Minggu 30 Agu 2026, 11:36 WIB

Onimah Bertahan di Tengah Reruntuhan Banjir Cidadap, Tak Punya Uang untuk Mengontrak Rumah

Hujan saat ini mungkin tak lagi turun setiap hari. Namun, bagi Onimah (26 tahun), suara rintik hujan yang berjatuhan tetap menyisakan kecemasan. Perempuan asal Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, itu terpaksa bertahan di tengah reruntuhan bangunan yang terdampak banjir bandang Sungai Cidadap pada 2025 silam.

Bukan karena tak ingin pindah. Onimah mengaku tak memiliki cukup uang untuk menyewa rumah. Penghasilan suaminya yang hanya sebagai kuli bangunan harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah dua anaknya.

Hampir dua tahun sejak banjir bandang Sungai Cidadap menerjang pada 2025 lalu, duka dan kecemasan masih membayangi warga Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Salah satunya Onimah (26), ibu dua anak yang terpaksa bertahan dan menumpang di rumah tetangga karena rumahnya hancur diterjang banjir. Penghasilan suaminya yang bekerja sebagai kuli bangunan hanya cukup untuk makan harian dan biaya sekolah anak, tanpa sanggup menyewa kontrakan. Setiap hujan turun, rasa cemas kembali datang hingga membuatnya selalu menyiapkan pakaian dan surat berharga dalam tas darurat.

Kondisi serupa dialami puluhan korban lainnya. Sebanyak 46 Kepala Keluarga (KK) di kawasan tersebut dilaporkan masih menghadapi ketidakpastian—bertahan di saung darurat, menumpang kerabat, hingga menanti kejelasan bantuan biaya sewa rumah senilai Rp10 juta yang sempat dijanjikan.

Warga pun menyampaikan keluhan dan aspirasi mereka melalui video terbuka kepada Gubernur Jawa Barat, berharap pemerintah tidak melupakan nasib penyintas bencana di Cidadap dan segera merealisasikan relokasi ke tempat yang lebih aman

Video Update