SUKABUMIUPDATE.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengajak para ibu untuk lebih tegas kepada suami yang masih merokok, khususnya jika alasan ekonomi kerap dijadikan dalih kurangnya pemenuhan gizi anak.
Ajakan tersebut disampaikan Menkes Budi melalui akun Instagram pribadinya, @bgsadikin, dalam sebuah video yang diunggah baru-baru ini.
“Ibu-ibu, saya dukung untuk omelin suaminya yang masih bandel merokok. Satu bungkus rokok buat suami itu harganya Rp30.000. Nah, satu bungkus telur ayam untuk seluruh keluarga harganya juga Rp30.000. Ibu-ibu coba cek dompet suaminya,” ujar Budi.
Menurutnya, alasan tidak adanya uang belanja sering kali disampaikan oleh para suami, padahal rokok tetap dibeli setiap hari. Ia bahkan mendorong para ibu untuk menegur suami jika hal tersebut terjadi.
Baca Juga: 27 Tatarucingan Sunda Lucu: Dicekek Beuheungna, Dileketek Beuteungna, Naon?
“Kalau mereka masih beli rokok tapi bilangnya enggak ada uang buat ibu ke pasar, jewer aja tuh suaminya,” katanya.
Budi menegaskan bahwa asap rokok menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan gangguan kesehatan pada anak, termasuk stunting. Terlebih jika kebiasaan merokok dilakukan di dalam rumah.
“Saya sering dengar alasan ekonomi jadi penyebab anak kurang gizi bahkan stunting. Padahal asap yang keluar dari mulut bapaknya itu yang jadi faktor utama. Apalagi kalau ngerokoknya di rumah,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bahaya rokok yang telah tercantum jelas pada kemasannya. Sambil menunjuk bungkus rokok, Budi mengatakan, “Satu bungkus rokok ini isinya penyakit semua. Kita kan lihat tuh sudah ada di gambar, penyakit semua.”
Lebih lanjut, Menkes membandingkan pengeluaran untuk rokok dengan kebutuhan gizi keluarga. Uang sebesar Rp30.000 yang dihabiskan untuk rokok dalam sehari, menurutnya, setara dengan satu kilogram telur atau sekitar 16 butir telur.
Baca Juga: 20 Pepeling Sunda Buhun dan Artinya, Caina Herang Laukna Beunang
“Ini sumber protein hewani yang baik buat pertumbuhan anak dan asupan protein untuk seluruh keluarga. Karena telurnya banyak, bisa dipakai lebih dari satu hari,” ujarnya.
Ia pun kembali mengajak para ibu untuk mulai bersikap tegas dan mengalihkan pengeluaran rokok menjadi pemenuhan gizi anak.
“Hari ini ibu harus mulai lebih tegas. Tagih tuh jatah rokok bapaknya, tuker jadi jatah gizi anak-anak ibu. Setuju?” kata Budi.
Dalam unggahan tersebut, Menkes menekankan bahwa meskipun harga rokok dan telur sama, dampaknya sangat berbeda.
“Satu bungkus rokok isinya sumber penyakit, racun, dan salah satu faktor penyebab anak stunting karena asapnya. Rokok hanya memberi kenikmatan sesaat buat bapaknya, tapi mewariskan penyakit dan asap beracun buat anak istri,” ujarnya.
Sebaliknya, telur dinilai memberikan manfaat besar bagi masa depan anak. “Telur memberikan gizi, protein, dan kecerdasan buat anak-anak kita kelak,” tambahnya.
Menutup pesannya, Budi kembali menyapa para ibu dengan nada santai namun tegas. “Kalau bilangnya nggak ada uang buat ke pasar tapi rokoknya jalan terus, laporin ke saya, atau langsung jewer aja suaminya,” ujarnya sambil tersenyum.
Sebagai informasi, merokok merupakan aktivitas yang berdampak buruk tidak hanya bagi perokok aktif, tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya. Rokok diketahui mengandung lebih dari 4.000 jenis bahan kimia berbahaya yang dapat memicu berbagai penyakit dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Dampak Negatif Rokok bagi Perokok Aktif dan Pasif
Selain meningkatkan risiko kanker, kebiasaan merokok juga menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan, baik bagi perokok aktif maupun orang-orang di sekitarnya yang terpapar asap rokok. Sejumlah risiko kesehatan tersebut antara lain:
- Memicu penyakit paru-paru kronis
- Merusak kesehatan gigi serta menyebabkan bau mulut
- Meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung
- Menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah
- Mengganggu kesehatan mata, termasuk meningkatkan risiko katarak
- Pada wanita, rokok dapat memicu kanker leher rahim serta meningkatkan risiko keguguran
- Menyebabkan rambut rontok
Merokok, dalam bentuk dan jenis apa pun, merupakan kebiasaan yang berdampak buruk bagi kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk mulai menumbuhkan kesadaran menciptakan lingkungan rumah bebas asap rokok serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, demi mewujudkan keluarga yang lebih sehat dan terlindungi dari paparan asap rokok.





