SUKABUMIUPDATE.com – Cuaca terik siang itu tak menyurutkan langkah dua perempuan lansia, Mak Herti dan Mak Sumiati, warga Kampung Cigebang, Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Dengan perlahan namun pasti, mereka menggiring puluhan domba melintasi hamparan kebun kelapa milik PT BLA.
Rutinitas itu telah mereka jalani bertahun-tahun. Setiap hari, selepas salat dzuhur, keduanya berangkat menggembala. Langkah mereka baru berhenti saat matahari mulai condong ke barat, sekitar pukul 16.00 WIB.
Mak Herti (52 tahun) menjadi salah satu sosok tangguh di balik kisah ini. Berawal dari program bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) sekitar 15 tahun lalu, ia mulai beternak domba dari jumlah yang tidak banyak. Ketekunan dan kesabaran membuat ternaknya berkembang pesat hingga mencapai 58 ekor.
“Sebanyak 23 ekor, saya tukar dengan satu ekor sapi betina, sekarang sudah jadi enam ekor yang digembala suami,” ujar Herti kepada sukabumiupdate.com, Selasa (5/5/2026).
Menggembala puluhan domba di kebun kelapa setiap siang hingga sore hari di di Ciracap, Kabupaten Sukabumi | Foto : Ragil Gilang
Tak hanya itu, dari hasil penjualan ternak, ia juga pernah mendapatkan Rp11,7 juta yang digunakan untuk kebutuhan penting, termasuk menggadai sawah. Kini, jumlah domba yang ia miliki tersisa 18 ekor, namun tetap menjadi penopang utama ekonomi keluarga.
Baca Juga: Dompet Dhuafa dan Pemkot Sukabumi Dorong Karang Tengah Jadi Model Kawasan Sehat
“Kami menggantungkan hidup dari memelihara domba. Kalau ada kebutuhan mendesak atau mau bercocok tanam, biasanya jual satu atau dua ekor,” tuturnya.
Sementara Mak Sumiati (55 tahun), memiliki kisah yang tak kalah menginspirasi. Berbeda dengan Herti, ia memulai dari modal pribadi, hanya dua ekor domba hasil membeli sendiri.
Seiring waktu, domba miliknya berkembang biak. Meski beberapa kali dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kini jumlahnya kembali mencapai sekitar 20 ekor termasuk anakannya. “Dari awal memang tidak dapat bantuan, beli sendiri. Sudah beberapa kali dijual buat kebutuhan hidup,” kata Sumiati.
Meski begitu, Sumiati tetap berharap bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah melalui program bantuan seperti yang pernah diterima rekannya. “Semoga saya juga bisa dapat bantuan. Soalnya hanya mengandalkan dari menggembala domba,” harapnya.
Di tengah keterbatasan usia dan teriknya cuaca, dua perempuan ini membuktikan bahwa ketekunan mampu menjadi penopang hidup. Di antara deru angin kebun kelapa dan suara domba yang mengembik, mereka terus melangkah, menjaga harapan tetap hidup dari padang penggembalaan sederhana di pelosok Sukabumi.






