Dulu Biasa, Sekarang Langka: Tradisi Sunda yang Mulai Hilang

Sukabumiupdate.com
Kamis 23 Apr 2026, 16:30 WIB
Dulu Biasa, Sekarang Langka: Tradisi Sunda yang Mulai Hilang

Ilustrasi - CKebiasaan-kebiasaan masyarakat Sunda tersebut mungkin saja masih dipertahankan di beberapa daerah meski semakin jarang terlihat (Sumber : AI chatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Bagi orang Sunda yang lahir sebelum tahun 2000an mungkin merasakan adanya perbedaan antara kehidupan zaman dulu dan sekarang terutama dalam hal kebiasaan.

Dulu, kehidupan masyarakat Sunda terasa begitu hangat dan sederhana. Pagi hari dimulai dengan suara ayam berkokok, asap hawu (tungku tanah liat) yang mengepul dari dapur, dan sapaan ramah antar tetangga yang tak pernah absen. Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu dianggap biasa, tapi kini perlahan mulai menghilang.

Seiring perkembangan zaman, banyak nilai dan tradisi Sunda yang tergeser oleh gaya hidup modern. Apalagi bagi yang tinggal di perkotaan, perubahan tersebut sangat terasa, dimana orang-orang sekarang lebih sibuk dengan dirinya masing-masing.

Baca Juga: 30 Nama Tanaman Herbal Sunda Lengkap dengan Arti dan Khasiatnya

Bukan karena tidak penting, tapi karena seringkali kita tidak sadar bahwa hal-hal itu sebenarnya memiliki makna yang dalam. Lalu, apa saja budaya Sunda yang mulai dilupakan? Berikut beberapa diantaranya seperti dirangkum dari berbagai sumber.

1. Tradisi Ngaliwet Bareng

Dulu, makan bersama di atas daun pisang (ngaliwet) bukan sekadar makan. Ini adalah simbol kebersamaan, tanpa sekat, tanpa jarak dan jadi cara menjaga tali kekeluargaan.

Tapi sekarang, lebih sering makan sendiri, bahkan sambil sibuk dengan gadget. Meski tradisi ini masih dijaga di beberapa daerah, namun coba ingat-ingat kapan terakhir kali kamu merasakan ngaliwet bareng?

2. Menyapa kepada Siapa Saja

Orang Sunda dikenal dengan sikap ramah atau dalam bahasa Sunda dikenal dengan istilah ‘someah’. Orang Sunda tak segan untuk melempar senyum bahkan menegur terlebih dulu saat bertemu dengan orang lain bahkan orang yang belum dikenal sekalipun.

Tapi sekarang terutama generasi muda banyak yang lebih cuek, sibuk masing-masing, bahkan saat berkumpul pun lebih memilih fokus dengan gawai.

Baca Juga: Mengenal Paparikan dan Rarakitan dalam Sisindiran Bahasa Sunda, Berbeda dengan Pantun Melayu

3. Pamali

Dulu, anak-anak diajarkan oleh orang tua melalui ‘pamali’. Contoh “pamali diuk dina bantal” (pamali duduk di atas bantal) atau “pamali cicing di hareupeun panto” (pamali diam di depan pintu).

Sekarang pamali lebih banyak dianggap sebagai “mitos” dan mulai ditinggalkan. Padahal itu cara halus orang tua mendidik tanpa marah.

4. Bahasa Sunda Lemes

Kita tahu jika dalam Bahasa Sunda memiliki tingkatan dari mulai ‘lemes’ (halus), ‘loma’ (akrab), dan ‘kasar’. Dulu anak diajarkan berbicara sopan ke orang tua. Tapi sekarang banyak yang mulai jarang menggunakan bahasa lemes.

Bahkan, jangankan bahasa lemes, orang Sunda di zaman sekarang terutama generasi muda banyak yang tidak bisa atau mengerti bahasa Sunda sama sekali.

5. Permainan Tradisional

Dulu anak-anak bermain di luar rumah bersama teman seperti papancakan, susumputan, maen kaleci dan banyak lagi. Sekarang anak-anak lebih banyak bermain gadget dan sibuk dengan dunianya sendiri.

6. Kebiasaan Silih Tulungan

Kebiasaan silih tulungan atau saling tolong menolong (gotong royong) adalah ciri orang Sundasejak zaman dulu. Contohnya seperti bangun rumah, semua tetangga ikut membantu, ada yang hajatan pun para tetangga ikut membantu.

Sekarang sudah banyak orang yang lebih individual. Padahal ini adalah inti dari nilai Sunda “silih asah, silih asih, silih asuh”.

Itulah beberapa kebiasaan masyarakat Sunda yang dulu dianggap biasa tapi sekarang mulai terasa asing. Mungkin banyak hal lain yang memiliki nasib serupa. Kebiasaan-kebiasaan tersebut mungkin saja masih dipertahankan di beberapa daerah meski semakin jarang terlihat.

Zaman boleh berubah, tapi bukan berarti nilai-nilai itu harus hilang. Mungkin kita tidak bisa kembali sepenuhnya seperti dulu, tapi kita masih bisa menjaga sebagian kecilnya.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini