Mengenal Teknologi AI-UAV, Pendeteksi Ladang Ganja Garapan BRIN dan BNN

Sukabumiupdate.com
Kamis 14 Mei 2026, 19:39 WIB
Mengenal Teknologi AI-UAV, Pendeteksi Ladang Ganja Garapan BRIN dan BNN

Ilustrasi AI. Kolaborasi lintas disiplin ciptakan alat pendeteksi ladang ganda di Indonesia (Sumber: copilot)

SUKABUMIUPDATE.com - Untuk mempermudah mendeteksi keberadaan ladang dan kebun ganja, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) mengembangkan sistem pemetaan berbasis akal imitasi (AI), citra satelit, dan pesawat nirawak (UAV). Kolaborasi lintas disiplin ini untuk meningkatkan efektivitas identifikasi lahan ganja di wilayah tersembunyi, dan terpencil di Indonesia.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Penerbangan BRIN, Yomi Guno, mengatakan kondisi geografis Indonesia yang luas dan sulit dijangkau menjadi tantangan utama dalam pemetaan lokasi budi daya tanaman ganja secara akurat apabila hanya mengandalkan operasi darat konvensional.

“Kami berharap kolaborasi ini dapat mengintegrasikan kemampuan teknologi penginderaan jauh, sistem informasi geografis, teknologi pesawat nirawak, serta kecerdasan artifisial untuk mendukung pemetaan dan identifikasi lahan tanaman ganja sebagai langkah strategis menuju modernisasi sistem deteksi dan pemantauan ladang ganja di Indonesia,” ujar Yomi melalui keterangan tertulis, Kamis, 14 Mei 2024.

Baca Juga: Paris Saint Germain Siap Gelontorkan Dana Fantastis Demi Julian Alvarez

Kolaborasi tersebut melibatkan sejumlah pusat riset di BRIN, yakni Pusat Riset Geoinformatika (PRGI), Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI), Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber (PRKAKS) di bawah Organisasi Riset Elektronika dan Informatika (OREI), serta Pusat Riset Teknologi Penerbangan (PRTP) pada Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA).

Pada tahap awal, BNN mengidentifikasi kebutuhan riset berdasarkan informasi intelijen dan data lapangan terkait dugaan keberadaan ladang ganja ilegal. Selanjutnya, tim Pusat Riset Geoinformatika BRIN melakukan analisis awal menggunakan citra satelit resolusi tinggi untuk mengidentifikasi area yang memiliki karakteristik sesuai sebagai lahan budidaya tanaman ganja.

Tahap berikutnya dilakukan oleh tim Pusat Riset Teknologi Penerbangan melalui operasi lapangan menggunakan UAV. Kegiatan ini mencakup validasi area hasil identifikasi citra satelit sekaligus akuisisi data fotogrametri melalui pengambilan citra udara beresolusi tinggi secara sistematis.

Baca Juga: Mengejutkan! SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut LCC 4 Pilar MPR Ulang: Hormati Hasil Lomba

“Data lapangan tersebut kemudian diproses lebih lanjut oleh tim PRSID dan Informasi serta PRKAKS menggunakan perangkat lunak fotogrametri khusus untuk menghasilkan orthomosaic stitching, yaitu komposit peta ortofoto resolusi tinggi yang telah terkoreksi secara geometris dan geografis,” kata Yomi.

Menurutnya, hasil akhir riset ini dapat dimanfaatkan langsung oleh BNN dalam mendukung penegakan hukum. BRIN menyediakan dokumen geospasial presisi tinggi berupa data orthomosaic stitching, dataset spasial lahan tanaman ganja, serta rekomendasi area prioritas yang dapat ditindaklanjuti dalam operasi pemusnahan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Kolaborasi riset lintas disiplin dan lintas lembaga ini menunjukkan komitmen BRIN dalam mendukung upaya pemberantasan pertumbuhan ladang ganja ilegal di Indonesia,” kata dia.

Baca Juga: Kampung Cibuni Ciwidey, Hidden Spot dengan Nuansa Pegunungan yang Tenang

Melansir tempo.co, Indonesia Drug Report 2025 yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian, Data, dan Informasi BNN, mencatat sebanyak 46.748 kasus tindak pidana narkotika, dengan ganja menempati posisi kedua terbanyak setelah sabu, yaitu sebanyak 3.814 kasus.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini