Dewan Pers Sebut Indeks Kemerdekaan Pers 2023 Menurun, Ini Penyebabnya

Kamis 31 Agustus 2023, 22:50 WIB
Ketua Komisi Pendataan, Penelitian, dan Ratifikasi Pers, Dewan Pers, Atmaji Sapto Anggoro saat menyampaikan hasil Survei Indeks Kemerdekaan Pers tahun 2023.(Sumber : Dewan Pers)

Ketua Komisi Pendataan, Penelitian, dan Ratifikasi Pers, Dewan Pers, Atmaji Sapto Anggoro saat menyampaikan hasil Survei Indeks Kemerdekaan Pers tahun 2023.(Sumber : Dewan Pers)

SUKABUMIUPDATE.com - Dewan Pers merilis Survei Indeks Kemerdekaan Pers (IKP) tahun 2023, Kamis (31/8). Indeks kebebasan pers pada tahun 2023 ini yaitu 71,51 persen. Angka tersebut dinilai menurun jika dibandingkan dengan tahun 2022 lalu. Penurunan terjadi di 20 indikator dari tiga lingkungan yakni lingkungan Fisik Politik, Ekonomi dan Hukum.

Ketua Dewan Pers Ninik Rahayu mengharapkan, hasil survei yang diselenggarakan Dewan Pers ini dapat memberi gambaran yang sesungguhnya tentang kondisi kemerdekaan pers di Tanah Air.

Ninik mengungkapkan, selama lima tahun terakhir sejak 2018 hingga 2022, nilai IKP nasional cenderung meningkat. Artinya, situasi kemerdekaan pers direpresentasikan membaik.

“Hal itu sempat memunculkan pertanyaan sejumlah kalangan, terutama apabila disandingkan dengan hasil survei IKP yang dilakukan lembaga internasional. Demikian pula bila dikaitkan dengan indeks demokrasi yang memberikan alarm untuk perbaikan sistemik yang memerlukan perhatian bersama,” kata Ninik dalam rilis yang diterima sukabumiupdate.com.

Baca Juga: Merujuk PPIK, Ketua Dewan Pers Ingatkan Jurnalis Harus Hormat pada Keberagaman

Lebih jauh Ninik mengingatkan bahwa pers saat ini menghadapi banyak tantangan berat. Selain kondisi ekonomi yang tidak mudah, pers menghadapi perkembangan teknologi informasi, seperti artificial intelligence, Chat GPT, yang menuntut penyikapan secara bijak dan kritis.

“Namun, yang paling penting, apapun tantangannya pers harus tetap berpegang pada kode etik jurnalistik, agar tetap menjadi rujukan yang benar bagi publik,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua Komisi Pendataan, Penelitian, dan Ratifikasi Pers, Dewan Pers, Atmaji Sapto Anggoro, mengungkapkan, survei IKP 2023 menghasilkan nilai IKP Nasional 71,57. Angka ini turun 6,30 poin jika dibandingkan dengan hasil survei IKP 2022 yang mencapai nilai 77,87.

Meskipun turun dibanding tahun lalu, nilai IKP 2023 masih masuk kategori “Baik” yang berarti bahwa secara nasional kemerdekaan pers berada dalam kondisi “Cukup Bebas” selama tahun 2022.

Perlu diketahui bahwa survei IKP menilai kondisi kemerdekaan pers pada periode satu tahun sebelumnya. Survei IKP 2022 misalnya, menilai kondisi kemerdekaan pers di sepanjang tahun 2021, dan Survei IKP 2023 mengukur kondisi kemerdekaan pers selama tahun 2022.

“Penurunan angka IKP ini merupakan yang pertama sejak enam tahun lalu,” ungkap
Sapto.

Hasil survei IKP 2018 yaitu 69 (kategori “agak bebas”), pada tahun 2019 meningkat menjadi 73,71 (kategori “cukup bebas”), selanjutnya menjadi 75,27 (tahun 2020), 76,02 (2021), dan 77,88 (2022).

Sapto menjelaskan, ada sejumlah indikator yang memberi kontribusi terhadap turunnya nilai IKP 2023. Pada lingkungan politik antara lain indikator “Kebebasan dari Intervensi”, dan “Kebebasan dari Kekerasan” yang turun sekitar 7 poin. Pada lingkungan ekonomi terjadi pada indikator “Independensi dari Kelompok Kepentingan Kuat” yang turun 8 poin. Sedangkan pada lingkungan hukum penurunan terbesar (sekitar 8-9 poin) terjadi pada pada dua indikator yaitu “Kriminalisasi dan Intimidasi Pers” dan “Etika Pers”.

