Mengenal Paparikan dan Rarakitan dalam Sisindiran Bahasa Sunda, Berbeda dengan Pantun Melayu

Sukabumiupdate.com
Kamis 16 Apr 2026, 12:00 WIB
Mengenal Paparikan dan Rarakitan dalam Sisindiran Bahasa Sunda, Berbeda dengan Pantun Melayu

Ilustrasi - Sisindiran, paparikan dan rarakitan jadi salah satu hiburan dan alat untuk menyampaikan pesan secara halus yang digunakan masyarakat Sunda (Sumber : AI chatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Budaya Sunda sangat kaya termasuk dalam hal kesenian, dan beberapa kekayaan kesenian Sunda yaitu Sisindiran, Paparikan dan Rarakitan.

Mungkin masih banyak yang sudah tahu dengan sisindiran Sunda, namun banyak yang tidak tahu dengan Paparikan serta Rarakitan.

Untuk lebih mengenal salah satu kekayaan budaya Sunda tersebut, berikut penjelasan singkatnya yang dirangkum dari berbagai sumber.

Baca Juga: 10 Istilah Bencana Alam dalam Bahasa Sunda, Hujan Angin Dordar Gelap

1. Apa itu Sisindiran?

Sisindiran adalah ungkapan berirama yang terdiri dari cangkang (sampiran) dan eusi (isi/makna). Sisindiran mirip pantun, tapi punya ciri khas Sunda. Sisindiran sendiri terbagi menjadi dua bagian besar yaitu paparikan dan rarakitan.

2. Paparikan

Paparikan memiliki kemiripan paling dekat dengan pantun. Ciri Utamanya yaitu terdiri dari empat baris, memiliki pola yang terdiri dari cangkang (2 baris) + eusi (2 baris), memiliki rima yang jelas (a-b-a-b atau a-a-a-a), dan strukturnya cukup rapi & teratur.

Contoh paparikan:

Ka pasar meuli cau
Teu poho meuli nangka
Lamun hayang loba élmu
Kudu rajin maca buku

Di sini kata “cau” = “élmu” (u) dan kata “nangka” dan “buku” di bagian isi berakhiran a/u masih mendekati bunyi akhir.

3. Rarakitan

Rarakitan lebih bebas dari paparikan. Ciri utamanya yaitu ada pengulangan kata atau bunyi, bisa tidak terlalu ketat rimanya, lebih main di irama & kata dan kadang terasa seperti “dipilin” atau “dirakit” (itulah asal kata rarakitan)

Contoh rarakitan:

Sapanjang jalan Cianjur
Sapanjang jalan ka Bandung
Sapanjang hirup kudu jujur
Supaya hirup henteu bingung

Kata “sapanjang jalan” diulang, dan ini jadi ciri khas rarakitan

Contoh lain:

Daun hiris dina nampan
Daun hiris keur lalaban
Lamun hirup loba kahayang
Ahirna jadi kasusah kabeurangan

Ada permainan bunyi “daun hiris”

4. Pantun Melayu

Jika dibandingkan dengan pantun melayu yang lebih terkenal, pantun melayu lebih teratur dan ketat dalam rima jika dibandingkan dengan paparikan apalgi rarakitan.

Ciri utama pantun melayu sendiri yaitu terdiri dari empat baris, pola a-b-a-b atau rimanya harus jelas, terdiri dari sampiran & isi, dan aturannya lebih ketat.

Contoh pantun Melayu:

Pergi ke pasar membeli ikan
Ikan dibeli bersama udang
Jika ingin masa depan
Harus rajin belajar sekarang

Rima: ikan = depan, berakhiran ‘an’ dan udang = sekarang, berakhiran ‘ang’

Itulah sedikit ulasan mengenai Paparikan dan Rarakitan bahasa Sunda dan perbedaanya dengan pantun melayu. Intinya pantun melayu lebih fokus pada rima yang sempurna. Paparikan Sunda memang mirip pantun, tapi sedikit lebih longgar. Dan Rarakitan Sunda lebih fokus pada permainan kata & pengulangan, bukan rima

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini