda dibentuk Negara-Negara bagian dibawah Kepala Negara masing-masing.


Editor
Halaman :
BERITA TERPOPULER
Berita Terkini
x