Lebih jauh Sapto mengungkapkan, selama tahun 2022 masih terjadi kekerasan terhadap pers, baik terhadap wartawan maupun media. Kekerasan terjadi di sejumlah daerah dalam bentuk kekerasan fisik maupun non-fisik, termasuk kekerasan melalui sarana digital. Demikian pula, intervensi terhadap newsroom, baik dari luar maupun dari dalam, masih terjadi.

“Semua ini memberi kontribusi bagi penurunan angka IKP 2023,” tuturnya.

Di lingkungan ekonomi, media di banyak daerah mengalami masalah ketergantungan pada kelompok-kelompok ekonomi kuat. Sebagian besar media di daerah menjalin “kerjasama” berita berbayar dengan pemda.

“Tak sedikit media yang mengandalkan pemasangan iklan dan berita berbayar dari pemda, pengguna APBD, sebagai sumber pemasukan utama, sehingga mereka rentan terkooptasi oleh kepentingan pemerintah daerah setempat,” jelasnya.

Dewan Pers melalui kegiatan pendataan (verifikasi) di berbaga daerah mendapat banyak perusahaan pers yang merasa berat untuk membayar upah karyawan, termasuk wartawannya, minimal sesuai upah minimum provinsi. Media seperti ini tidak memiliki bargaining position cukup kuat berhadapan dengan kekuatan ekonomi dan politik dari luar,” ungkap Sapto.

IKP Provinsi

Hasil survei IKP 2023 menunjukkan kondisi kemerdekaan pers yang belum merata antar daerah provinsi. Terdapat rentang nilai yang cukup besar, sekitar 20 poin, antara provinsi dengan nilai terendah dengan yang tertinggi. Nilai IKP Provinsi tertinggi yaitu 84,38 dan yang terendah 64,01. Sedangkan nilai rata-rata dari 34 provinsi adalah 75,69, di atas nilai IKP Nasional 71,57. Nilai rata-rata IKP Provinsi tahun 2023 turun 3,02 poin dibandingkan tahun 2022.

Nilai IKP 2023 Provinsi menunjukkan 24 provinsi mengalami penurunan dan 10 provinsi mengalami kenaikan. Survei IKP 2023 mencatat Kalimantan Timur dengan nilai tertinggi, yaitu 84,38. Berikutnya Jawa Barat (83,02), Bali (82,58), Kalimantan Utara (982,42), dan Kalimantan Tengah (81,05). Adapun IKP provinsi terendah diduduki Papua (64,01), Papua Barat (68,22), Lampung (69,76), Sumatra Selatan (70,83), dan DKI Jakarta (71,73).

Bagi Dewan Pers, tutur Sapto, inilah hasil IKP yang optimal. Dewan Pers akan melakukan berbagai upaya untuk menghasilkan indeks kemerdekaan pers yang secara jernih memotret kondisi yang sedang berlangsung, dengan menggunakan variasi metode yang sudah disepakati dan diuji oleh banyak pihak serta dilakukan dari tahun ke tahun.

Acara Peluncuran Hasil Survei IKP 2023 menghadirkan sebagai penanggap, Ismail Hasani dari Setara Institute, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia/JMSI) Teguh Santosa, dan Kabag Penum Humas Polri Kombes Polisi Nurul Azizah.

Menanggapi hasil survei, Ismail Hasani menyatakan nilai IKP 2023 sebesar 71,57 memerlukan treatment khusus untuk perbaikan ke depan. Temuan survei IKP sejalan dengan tren IKP global yang juga menurun. IKP Indonesia masih di bawah Malaysia dan Timor Leste. Ismail menyoroti meningkatnya perilaku koersif di kalangan warga.

“Aktor yang menghambat kebebasan sipil tumbuh di tengah warga,” ungkapnya.

Sedangkan Ketua JMSI Teguh Santosa melihat hasil temuan survei IKP sesuai dengan realitas di daerah, khususnya terkait kondisi kesehatan perusahaan pers. JMSI sendiri mencoba melakukan klasifikasi terhadap perusahaan-perusahaan media yang menjadi anggota JMSI untuk memetakan kondisi mereka.

