SUKABUMIUPDATE.com - Kasus virus Nipah yang terdektesi di India tengah menjadi perhatian. Bahkan, beberapa negara di Asia seperti Thailand telah menerapkan pengawasan ketat di Bandara.
Hal dilakukan untuk mendeteksi masuknya virus Nipah melalui orang-orang yang datang dari India. Mengingat virus satu ini memiliki fatality rate cukup tinggi, sehingga diperlukan kewaspadaan sebaik mungkin.
Mengutip dari Tempo.co, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kasus virus Nipah belum ditemukan di Indonesia saat ditemui di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran, Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.
Meski begitu, pemerintah mengambil langkah antisipasi dengan melakukan sosialisasi dan menyiapkan tes Polymerase Chain Reaction (PCR).
"Kami sudah mempersiapkan, sudah sosialisasi, sudah siapin reagen PCR-nya. Sama kayak virus, tesnya pake PCR," kata Budi dikutip dari Tempo.co pada Rabu, (28/01/2026).
Baca Juga: Virus Nipah Kembali Disorot Publik, Ini Penyebab, Gejala, dan Cara Pencegahannya
Menurut Budi, kasus virus Nipah banyak ditemukan di India dan Bangladesh. Virus itu berasal dari kelelawar yang menyentuh buah. Virus itu memiliki tingkat kematian atau fatality rate yang tinggi.
"Ini memang fatality rate-nya tinggi, dia berasal dari kelelawar," kata dia.
Budi mengimbau masyarakat tidak makan buah yang diduga disentuh kelelawar. Masyarakat juga dihimbau menggunakan masker ketika melakukan perjalanan ke Asia Selatan, India, dan Bangladesh.
"Kalau bisa kalau mau travel ke Asia Selatan, India atau Bangladesh itu pakai masker," ujarnya.
Berdasarkan pemantauan situasi global dan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), per 25 Januari 2026 tercatat dua kasus konfirmasi dan tiga kasus suspek virus Nipah di West Bengal, India. Dua kasus pertama dilaporkan pada 11 Januari 2026, kemudian berkembang menjadi lima kasus pada 25 Januari 2026.
Epidemolog Griffith University Dicky Budiman mengatakan penyakit Nipah adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Nipah, yaitu virus ribonuclei acid (RNA) dalam genus Henipavirus.
Dicky mengatakan kelalawar buah genus Pteropus merupakan reservoir alami utama atau pembawa utama penyakit ini. Kontak langsung antara hewan dengan manusia menjadi salah satu penyebab penyakit ini.
"Dengan kotoran dari si kelelawar misalnya. Atau disebut sekresia atau ekskreta dari kelelawar karena mengandung air liur, urin, atau kotoran yang akhirnya mencemari buah atau kelapa sawit," kata Dicky.
Baca Juga: Ditemukan 62 Kasus, Kemenkes Ungkap Super Flu di Indonesia Masih Terkendali
Sedangkan kontak sesama manusia biasanya karena cairan tubuh. Kontak erat cairan tubuh biasanya terjadi pada saat perawatan pasien.
Menurut Dicky, gejala klinis Nipah bervariasi. Fase awal penyakit ini adalah demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Fase lanjut penyakit ini, yaitu kesulitan bernafas, pneumonia, radang paru, dan gangguan neurologis.
Pada kasus berat, kematian sering terjadi dalam beberapa hari setelah masa permulaan. Penyakit ini memiliki Case Fatality Rate (CFR) atau angka kematian kasus paling rendah 40 persen dan paling tinggi 75 persen. "Artinya kalau paling rendah ya 4 dari 10 meninggal atau 7 dari 10 atau bisa sampai 8. Ini tergantung kecepatan respons," kata Dicky.
Sumber: Tempo.co






