Era Donald Trump: 7 Negara Jadi Target Operasi Militer AS dalam Satu Tahun

Sukabumiupdate.com
Jumat 06 Mar 2026, 21:45 WIB
Era Donald Trump: 7 Negara Jadi Target Operasi Militer AS dalam Satu Tahun

Ilustrasi - Donald Trump dan Jejak Operasi Militer AS di 7 Negara dalam Setahun. (Sumber : AI/ChatGPT).

SUKABUMIUPDATE.com - Dalam kurun waktu sekitar satu tahun, sedikitnya tujuh negara menjadi target operasi militer Amerika Serikat. Negara-negara tersebut meliputi Iran, Venezuela, Nigeria, Somalia, Suriah, Yaman, dan Iraq. 

Namun sejak September 11 attacks pada 2001, Amerika Serikat terlibat dalam tiga perang besar dan melakukan operasi militer di sedikitnya 10 negara, mulai dari serangan drone hingga invasi.

Menurut laporan Al Jazeera, AS telah menghabiskan sekitar US$5,8 triliun untuk perang selama lebih dari dua dekade. Dengan rincian:

  • Departemen Pertahanan (DOD): $2,1 triliun
  • Departemen Keamanan Dalam Negeri: $1,1 triliun
  • Peningkatan Anggaran Dasar DOD: $884 miliar
  • Perawatan Medis Veteran: $465 miliar
  • Pembayaran Bunga Pinjaman Perang: $1 triliun

Belum lagi ke depan, AS diperkirakan masih harus menyiapkan sekitar US$2,2 triliun lagi untuk perawatan veteran selama 30 tahun mendatang.

Jika digabung, total biaya perang AS sejak 2001 diperkirakan mencapai US$8 triliun atau setara Rp135,82 kuadriliun rupiah.

Dalam laporan yang sama, disebutkan sejumlah negara yang menjadi target operasi militer AS pada masa pemerintahan Donald Trump periode 2025–2026.

1. Iran

Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer ke Iran yang menargetkan Ali Khamenei serta dugaan perkembangan infrastruktur nuklir dan rudal.

Serangan ini menandai fase baru yang jauh lebih eskalatif dibandingkan operasi Juni 2025, dengan dampak strategis yang lebih luas. Rangkaian operasi militer ini menunjukkan kebijakan luar negeri Washington di bawah Donald Trump kembali memasuki fase agresif dengan risiko eskalasi tinggi.

2. Venezuela dan Laut Karibia

Pada Desember 2025, Amerika Serikat melakukan serangan terhadap fasilitas dermaga di Venezuela dan menyita kapal tanker minyak di Laut Karibia sebagai bagian dari operasi yang diklaim untuk memerangi penyelundupan narkoba.

Pemerintahan Donald Trump juga meningkatkan kehadiran militer terbesar di kawasan tersebut dalam beberapa dekade dan menargetkan kapal tanker yang disebut sebagai “armada bayangan” penyelundup minyak Venezuela.

Langkah ini meningkatkan ketegangan dengan pemerintahan Presiden Nicolás Maduro, yang menilai tindakan AS sebagai upaya menekan ekonomi dan mendorong perubahan pemerintahan di Venezuela.

3. Nigeria

Desember 2025, Amerika Serikat melancarkan serangan militer di Negara Bagian Sokoto, Nigeria, yang menargetkan kelompok yang diklaim berafiliasi dengan Islamic State ISIL (ISIS) di Negara Bagian Sokoto, Nigeria Barat Laut.

Serangan pada Hari Natal itu terjadi setelah pemerintahan Donald Trump menuduh pemerintah Nigeria gagal melindungi umat Kristen dari kekerasan. Namun pemerintah Nigeria membantah adanya genosida dan menyatakan bahwa konflik bersenjata di negara itu berdampak pada komunitas Muslim maupun Kristen.

4. Somalia

Amerika Serikat sepanjang 2025 telah meningkatkan serangan udara di Somalia yang menargetkan kelompok Al-Shabaab dan Islamic State cabang Somalia.

Tercatat sedikitnya 111 serangan sepanjang tahun, jumlah yang disebut melampaui total serangan pada era George W. Bush, Barack Obama, dan Joe Biden jika digabung.

Meski menargetkan kelompok bersenjata, laporan investigasi juga menyebut adanya korban warga sipil, termasuk anak-anak, dalam beberapa serangan.

5. Suriah

Pada 19 Desember 2025, Amerika Serikat menyerang sekitar 70 posisi Islamic State di Syria sebagai balasan atas penembakan di Palmyra yang menewaskan dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil.

Operasi yang diberi nama “Hawkeye” itu menargetkan fasilitas penyimpanan senjata ISIS, sementara Donald Trump menyebut serangan tersebut sebagai pembalasan serius terhadap para pelaku.

6. Yaman

Maret 2025, Amerika Serikat meningkatkan serangan udara dan laut terhadap kelompok Houthi di Yaman dalam operasi bernama Rough Rider. Serangan dilakukan sebagai balasan atas aksi Houthi terhadap kapal yang terkait dengan Israel di Laut Merah.

Operasi ini menewaskan puluhan orang dan merusak berbagai infrastruktur penting. Serangan akhirnya dihentikan pada 6 Mei 2025 setelah gencatan senjata yang dimediasi oleh Oman.

7. Irak

13 Maret 2025, Amerika Serikat melancarkan serangan udara di Provinsi Al-Anbar, Iraq, yang menewaskan seorang pemimpin senior Islamic State, Abdallah “Abu Khadijah” al-Rifai. Trump kemudian memuji operasi tersebut sebagai keberhasilan melumpuhkan pemimpin buronan ISIS di Irak.

Serangan dilakukan bersama intelijen Irak dan kematian target dikonfirmasi melalui tes DNA. Donald Trump kemudian memuji operasi tersebut sebagai keberhasilan melumpuhkan pemimpin buronan ISIS di Irak.

 

Berita Terkait
Berita Terkini