AYO! main games di Sukabumi Update Games
Follow Berita Sukabumi Update di Google News
Simak breaking news Sukabumi dan sekitarnya langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita SukabumiUpdate.com WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaXv5ii0LKZ6hTzB9V2W. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
Berita Terkait
Berita Terkini
Life20 Juni 2024, 20:15 WIB

7 Kebiasaan Buruk yang Menyebabkan Penyakit Jantung, Hindari Jika Ingin Selamat!

Bagian tubuh yang menjadi sumber kehidupan adalah jantung. Maka dari itu, perlu menjaga kesehatan agar jantung juga menjadi sehat serta terbebas dari penyakit.
Ilustrasi Salah satu kebiasaan buruk yang sebabkan penyakit jantung yaitu makan berlebihan (Sumber : Freepik.com/@wayhomestudio)
Sukabumi20 Juni 2024, 20:08 WIB

Fraksi PAN Apresiasi Bupati Raih WTP 10 Kali, Ini Catatan Soal LPJ APBD Sukabumi 2023

Fraksi Partai Amanat Nasional (Fraksi PAN) DPRD Kabupaten Sukabumi salah satu dari delapan fraksi yang menyampaikan pandangan umum terhadap Raperda LPJ APBD 2023
Fraksi PAN DPRD Kabupaten Sukabumi menyampaikan Pandangan Umum terhadap Raperda APBD tahun 2023 | Foto : Ist
Sehat20 Juni 2024, 20:00 WIB

8 Makanan yang Berkhasiat Meredakan Sakit Asam Urat, Langsung Pergi Gak Datang Lagi!

Asam urat dapat dicegah dengan beberapa langkah tepat, salah satunya dengan mengonsumsi makanan yang berkhasiat tinggi.
Ilustrasi -  Asam urat dapat dicegah dengan beberapa langkah tepat, salah satunya dengan mengonsumsi makanan yang berkhasiat tinggi. (Sumber : Pixabay.com/@cnick)
Mobil20 Juni 2024, 19:45 WIB

Driver Wajib Tahu, Ternyata ini 5 Penyebab Radiator Cepat Habis

Ketika air radiator cepat berkurang, mesin bisa cepat panas, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan serius dan biaya perbaikan yang mahal
Ilustrasi Penyebab Radiator Cepat Habis (Sumber : pixabay.com/@carotomo12)
Sehat20 Juni 2024, 19:30 WIB

Cara Membuat Rebusan Daun Kelor untuk Mengobati Sakit Asam Lambung

Rebusan daun kelor menjadi salah satu opsi untuk mengobati asam lambung.
Ilustrasi - Rebusan daun kelor menjadi salah satu opsi untuk mengobati asam lambung. (Sumber : Pixabay.com/@Ninetechno).
DPRD Kab. Sukabumi20 Juni 2024, 19:21 WIB

8 Fraksi Sampaikan Pandangan Umum LPJ APBD 2023 di Paripurna DPRD Sukabumi

Sebanyak delapan fraksi di DPRD Kabupaten Sukabumi menyampaikan pandangan umum terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) APBD tahun 2023
8 Fraksi DPRD Kabupaten Sukabumi menyampaikan Pandangan Umum terhadap Raperda APBD tahun 2023 | Foto : Ist
Life20 Juni 2024, 19:15 WIB

5 Penyebab Kenapa Cinta Cepat Pudar Setelah Menikah, Kamu Termasuk?

Sejumlah penyebab menjadi faktor kenapa orang yang sudah menikah cenderung cepat pudar cintanya dibandingkan pada saat awal mula kasmaran
Ilustrasi Sejumlah penyebab kenapa cinta cepat pudar setelah menikah puluhan tahun (Sumber : Pexels.com/@Timur Weber)
Sehat20 Juni 2024, 19:00 WIB

No Minuman Manis! 10 Cara Mencegah Lonjakan Gula Darah Tinggi Setelah Makan Malam

Ada beberapa strategi yang dapat membantu untuk mencegah lonjakan gula darah setelah makan malam.
Ilustrasi. No Minuman Manis! 10 Cara Mencegah Lonjakan Gula Darah Tinggi Setelah Makan Malam (Sumber : Pixabay/Stanias)
Sehat20 Juni 2024, 18:45 WIB

5 Penyebab Kenapa Penderita Diabetes Cepat Lapar Meski Sudah Makan, Ini Alasannya

penderita diabetes kerap merasa lapar yang cukup tinggi akibat nafsu makannya naik. hal ini disebabkan oleh beberapa gejala yang mungkin jarang disadari
Ilustrasi Sejumlah penyebab kenapa penderita diabetes cenderung cepat lapar (Sumber : Pexels.com/@MART PRODUCTION)
Kecantikan20 Juni 2024, 18:15 WIB

Selain Menggunakan Lotion, 5 Cara Mengatasi Telapak Tangan yang Kasar dan Kering

Telapak tangan kasar dan kering bisa menjadi masalah yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Hal ini bisa diatasi dengan mengurangi paparan air dan memilih sabun yang tepat
Ilustrasi tangan kasar yang bisa diatasi (Sumber : pixabay.com/@noursh90)