SUKABUMIUPDATE.com – Butuh perjuangan untuk akses layanan kesehatan bagi warga Kampung Cidahu, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi. Akibat infrastruktur jalan yang rusak parah dan tidak dapat dilalui kendaraan roda empat, warga harus berjibaku menandu pasien yang sakit demi mendapatkan pertolongan medis.
Seperti yang terjadi hari ini Sabtu (25/04/2026), seorang warga yang sakit parah terpaksa ditandu memakai kain sarung dan bambu oleh warga juga keluarga sejauh kurang lebih 1 kilometer dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Setelah sampai di titik yang memungkinkan kendaraan masuk, pasien baru bisa dijemput ambulans desa untuk kemudian dibawa ke Rumah Sakit Al Mulk, Kota Sukabumi.
Den Galih (25 tahun), warga setempat, mengatakan kondisi seperti ini bukanlah hal baru bagi masyarakat Kampung Cidahu. Setiap kali ada warga yang sakit parah, proses evakuasi selalu dilakukan dengan cara ditandu karena ambulans tidak bisa masuk ke permukiman warga.
Baca Juga: Saluran Drainase di KNMP Palangpang Mampet: Pedagang Ikan Ngeluh, Picu Bau Anyir
“Memang setiap kali ada warga yang sakit parah harus ditandu dulu, karena ambulans tidak bisa masuk. Jalan rusaknya parah sekali, mobil tidak bisa lewat,” ujar Den Galih kepada Sukabumiupdate.com, Sabtu (25/4/2026).
Menurutnya, ruas jalan kabupaten yang menjadi penghubung Desa Tanjungsari dengan Desa Bojongtipar mengalami kerusakan hampir sepanjang 10 kilometer. Ironisnya, dari panjang jalan tersebut, hanya sekitar 200 meter yang sempat diaspal, itupun kondisinya kembali rusak meski belum genap tiga bulan.
“Rusaknya hampir 10 kilometer. Yang diaspal cuma sekitar 200 meter, itu juga belum tiga bulan sudah rusak lagi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, khusus di wilayah Kampung Cidahu, jalan bahkan belum pernah tersentuh aspal sama sekali. Kondisinya hanya berupa bebatuan, tanah, dan berubah menjadi lumpur licin saat musim hujan tiba.
Baca Juga: Akui Sejumlah Perizinan Belum Lengkap, Humas PT Agri Panen Lestari Sukabumi: Diproses
“Dari lokasi kejadian di Kampung Cidahu ini belum pernah tersentuh aspal sedikit pun. Kalau hujan jadi lumpur, kalau kemarau berdebu dan penuh batu,” katanya.
Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan warga saat membawa pasien sakit, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga mobilitas sehari-hari masyarakat.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan memperbaiki ruas jalan tersebut agar akses kesehatan dan aktivitas masyarakat tidak terus terhambat. Mereka menilai, infrastruktur jalan yang layak bukan lagi kebutuhan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak yang menyangkut keselamatan dan nyawa warga.
Bagi masyarakat Cidahu, setiap tandu yang dipikul bukan hanya membawa pasien, tetapi juga menjadi simbol panjangnya perjuangan mereka menanti jalan yang layak.
Baca Juga: Solar Langka di Sejumlah SPBU Sukabumi: Sopir Pajampangan Ngeluh, Terpaksa Beli Dexlite
Sementara itu, Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) UPTD PU Jampangtengah, Robi Ferdian, menyampaikan bahwa pada tahun ini akan dilaksanakan pembangunan dua paket pekerjaan rekonstruksi dan rehabilitasi jalan. Namun, berdasarkan kesepakatan antara pemerintah desa dan pemerintah kecamatan, pembangunan akan dimulai dari titik nol.
Hal tersebut dilakukan agar pengerjaan dapat berkelanjutan. Ke depan, ruas Leuwi Liang–Bojongtipar akan diusulkan untuk mendapatkan anggaran dari pemerintah provinsi maupun pusat, melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) atau Bantuan Provinsi (Banprov). Dimana penanganan jalan tersebut akan dilakukan secara bertahap.






