Mantan Dubes RI Ajak Publik Memahami Timur Tengah dalam Perspektif Indonesia

Sukabumiupdate.com
Senin 20 Jul 2026, 13:41 WIB
Mantan Dubes RI Ajak Publik Memahami Timur Tengah dalam Perspektif Indonesia

Dr. Wajid Fauzi, M.PM, mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Yaman (2012–2016) dan Suriah (2019–2025). (Sumber : Istimewa.)

SUKABUMIUPDATE.com - Dinamika konflik di Timur Tengah tidak dapat lagi dipandang sebagai persoalan kawasan yang jauh dari Indonesia. Perkembangan geopolitik di kawasan tersebut memiliki dampak langsung terhadap ketahanan energi, perdagangan internasional, perlindungan warga negara, hingga arah diplomasi Indonesia.

Pesan tersebut disampaikan Dr. Wajid Fauzi, M.PM, mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Yaman (2012–2016) dan Suriah (2019–2025), dalam Kuliah Umum bertajuk "Amerika, Konflik di Timur Tengah, dan Implikasi Strategis bagi Indonesia" yang diselenggarakan oleh Program Studi Pengkajian Amerika, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Senin (20/7).

Berbekal pengalaman lebih dari satu dekade menjalankan diplomasi Indonesia di kawasan konflik, Dr. Wajid mengajak mahasiswa melihat Timur Tengah secara lebih komprehensif. Menurutnya, konflik yang terjadi di kawasan tersebut tidak cukup dijelaskan oleh faktor agama ataupun perbedaan etnis, melainkan merupakan pertemuan berbagai kepentingan strategis yang melibatkan geografi, energi, perdagangan, keamanan, serta persaingan negara-negara besar.

Baca Juga: Kebakaran Lahan, Api Nyaris Merembet ke Gedung Dinas PU Sukabumi

"Timur Tengah bukan sekadar kawasan konflik, tetapi merupakan pusat geopolitik dunia tempat bertemunya kepentingan global," tegasnya.

Dalam paparannya, Dr. Wajid menjelaskan bahwa posisi strategis Timur Tengah ditentukan oleh tiga jalur pelayaran vital dunia, yakni Terusan Suez, Selat Hormuz, dan Selat Bab el-Mandeb. Gangguan terhadap salah satu jalur tersebut dapat memengaruhi rantai pasok global, meningkatkan biaya logistik, mengganggu distribusi energi, hingga mendorong kenaikan harga komoditas di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Ia kemudian menguraikan lima konflik utama yang saat ini membentuk konfigurasi geopolitik kawasan, yaitu konflik Palestina, perang Yaman, konflik Suriah, perang Sudan, serta rivalitas strategis Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Menurutnya, seluruh konflik tersebut saling berkaitan dan membentuk satu sistem keamanan regional yang memengaruhi stabilitas politik dan ekonomi dunia.

Baca Juga: Bangun Pagi Ditemani Kabut dan Udara Sejuk, Tempat Camping di Sukabumi Ini Belum Banyak yang Tahu

Mengenai keterlibatan Amerika Serikat, Dr. Wajid menjelaskan bahwa kepentingan Washington di Timur Tengah jauh melampaui persoalan minyak. Amerika, katanya, memiliki kepentingan menjaga keamanan Israel, menjamin kelancaran jalur perdagangan internasional, mempertahankan keseimbangan kekuatan kawasan, serta menjaga posisi strategisnya dalam tatanan global.

Lebih jauh, ia mengajak sivitas akademika untuk tidak melihat konflik internasional secara hitam putih. Menurutnya, isu-isu seperti demokrasi, hak asasi manusia, intervensi kemanusiaan, hingga penggunaan istilah "teroris" atau "pejuang kemerdekaan" kerap menjadi arena kontestasi narasi yang dipengaruhi kepentingan politik masing-masing aktor internasional. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis dan objektif dalam membaca dinamika hubungan internasional.

Dalam konteks Indonesia, Dr. Wajid menegaskan bahwa perkembangan di Timur Tengah memiliki implikasi strategis terhadap politik luar negeri, perlindungan warga negara Indonesia, ketahanan energi, keamanan jalur perdagangan, ketahanan pangan, hingga pembangunan industri pertahanan nasional.

Baca Juga: Anggaran Dipangkas, Perpusnas Bilang Distribusi Buku ke Daerah Kini Dihentikan

Karena itu, Indonesia perlu terus memperkuat politik luar negeri bebas dan aktif serta meningkatkan kapasitasnya sebagai bridge builder dan constructive middle power yang mampu menjembatani berbagai kepentingan dalam percaturan global.

Menutup kuliah umum, Dr. Wajid menyampaikan bahwa mempelajari Timur Tengah pada hakikatnya adalah mempelajari bagaimana dunia bekerja. Kompleksitas hubungan antara sejarah, geografi, kepentingan nasional, kekuatan politik, dan nilai-nilai kemanusiaan menjadi pelajaran penting bagi Indonesia dalam merumuskan kebijakan luar negeri yang adaptif, bijaksana, dan berorientasi pada kepentingan nasional.

"Indonesia, untuk saat ini, tidak perlu menjadi negara adidaya, tetapi memiliki peluang besar menjadi kekuatan menengah yang mampu membangun dialog, menjembatani perbedaan, dan berkontribusi bagi perdamaian dunia," pungkasnya.

Baca Juga: 20 Prompt Ai Video Hari Kebaya Nasional, Ada Konsep Kebaya Sunda Juga Lho

Kuliah umum berlangsung dalam suasana akademik yang dinamis. Mahasiswa dan dosen Program Studi Pengkajian Amerika FIB UGM aktif berdiskusi mengenai perkembangan terbaru di Timur Tengah, arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat, serta peluang Indonesia memainkan peran yang lebih besar dalam menjaga stabilitas kawasan dan perdamaian internasional.

 

Berita Terkait
Berita Terkini