SUKABUMIUPDATE.com - Profesor Jiang, analis geopolitik yang dikenal melalui kanal YouTube Predictive History, kembali menegaskan prediksinya bahwa Amerika Serikat akan kalah dalam perang melawan Iran. Pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara di kanal YouTube Breaking Points yang dipandu Krystal Ball dan Saagar Enjeti.
Dalam program tersebut, Krystal Ball mengingatkan bahwa pada 2024 lalu Profesor Jiang membuat tiga prediksi besar. “Pertama, Trump akan menang. Kedua, ia akan memulai perang dengan Iran. Dan ketiga, Amerika Serikat akan kalah dalam perang tersebut,” ujar Krystal.
Sebelumnya, dalam video di kanal Predictive History, Jiang menyatakan, “Dalam kelas saya semester ini, saya membuat tiga prediksi besar. Pertama, Trump akan menang pada bulan November. Kedua, Amerika Serikat akan berperang melawan Iran. Dan prediksi besar ketiga adalah Amerika Serikat akan kalah dalam perang ini, yang akan selamanya mengubah tatanan global.”
Saat ditanya apakah ia masih berpegang pada prediksi tersebut, Jiang menjawab tegas bahwa berdasarkan analisanya, Iran memiliki lebih banyak keunggulan dibanding Amerika Serikat.
Perang Atrisi dan Persiapan 20 Tahun Iran
Menurut Jiang, konflik yang terjadi saat ini merupakan perang atrisi atau perang pengurasan sumber daya. Ia menilai Iran telah mempersiapkan konflik ini selama 20 tahun, baik dari sisi militer maupun ideologis. Dalam pandangan Iran, konflik ini diposisikan sebagai perang melawan “Setan Besar”.
Ia juga menyinggung perang 12 hari pada Juni lalu, yang disebutnya sebagai momen bagi Iran untuk menganalisis kapasitas serangan Israel dan Amerika. Delapan bulan setelahnya, Iran disebut memiliki waktu cukup untuk mempersiapkan serangan lanjutan.
Melalui kelompok proksi seperti Houthi, Hezbollah, Hamas, dan milisi Syiah, Iran dinilai telah memahami strategi dan mentalitas Amerika. Jiang menilai strategi Iran bukan sekadar menyerang satu negara, melainkan mengguncang ekonomi global.
Target Infrastruktur dan Ancaman ke Negara Teluk
Jiang menyebut Iran menargetkan negara-negara GCC (Dewan Kerja Sama Teluk), termasuk pangkalan militer Amerika dan infrastruktur energi vital. Ia mengatakan Iran berpotensi menyerang fasilitas desalinasi air, yang menyuplai sekitar 60 persen kebutuhan air kawasan tersebut.
Ia memberi contoh, jika drone seharga 50 ribu dolar menghancurkan satu fasilitas desalinasi di Riyadh, kota berpenduduk 10 juta jiwa itu bisa kehabisan air dalam dua pekan. Jiang juga mengklaim Iran secara de facto telah menutup Selat Hormuz, jalur yang memasok 90 persen kebutuhan pangan negara-negara GCC.
Menurutnya, situasi ini bukan hanya mengancam ekonomi global, tetapi juga keberlangsungan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Qatar. Negara-negara Teluk disebutnya sebagai kunci ekonomi Amerika karena sistem petrodolar, yakni hasil penjualan minyak yang diinvestasikan kembali ke pasar Amerika.
Ia juga menyinggung investasi besar negara Teluk dalam sektor kecerdasan buatan (AI) dan pusat data di Amerika. Jika aliran dana itu terhenti akibat konflik, Jiang memperingatkan potensi pecahnya “gelembung AI” yang dapat mengguncang ekonomi Amerika secara luas.
Asimetri Biaya dan Krisis Amunisi
Saagar Enjeti dalam wawancara tersebut menyoroti persoalan amunisi dan sistem pertahanan udara. Ia menyebut adanya video yang menunjukkan satu rudal balistik Iran ditargetkan oleh 11 rudal pencegat, sebagian besar buatan Amerika, namun gagal menghentikannya.
Ia juga menyoroti asimetri biaya, di mana rudal bernilai jutaan dolar digunakan untuk menembak drone seharga puluhan ribu dolar. Jiang menilai strategi militer Amerika tidak dirancang untuk perang abad ke-21.
Menurutnya, kompleks industri militer Amerika yang dibangun pasca-Perang Dunia II berorientasi pada Perang Dingin, dengan fokus pada teknologi canggih dan mahal. Model tersebut dinilai tidak berkelanjutan dalam menghadapi perang modern yang lebih asimetris.
Ia menilai konflik ini menandai runtuhnya aura superioritas militer Amerika pasca-runtuhnya Uni Soviet. Bukan hanya sistem petrodolar yang terancam, tetapi juga dominasi global Amerika. Jiang menyebut dunia sedang bergerak menuju tatanan multipolar.
Potensi AS Mengirim Pasukan Darat
Krystal Ball juga menyinggung pernyataan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang tidak menutup kemungkinan pengerahan pasukan darat ke Iran. Menurut Jiang, perubahan rezim tidak pernah berhasil dicapai hanya melalui serangan udara.
“Semua orang mengatakan bahwa bencana terburuk bagi Amerika adalah jika mereka mengirim pasukan darat ke Iran. Namun di saat yang sama, Amerika berkomitmen pada perubahan rezim di Iran. Dalam sejarah, belum pernah ada presiden yang berhasil mengganti rezim hanya dari udara, dibutuhkan pasukan darat, kata Jiang.
Ia memperkirakan tekanan terhadap Amerika untuk mengirim pasukan darat akan meningkat, terutama dari negara-negara GCC seperti Arab Saudi, Qatar, dan UEA dan Israel. Jika negara-negara Teluk runtuh, sistem petrodolar juga bisa ikut runtuh.
Jiang menyebut negara-negara Teluk bisa menuntut Amerika membayar kompensasi besar kepada Iran yang ia sebut bisa mencapai 5 triliun dolar atau mengirim pasukan darat untuk mengakhiri ancaman tersebut.
Meski mengakui mayoritas rakyat Amerika menolak pengerahan pasukan darat, ia mengingatkan bahwa 78 persen warga Amerika sebelumnya juga menentang serangan awal terhadap Iran.
Di akhir wawancara, Jiang tetap pada kesimpulannya: konflik ini berpotensi mengubah tatanan global secara permanen dan mempercepat pergeseran kekuatan dunia dari dominasi tunggal menuju sistem multipolar.





